
"Kalian pasti sudah tahu mengenai aku, bukan?" tanya Arga menatap kearah Maura dan Ardian secara bergantian.
Maura hanya diam saja sambil menatapnya sedangkan Ardian nampak bingung, dia melihat kearah Maura dan gadis itu nampak biasa' saja.
"Katakan saja, jangan membuat aku bingung. Maura, apa kau tau sesuatu tentangnya?" tanya Ardian sambil menatap gadis itu curiga.
"Iya, dia hanyalah makhluk dengan kekuatan tinggi tapi memiliki IQ rendah, alias bodoh!" jawab Maura enteng.
"Apa katamu, bodoh?! Hei!" Arga tak terima dikatakan bodoh oleh Maura.
"Tenanglah, bro! Jujur, aku tak mengerti apa yang kau tanyakan tadi, bisa dijelaskan?" ujar Ardian sambil mencegah keributan diantara mereka.
"Biarkan aku saja yang mengatakannya, kalau dia yang bercerita maka dia akan sibuk menyanjung dirinya sendiri.." tiba-tiba ada burung Phoenik terbang mendekati mereka, dan berubah menjadi sosok lelaki tampan.
"Siapa lagi ini??!" tanya Ardian tambah pusing lagi.
"Perkenalkan namaku Phoem, kau bisa saja menyebutku burung Phoenix yang tampan.." jawab Phoem sambil melirik kearah Maura.
Gadis itu melengos, dia tak menyangka jika burung itu masih mendendam kepadanya, perkara Maura salah mengiranya jika dia ternyata seekor jantan bukan betina.
"Ish, bilangin orang saja! Dirinya juga begitu.." gumam Arga menatap Phoem kesal.
"Baik, makhluk tampan! Coba jelaskan apa yang terjadi?" tanya Ardian tak sabar, dia muak dengan kenarsisan mereka.
Phoem menceritakan semua awal mula yang terjadi diantara mereka, sampai akhirnya mereka harus dihukum dan dikurung di wilayah sekitaran kampus mereka itu.
"Jadi, kalian tak bisa kemana-mana kecuali di area kampus ini saja? Dan tidak boleh bermasalah dengan manusia ataupun makhluk lainnya, dan kalian hanya bisa membuat peraturan di kampus ini saja dan tentu saja peraturan itu untuk semua makhluk dibawah daerah kekuasaan kalian, begitu?" tanya Ardian memastikannya kembali.
"Begitulah kira-kira.." jawab Phoem santai, dia duduk dengan berleha-leha disamping Arga yang nampak risih dengan kelakuannya itu.
"Terus apa hubungannya dengan kami dan kasusnya Ichan?" tanya Maura setelah cukup lama berdiam diri.
"Kami sebenarnya tak ingin ikut campur urusan manusia ataupun makhluk lain diluar kampus ini, tapi anak itu hampir setiap hari selalu berada disini, bisa dibilang dia juga tinggal disini..
Mau gak mau kami harus ikut campur, bahkan makhluk itu sampai nekat mengikutinya sampai disini sebelum anak ini mengusirnya, tapi setelah itu makhluk itu tak mengikutinya sampai masuk karena semua area tempat ini sudah kami segel dari makhluk luar, jadi dia hanya menunggu anak ini diluar sampai anak ini pulang dari sini.." jawab Phoem.
"Aku pikir ini adalah jalan pintas kita kembali ke kayangan, bagaimana jika kita menolong anak manusia itu dan memusnahkan makhluk itu? Bukankah kita masih memiliki kewajiban untuk menolong mereka?
Dan kebetulan kasus terjadi di wilayah ini, bukan? Apa aku salah atau benar? Aku yakin Sang Penguasa tidak akan menghukum kita selamanya disini, ini sudah berlangsung lama kita melindungi dan menjaga semuanya.." tanya Arga kepada Phoem.
"Itu bisa saja terjadi, dan tidak ada salahnya.. Hanya saja, apa Sang Penguasa mengizinkan kita melakukannya? Mengingat kasus ini bukanlah kasus kecil.." ucap Phoem ragu.
"Hei, makhluk ilmu tingkat tinggi tapi IQ rendah! Apa kalian serius dengan pemikiran itu?! Aku yakin Sang Penguasa atau apalah itu mengizinkan kalian melakukannya, karena itu demi kebaikan umat manusia dan para makhluk lainnya!" sahut Maura kesal karena melihat keduanya nampak plin plan untuk membantu mereka.
"Betul itu, IQ rendah!" ejek pula Arga, Ardian hanya menggeleng saja melihat kelakuan mereka.
"Dengar, ini bukan hanya urusan kami saja dan bukan pula kasus biasa. Ini semua ada hubungannya ilmu sihir, dan aku yakin ini juga berkaitan dengan kalian. Jika kalian ingin cepat bebas, sebaiknya kalian bantu kami juga.
Kalian tak perlu ikut campur terlalu dalam, cukup lindungi orang-orang didalam kampus ini, kami akan berusaha memancing para makhluk itu masuk kedalam kampus ini, dan setelah itu mereka akan menjadi milik kalian, aku harap kalian bisa mengerti maksud dari perkataanku ini,," ujar Maura menjelaskan maksudnya itu.
"Baik, ide bagus juga! Tapi jika kami lepas segel pelindung, maka semua jenis makhluk akan masuk kesini, kami tak bisa memilah satu-satu jenis makhluk apa yang masuk kesini, takutnya salah sasaran.." ucap Phoem.
"Kau ini, aku memiliki sensor panas dan dingin dan bisa mendeteksi makhluk biasa dan makhluk tingkat tinggi. Setidaknya aku bisa membedakan mana makhluk lemah dan penakut, dan makhluk berenergi hitam dan memiliki dendam.
Dan kau, apa kau sudah lupa dengan kekuatanmu sendiri mentang-mentang tidak pernah bertarung lagi?! Ingat, bulu-bulumu itu bisa mengeluarkan cahaya yang berbeda jika mendeteksi makhluk-makhluk yang berniat jahat!" ujar Arga mengingatkan kembali tentang kekuatan mereka miliki.
"Ah, iya! Kau benar.." ucap Phoem seperti tersadar dengan sesuatu.
"Dasar, IQ rendah!" kompak ketiga orang itu mengatakannya.
.
.
Beberapa jam kemudian, hari sudah mulai sore Ichan masih betah didalam kampus. Dia melakukan segala kegiatan untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Mulai belajar di perpustakaan, main basket dan duduk termenung di taman, seperti saat ini..
"Sedari tadi kita memperhatikannya, tidak ada yang aneh dengan anak itu. Hanya saja dia nampak pendiam dari biasanya, dan dia paling gak betah di kampus lama-lama, kenapa sekarang ini dia seolah sedang menghabiskan waktu disini?" tanya Maura heran.
"Kamu benar, menyakitkan mengetahui sesuatu yang buruk tentang dirinya. Apalagi jika itu menyangkut dengan keluarga.." gumam Maura.
"Apa?" tanya Ardian, dia mendengar Maura bergumam tentang sesuatu.
"Ah, tidak ada apa-apa.." jawab Maura.
Entah mengapa firasatnya mengatakan jika Ichan sedang mengalami sesuatu yang sangat berbahaya, sedangkan lelaki itu nampak diam saja sambil menyenderkan tubuhnya dibawah pohon besar dan rindang di taman itu, Ichan ketiduran sambil mendengarkan musik di earphone yang dia pakai.
Ichan teringat kembali dengan kejadian tadi malam, saat itu dia terbangun dari tidurnya saat mendengar suara guntur menggelegar, dia terlonjak kaget terbangun dari tidurnya saking kencangnya suara itu.
Tiba-tiba dia merasa kantung kemihnya sudah penuh dan buru-buru ke toilet untuk buang air kecil, saking dinginnya cuaca malam itu dia tak tahan ingin pipis juga.
Dia keluar dari kamarnya menuju toilet dan melewati ruang keluarga sebelum ke dapur, karena letak toiletnya tak jauh dari dapur rumah itu. Saat menuju toilet itu dia tak sengaja mendengar suara orang yang sedang sekarat dari arah ruang keluarganya itu.
"A-ampun, Nik! Aku-aku tak bisa melakukannya, dia anakku! Da-darah dagingku sendiri!, a-a-aku bisa mencari yang lain tapi bukan da-dari ke-keluargaku, aakhhh!" Ichan terkejut, dia mendengar suara ayahnya seperti sedang kesakitan seperti tercekik oleh sesuatu.
"Dasar, bodoh! Aku tak memiliki waktu lagi, jika ingin selamat kau harus mengikuti saranku ini, demi kebaikan kita bersama! Ingat, putramu itu sudah berteman lama dengan gadis itu dan aku yakin dia juga tau siapa gadis itu!
Dia pasti memiliki sesuatu dari gadis itu, ambil dan manfaat itu! Dengan itu kita bisa mengalahkan gadis itu, dan apa yang kita miliki akan terjaga! Ingat, penyihir itu tidak akan melepaskan kita begitu saja jika terjadi sesuatu, maka bergeraklah!
Atau, satu dari keluargamu akan aku ambil? Cepat pilih, putra tertuamu atau istri dan anak-anakmu yang lain? Ingat, semua harta milikmu ini merupakan dari hasil sesembahan dan pemberian dari penyihir itu, jika tidak mana mungkin seorang supir seperti dirimu bisa memiliki ini semua!" terdengar suara teriakan seseorang yang berada di sana, Ichan bisa mendengar jelas suara itu, suara nenek-nenek tua mengerikan.
Dan ternyata itu adalah suara nenek tua tetangganya bu Hayati sebelum dia mati oleh arwah dari para korbannya, dia sempat meraga sukma dan menemui ayahnya Ichan, lalu menemui nenek tua berambut putih yaitu nenek Dawiyah, neneknya Maura dan akhirnya mati ditangan para arwah itu.
Tenyata selama ini ayahnya Ichan bekerja dengan nenek tua itu dan menjadi supir pribadinya, mereka sering bolak balik pergi dari kota Pagar Alam ke kota Lahat untuk perjalanan bisnis, katanya. Padahal mereka merupakan penganut sekte ilmu hitam dari kepemimpinan nenek Dawiyah, meneruskan kepemimpinan mendiang suaminya.
Dan selama ini juga Ichan dan keluarganya salah faham mengira sang ayah merupakan bekerja keras, dan selalu melindungi dan menjaga mereka semua tapi semuanya adalah palsu, bahkan Ichan tak menyangka bahwa dirinya kini menjadi sasaran mereka.
"Siapa yang mereka maksud dari gadis itu? Aku tidak dekat dengan gadis manapun saat ini, jika dekat itu juga hanya teman biasa, dan kenapa mereka menginginkan gadis itu?" gumam Ichan.
Kemudian dia seperti melihat bayangan hitam mendekat kearahnya, dia sangat terkejut dan berjalan mundur untuk menghindari bayangan itu.
Tuk!
Tak sengaja kakinya menyenggol rak bufet samping dirinya, bayangan itu berhenti melangkah dan menoleh kearahnya berdiri, Ichan buru-buru bersembunyi dari sana, dia tak memiliki banyak waktu karena bayangan itu semakin dekat, jika dia berlari kearah kamarnya maka dia keburu ketahuan, maka dia memilih bersembunyi dibawah meja kecil dekat rak bufet itu, meja itu cukup muat untuk dia bersembunyi dibawahnya, dan syukurlah tubuh kurusnya itu muat dibawahnya.
Dia melihat sebuah bayangan membentuk siluet tubuh manusia, dari bentuknya saja itu sudah jelas seorang nenek-nenek, tapi siapa dia dan kenapa bisa berada di rumahnya saat ini?
"Cucu, hihihi.. Aku tau kau masih berada disini.. Kemarilah, nenek ini baik, hihi... Cucu, cucu nenek kesayangan ~~ hehem~~ nduk induk ~~ anak indung kepalang indung ~~" nenek itu bersenandung sambil mencari dirinya.
Ichan gemetar ketakutan, dia berharap tidak ditemukan oleh nenek itu. Dia yang ketakutan tak bisa menahan pipisnya sedari tadi akhirnya bocor juga, dia menahan rasa jijiknya mengelap air seninya agar tak mengalir keluar dari bawah meja itu.
Tapi bau pesing itu tak bisa ditutupi, nenek tua itu menatap kearah bawa meja kecil dengan seringai mengerikan dan menghampirinya dengan tertawa kecil namun mengerikan.
Hening beberapa saat dan tak terdengar kembali suara nenek itu, Ichan pun tak melihat bayangannya juga, dia pikir sudah aman dan nenek itu sudah pergi. Dia menjulurkan kakinya keluar berlahan dan keluar dari tempat itu dengan tenang.
Dia hendak berbalik dan berdiri dari tempatnya ingin menuju kamarnya, tapi dia dikejutkan oleh sosok tua mengerikan dengan wajah pucat penuh keriput dan lingkaran hitam disekitar matanya yang pekat itu.
"Disini rupanya kau!!" ujar nenek itu berteriak kencang memekakkan telinga, dan membuat jantungnya berdegup lebih kencang lagi.
"Huaaaaaa!!" teriak Ichan kaget dan ketakutan.
"Hah, hah.. hah.. hah.. A-aku kenapa, aku kenapa bisa bermimpi itu lagi?!" ucap Ichan terbangun dari mimpinya.
Nafasnya tersengal-sengal seperti baru selesai berlari dari jarak jauh, dia menatap disekelilingnya dan keadaan mulai sepi dan hari sudah senja sebentar lagi magrib tiba.
"Apa aku harus pulang atau tidak? Semalam aku bermimpi hal yang sama, tapi rasanya nampak berbeda. Terasa begitu nyata, tidak! Aku yakin aku tak bermimpi.. Sebaiknya aku tanyakan pada ayah, tapi.." Ichan bergumam sendiri.
Dia tidak yakin ingin menceritakan ini semua, tapi hati dan pikirannya berkata lain, tubuhnya mungkin lemah tapi hatinya tak selemah itu, dia sibuk dengan pikirannya tak sadar ada sesuatu yang mendekatinya saat ini.
......................
Bersambung