
Kembali lagi ke apartemen Maura.
Dewi Srikandi masih merasuki tubuh Maura, dia juga memberi banyak titah dan petuah kepada Bik Marni dan Gerald.
Sedangkan Camelia badannya terikat dan dimasukkan paksa ketubuh Gerald.
Di alam bawah sadar Maura.
Dia kembali lagi ke hutan Pinus itu. Entah kenapa dia selalu muncul di hutan tersebut, dia setengah sadar kalau dia berada di alam mimpi atau di alam lain, entahlah.
Dia menyusuri jalan setapak itu sampai ditengah hutan, dan mengingat kalau di sana tidak terlalu jauh dengan danau. Dia turun menyusuri jalan kebawah, dan benar saja ada danau di sana.
Dia melihat ada Camelia ditengah jembatan penghubung danau dan taman bunga di seberangnya.
Wajah Camelia nampak pucat sekali,tak ada senyuman di sana, yang seperti dia lakukan kalau tiap bertemu Maura.
"Hai Camelia, kenapa kau diam disitu! kemarilah." Teriak Maura di seberangnya.
Camelia masih diam mematung sambil menatap tajam kearah Maura.
Melihat ada yang aneh dengan situasi itu, Maura memutuskan meninggalkannya dan terus berjalan menyusuri jalan setapak itu.
Hingga dia sampai diujung jalan, didepannya ada danau cukup luas dibanding danau sebelumnya, airnya sangat jernih biru kehijauan. Airnya berkilau diterpa sinar bulan, ditambah beberapa bunga teratai yang tumbuh di danau itu.
Maura terpesona melihat pemandangan yang cantik itu, lalu di tengah danau juga ada jembatan penghubung antara danau dan bangunan besar dihadapannya.
Bangunan itu nampak megah sekali seperti istana,warna merah keemasan yang mendominasi, bunga-bunga cantik bermekaran disekelilingnya,atap bangunan besar itu berbentuk gapura dengan berbagai corak ukiran di tiang, atap serta disisi bangunan lainnya.
seperti ada magnet, Maura bergerak maju meniti jembatan itu. Dia terpesona,dengan indahnya bangunan tersebut.
"Jangan kesana, itu jebakan Maura." Tiba-tiba Camelia sudah dibelakangnya.
Maura kaget dengan kehadiran Camelia yang datang begitu saja.
"Kenapa aku tak boleh kesana, jebakan? jebakan apa..??" Tanya Maura penasaran.
Camelia tidak menjawab, dia terus berjalan kearah Maura, tatapannya kembali aneh. Maura merasa ada yang janggal, dia menghindari Camelia dengan terus berjalan mundur.
Setibanya mereka ditengah jembatan itu, Maura seperti terhisap kedalam dinding transparan. Ada penghalang antara dia dan Camelia.
Camelia mencoba mendekati Maura tapi tak bisa, dia terus mencoba mendobrak dinding tak terlihat itu, tapi tak bisa. Dia terlihat histeris, berteriak karena tak bisa mendekati Maura.
Sedangkan Maura begitu kaget melihat keadaan Camelia, dia tidak menyangka Camelia bisa berubah seperti itu dan tidak seperti biasanya.
"Tuan Putri, kemarilah.." ada suara dibelakangnya.
Maura menoleh kebelakang,dia melihat ada beberapa orang di sana. Salah satunya seorang pria tua memakai songket dengan tali pinggang keemasan dengan berbagai perhiasan melilit tubuhnya. Dia juga memakai songko kerucut di kepalanya.
"Kalian siapa..?" tanya Maura heran.
"Kami adalah abdi kesultanan yang ada di dunia ini Tuanku.." kata orang sambil membungkuk hormat dan diiringi yang lainnya.
Dan jangan panggil aku tuan putri, aku merasa canggung sekali. Karena aku bukan putri raja." Kata Maura.
Orang itu hanya tersenyum, lalu dia meminta para dayang menuntun Maura untuk ikut mereka.
Tak ada perlawanan darinya, karena percuma saja dia kalah jumlah dengan mereka. Ada puluhan prajurit memakai pakaian serba keemasan di sana ikut mengawal mereka.
Saat masuk kedalam bangunan Istana itu, mata Maura silau melihat kemegahan isinya, berbagai ornamen, barang, lantai hingga dinding dan atapnya terbuat dari emas. Sebagian lantainya tertutup karpet beludru warna merah, sangat kontras sekali warnanya dengan lantai yang keemasan itu.
Maura menatap takjub atas kemegahan istana itu, seumur hidup baru kali ini dia melihat bangunan mewah itu, dia berhenti ditengah bangunan itu. Dimana diatasnya tergantung lampu berhiaskan kristal-kristal indah.
"Selamat datang Tuan Putriku, sang dewi Srikandi. Putri Dadar bulan.." ujar seorang pria yang muncul dibalik kursi tahta yang begitu besar itu.
Pria itu bertubuh tegap gagah perkasa, terlihat jelas d*da bidang dan roti sobek nya. Kulit putih,memiliki bentuk wajah tegas, hidung mancung, alis tebal serta bibir nya sedikit tebal. Begitu gambaran pria sempurna dimata Maura.
Dia takjub tak berkedip melihat pria itu, dia tak pernah melihat pria tampan selain Kevin dimatanya. Kali ini berbeda, setelah Kevin ada orang lain yang lebih tampan darinya. Jantungnya berdegup kencang tak kala pria itu mendekatinya, pria itu tersenyum manis, hati Maura berkecamuk tak karuan.
"Putri, sudah lama sekali. Aku merindukanmu.." kata pria itu.
"Emm,ma-maaf.. Sepertinya kamu salah orang, aku bukan dia yang kamu maksud." Kata Maura berusaha tenang, meskipun jantungnya berdetak kencang.
"Aku tahu, kamu bukan dia. Maafkan aku, kamu sangat mirip dengannya." Kata pria itu tersenyum getir.
"Kau tak salah Balaputradewa, dia memang titisan dewi srikandi. Tidak heran wajahnya begitu mirip, hanya kelakuannya aja yang beda." Kata seseorang yang baru muncul.
Dia seorang perempuan, begitu cantik dengan kain songket dipadu dengan kemben merahnya, ada selendang warna keemasan melingkar dipinggangnya. Rambutnya disanggul dipadukan dengan mahkota di kepalanya dan berbagai perhiasan ditubuhnya. Begitu cantik dan anggun sekali.
Perempuan itu berdiri disamping pria tadi, mereka nampak serasi sekali, yang satu cantik dan satunya tampan.
"Apakah kau cemburu melihat kedekatan kami?" tanya perempuan itu.
Maura kaget sekali mendengar ucapannya tadi, sedangkan pria itu hanya tersenyum malu.
"Dia adikku, Maharaja Balaputradewa. Dia raja dari kerajaan Sriwijaya, dan kau dewi adalah kekasihnya.." kata perempuan itu.
"Apa maksudmu, Raja Bala-Bala..? Akh, aku tak mengerti tolong dijelaskan lebih rinci..?" tanya Maura penasaran.
"Dengarkan aku baik-baik, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi sebelum itu, istirahatlah dulu kau datang dari jauh. Kami harus melayani dan menjamu mu dengan baik, kami tak ingin tamu istimewa kami ini kelelahan." Katanya sambil tersenyum.
"Tapi sebelumnya,katakan padaku.. Kalian siapa dan dimana aku sekarang? Apakah ini nyata apa hanya mimpi?" tanya Maura.
"Kamu sekarang berada Kerajaan Sriwijaya, tentunya ini adalah kerajaan bayangan, karena di masa mu, kerajaan ini sudah tak ada. Soal siapa kami dan lainnya nanti aku ceritakan, dan ini bukan mimpi dan bukan juga nyata. Jika ini nyata beneran, mungkin kau sudah mati." Ucap perempuan itu berlalu pergi sambil diiringi para dayang-dayangnya.
Maura diam terpaku mendengar penjelasan perempuan tadi, apa maksudnya? Sedangkan pria tampan tadi masih menatapnya dengan pandangan sendu.
......................
Bersambung