RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season : ( PNS ) Akhir Dari Sang Tetangga Misterius


"Kau yang memulai, Dewi.." ucap iblis itu sambil bersiaga.


"Tidak, aku datang karena undangan dari kalian. Jika aku menghadapi kalian seperti ini, itu berarti kalian sudah melewati batas!" sahut Dewi Srikandi alias Maura.


Mereka memulai pertarungan hebat itu di alam dunia gaib, pertarungan itu melibatkan dua dunia, saat pertarungan itu terjadi langit seolah ikut murka, malam itu jauh lebih dingin dan sunyi dan tiba-tiba suara guntur menggelegar dengan kilat saling bersahutan.


Glegaaar!!


Ctaaar!!


Suara guntur dan kilat saling beradu, orang-orang yang tertidur nyenyak sampai terbangun saking kencangnya, bahkan mereka begitu ketakutan, setiap guntur menggelegar bumi ikut bergetar seolah terjadi gempa.


"Ada apa ini?" Ardian terbangun dari tidurnya terlonjak kaget.


Dia melihat ke sampingnya ternyata Angga sudah bangun sejak tadi, tapi anehnya dia duduk bersila sambil memejamkan matanya, Ardian diam menunggunya sampai selesai, dia tau Angga sedang berkomunikasi dengan jin pelindungnya.


"Ada masalah, sepertinya kita harus bergerak cepat. Tidak ada waktu lagi, dan jangan menunda lebih lama lagi.." ucap Angga setelah membuka matanya.


"Maksud kakak apa? Aku tau ini bukan fenomena alam biasa, tapi apa yang membuat kakak nampak begitu khawatir?" tanya Ardian bingung.


"Kau tau, nenekku sudah bergerak dengan para pengikutnya. Mereka sudah mengetahui jika Maura masih hidup dan kalian berada di kota ini, dia dan para pengikutnya mungkin tak bisa mendekati kalian langsung, tapi..


Mereka akan mendekati orang-orang terdekat kalian, dengan begitu lebih mudah memprovokasi kalian, berhati-hatilah.. Musuh sudah didepan mata, sepertinya aku dan Dhania sudah tepat datang kesini..." ucap Angga.


Dia berdiri dan berjalan menuju jendela kamar mereka, dia sedikit membuka gordennya dan melihat ada sosok bayangan hitam mengintip dari celah pohon yang berada didepan bangunan tempat mereka tinggal itu.


"Dan ternyata firasatku benar.." ucap Angga lagi.


Mendengar ucapan Angga itu, Ardian pun turun dari kasurnya dan menghampirinya, dia juga melihat sosok itu, sadar dirinya ketahuan sosok itu langsung menghilang begitu saja, Ardian dan Angga nampak begitu khawatir, mereka mengkhawatirkan orang-orang disekitarnya.


Sementara itu, di alam gaib pertarungan antara Dewi Srikandi melawan iblis itu nampak seimbang, tapi Dewi Srikandi tak pernah menyerah dia terus memojokkan Iblis itu, beberapa kali iblis itu terus mengumpat karena tak bisa membalas Dewi Srikandi.


"Sebaiknya kau menyerah saja, dan katakan pada tuanmu untuk tidak mengganggu bu Hayati dan orang lain lagi! Pergilah sejauh mungkin, jika suatu saat nanti aku bertemu lagi dengannya maka aku akan menghancurkan iblis itu!" ucap Dewi Srikandi dan tanpa banyak mengulur waktu dia langsung menebas leher iblis itu dengan kondenya yang sudah berubah menjadi pedang panjang.


Craaasss!


"Aaakkh! Tidakk!!" teriak Iblis itu.


"Dan ketahuilah, kau tidak akan pernah bangkit lagi setelah ini. Ikutlah dengan mereka dan jalani hukumanmu sebelum menuju neraka abadi, tempat asalmu!" ucap Dewi Srikandi lagi dengan tatapan tajam.


Iblis itu tak bisa menyatukan kembali kepalanya ke tubuhnya kembali, para prajurit Dewi Srikandi tanpa menunggu lama langsung membawa tubuh iblis itu beserta kepalanya menuju kerajaan bayangan untuk menjalani hukumannya.


Dan di dunia manusia, seorang manusia penganut ilmu hitam sedang memuntahkan darah dari mulutnya. Darah bercampur lendir hitam yang beraroma sangat busuk, nenek tua itu nampak murka, takut dan khawatir setelah beberapa makhluk kirimannya tertangkap semua, ditambah lagi iblis kepercayaannya telah kalah dalam pertarungan itu.


"A-aku harus bagaimana? Sebaiknya aku menghubunginya, aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Kalau aku menundanya lebih lama lagi, bisa-bisa kepalaku yang akan terpenggal juga!!" ucap nenek tua itu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Nenek, apa kau ada didalam?" terdengar suara cucu perempuan nenek itu.


Krieett!!


Suara pintu kamar itu terbuka, cucu perempuan nenek itu masuk kedalam tanpa menunggu sahutan sang nenek, dia melihat kamar itu gelap gulita hanya diterangi oleh beberapa cahaya lilin yang dipasang melingkar.


Kesan mistis begitu kental, sang nenek duduk didalam lingkaran itu tanpa sehelai benangpun, dia hanya memakai jubah hitam transparan dengan tudung kepalanya. Kembang tujuh rupa bertebaran dilantai kamar itu, ada dupa yang menyala dan didepannya ada beberapa patung kecil dihadapan sang nenek.


"Apa aku datang pada waktu yang salah? Sepertinya nenek sedang bersemedi, padahal aku ingin menagih janjinya untuk membantuku untuk memikat lelaki itu.." guma gadis itu.


Sang nenek ternyata sedang meraga sukma dan sedang melakukan komunikasi gaib dengan saudaranya, dan saudaranya itu juga gurunya sang nenek.


Gadis itu hendak keluar dari kamar itu dan melangkah keluar, tiba-tiba ada beberapa bayangan hitam keluar dari patung-patung kecil itu dan masuk kedalam tubuh gadis itu.


Tubuh gadis itu tersentak saat dirasuki dalam bersamaan, dia langsung memuntahkan darahnya saking besarnya energi yang merasukinya.


Setelah itu bolah matanya hitam sempurna, senyum seringai menakutkan menghiasi wajahnya, dia menoleh kebelakang dan tertawa cekikikan saat melihat sang nenek masih bertapa.


"Kau sudah kosong nenek tua, penjaga terkuatmu sudah mati! Kau tak bisa mengurung kami lebih lama lagi disini, kau juga tak bisa menahan kami karena kau sendiri tak memiliki kekuatan apa-apa lagi!" ucap gadis itu, dan tentu saja itu merupakan suara para makhluk yang merasukinya.


Dia melayang cukup tinggi, angin kencang bertiup diseputaran kamar itu, makhluk itu menatap penuh kebencian kepada nenek tua itu. Dia melayang berlahan mendekatinya.


"Kenapa kau datang menemuiku, saudariku?" seorang nenek tua berambut panjang putih semua sedang berdiri dihadapan wanita tua itu.


"Aku dalam masalah, misiku gagal! Semua makhluk peliharaanku tertangkap dan musnah semua, bahkan iblis pelindungku pun tak luput dari serangan!" ucap wanita tua itu.


"Kau yang bodoh, terlalu gegabah! Selalu menganggap remeh lawanmu, bagaimana bisa kau bisa kalah?! Bukankah kau bilang jika orang itu hanya hidup sendirian, bahkan dia hanya memiliki anak-anak muda lemah saja dirumahnya, bagaimana bisa dia mengalahkanmu? Apa dukunnya lebih sakti darimu? Atau dia memanggil seorang Kyai?!" tanya nenek tua berambut putih itu.


"Dia memiliki dukun yang cukup kuat, tapi tak seberapa kuat jika dibandingkan denganku! Tapi entah bagaimana bisa tiba-tiba segerombolan prajurit jin datang membantunya, semua makhluk kirimanku musnah tak bersisah!" ucap wanita tua itu ikut murka dan marah.


"Apa ada yang aneh dengan mereka? Apa kau tak menyelidikinya lagi sebelum berperang?" tanya nenek berambut putih.


"Ada, seorang gadis muda biasa. Tapi dia sedikit menonjol dibandingkan dengan yang lain, dia memiliki aura yang lebih terang dan aroma darahnya begitu wangi, wangi yang tak biasa.." ucap wanita tua itu mencoba mengingat lagi tentang Maura.


"Apa kau bilang??!" nenek berambut putih itu nampak terkejut dan langsung mendekati saudarinya itu.


"Kau bilang seorang gadis? Anak muda? Memiliki aura lebih terang dan tubuhnya begitu wangi?? Apakah itu Maura, cucuku??" tanya nenek berambut putih itu.


"Iya, aku baru ingat! Salah satu makhluk kirimanku yang aku tugaskan mengintai rumah itu sebelum menyerangnya pernah berkata jika gadis itu bernama Maura, tunggu dulu.. Kakak bilang dia adalah cucumu?? Apakah dia anaknya Irwan yang disembunyikan itu? Benarkah? Celakalah kita!!" ucap wanita tua itu tambah khawatir.


"Sebaiknya kau urus dirimu dulu, urusan dia adalah bagianku! Setidaknya aku sudah tau keberadaannya, hahahaha!" nenek berambut putih itu tertawa terbahak-bahak sambil berlahan menghilang.


Wanita tua itu menghembuskan nafasnya berlahan dan membuka mata pelan-pelan, dia terkejut saat ini posisinya tidak sama lagi seperti tadi. Kini tubuhnya terikat kuat dengan tali dan didudukan diatas kursi.


Dia melihat cucunya sedang memegangi pisau sambil menyayati tubuhnya berlahan, darah segar mengucur dari tubuh gadis itu. Dan anehnya gadis itu tidak merasakan kesakitan, justru dia tertawa senang sambil menatap neneknya dengan tatapan penuh benci.


"Gadisku, cucuku sayang! Apa yang kau lakukan, hentikan! Dan apa ini, kenapa nenek kau ikat?!" tanya wanita tua itu, dia masih belum banyak mengerti.


"Aku marah sama nenek, kau melupakan janjimu padaku! Katanya kau akan membagikan ilmumu untuk aku pergunakan memikat lelaki itu!" ucap gadis itu, dia memanfaatkan emosi gadis itu untuk menyerang wanita tua itu.


"Kau salah faham, nenek hanya butuh waktu sebentar saja, karena nenek sedang melakukan sesuatu yang penting!" jawab nenek tua itu.


"Sepenting apa sehingga melupakan aku?!" tanya makhluk yang merasuki cucunya itu, dia senang bisa mengelabui wanita tua ini.


"A-aku hampir selesai, cepat lepaskan nenek dan hentikan kegilaanmu itu!" ucap sang nenek.


"Hihihi, wanita tua bangka yang bodoh! Kau sekarang memang benar-benar lemah, kau bahkan tak mengetahui situasi macam apa ini!" ucap makhluk itu, kali ini dia menggunakan suara berat dan serak mengerikan.


"Ka-kau bukan cucuku?! Siapa kau?! Berani-beraninya kau datang dan merasuki cucuku! Apa kau tau aku ini siapa?! Kau bisa kuhanguskan dalam sekejap!" ancam nenek tua itu.


"Haha! Melepaskan diri dari ikatan itu saja kau tak bisa, bagaimana bisa kau menolong cucumu ini apalagi ingin menghancurkan diriku! Kau itu tak lebih dari cangkang kosong, wanita tua! Tak ada lagi pengawal yang menjagamu, bahkan iblis yang selalu bersamamu itu pun sudah musnah, dan kini kami sudah terbebas sepenuhnya!


Hahaha! Kau tak bisa membelenggu kami lebih lama lagi, karena tak ada iblis itu yang membantumu, sebelum kami pergi, kami akan membalaskan dendam kami terlebih dahulu!" ucap si makhluk yang merasuki si cucu.


Gadis itu terbang melayang seolah sedang menari, dia bersenandung dengan lagu mengerikan. Entah sejak kapan ada jerigen plastik yang berisi bensin penuh didalamnya berada ditangan gadis itu.


"Tidak, tidak! Hentikan! Aku mohon hentikan!" teriak nenek tua itu ketakutan.


Bagaimana tidak, cucunya sendiri ingin menghancurkan semua hasil jerih payahnya, makhluk itu berhasil membuat gadis itu menuangkan semua bensin didalam kamar itu, bahkan sebelumnya seisi rumah sudah penuh dengan tumpahan bensin.


Blaaam!!


Api dari lilin yang menyala langsung menyambar bensin itu, apalagi kamar itu semuanya tertutup tirai tebal dan semakin memudahkan api untuk melahap seisi kamar itu, termasuk penghuninya.


"Inilah akibatnya bagi manusia yang bersekutu dengan iblis, tidak ada yang abadi apalagi kekal! Kami ini adalah korban dari keserakahanmu, dan balas dendam kami sudah terpenuhi, mari kita pergi ke neraka bersama, nenek tua!" ucap para makhluk itu.


Mereka sudah keluar dari tubuh gadis itu, sedangkan gadis itu setelah sadar dari pingsannya begitu terkejut dia sudah dikelilingi oleh api besar.


"Nenek, nenek! Tidak, tolong aku!" teriak gadis itu.


"Pergilah ke neraka bersama kami, gadis kecil! Kau pun pantas diperlakukan seperti itu, karena kau pun sama jahatnya dengan nenekmu itu!" ucap para arwah itu.


Wanita tua itu baru menyadari jika para makhluk itu merupakan para arwah yang dia tahan didalam patung-patung kecil itu.


Mereka semua adalah para korban tumbal si nenek itu untuk menambahkan kekuatannya dan kekayaannya agar terus abadi, dan sayangnya itu tidak pernah terjadi selamanya.


"Kurang ajar kalian, ggraaaarrhh!!" nenek tua itu sangat murka.


Tapi sayang dia tak bisa melawan apalagi membalas mereka, tubuhnya dan sang cucu sudah hangus terbakar, meleleh bersama dengan semua barang-barang klenik didalam kamar itu.


...----------------...


Bersambung