
Maura dan Ardian sama-sama terkejut dengan teriakan itu, mereka sadar telah melakukan sesuatu diluar nalar dan logika mereka sendiri.
Ternyata perasaan cinta panglima arialoka kepada Putri Dadar Bulan aka Dewi Srikandi telah merasuk ke jiwa sanubarinya, telah menguasai otak dan pikiran Ardian.
Puncaknya saat panglima bertemu kembali dengan Dewi Srikandi di apartemen Maura, dia selalu pergi jika Ardian bertemu dengan Maura, ia takut tidak bisa mengendalikan emosinya.
Tapi dia mencoba bertahan untuk tetap bersama Ardian jika bertemu Maura, dan akhirnya berhasil menguasai emosinya. Ketika panglima sudah bisa mengendalikan diri, malah Ardian yang terpincut dengan Maura. Padahal panglima arialoka sudah berhasil mengikhlaskan Dewi dengan Balaputradewa sepenuhnya.
Apakah perasaan cinta Ardian dengan Maura karena panglima Arialoka? Atau memang murni cinta sejatinya?
"A-apa yang kau lakukan Ardian?! Kau mencoba melecehkanku!" teriak Maura baru sadar yang mereka lakukan.
"Aku juga tidak sadar melakukan hal itu kepadamu! Akh, apa ini?! Panglima!" teriak Ardian murka, dia menyalahkan hal ini semua kepadanya. Padahal ini tidak ada sangkut-pautnya dengan dengan panglima.
Seseorang datang dari dalam apartemen menuju balkon itu, seorang wanita cantik berkulit putih bersih dan memiliki wajah yang sekilas mirip Maura.
Maura terkejut melihatnya, dia tidak menyangka akan kedatangan tamu dari jauh. Berbeda dengan Ardian, dia nampak bingung dengan kehadiran wanita itu dan terlihat baru sadar baru mengetahui siapa dia itu.
"Kak Tari? Kakak!" teriak Maura terharu, sudah berbulan-bulan mereka tak bertemu.
Semenjak Tari menikah dengan pria berkebangsaan Korea, dan tinggal cukup lama di sana baru kali ini mereka bertemu kembali.
Dia langsung memeluk kakaknya itu, dia sangat merindukannya. Tapi Tari diam saja tak meresponnya, sikapnya begitu dingin. Sikapnya memang begitu, akibat masa lalu dia kurang suka dengan adiknya itu.
"Lepaskan, jika ingin memelukku mandi dulu sana" ucapnya dingin.
"Ish, Kakak. Aku sudah mandi loh" ujar Maura sedikit merajuk lalu kembali ceria lagi.
"Bau keringat! Keringat lelaki ini menempel di tubuhmu! Lagian kamu yah, jika udah gak tahan kalian bisa lakukan itu dikamar kalau gak ke hotel sana!" bentak Tari kesal dengan kelakuan adiknya yang terlalu berani itu.
Maura dan Ardian sadar arah tujuan pembicaraan ini, mereka hanya diam tertunduk malu.
"Rapikan pakaian kalian, aku tunggu didalam" ucap ketusnya.
Setelah merapikan pakaian mereka lalu pergi menemui Tari didalam, betapa terkejutnya dia telah ditunggu oleh mereka diruang tamu. Bagai kena sidang, keduanya duduk di lantai sambil bersimpuh dihadapan mereka semua.
Di sana sudah ada bi Marni, Tari dan suaminya juga ada Kevin dan Maurice. Bi Marni hanya diam saja, dia enggan melihat keduanya. Sedangkan Kevin dan Maurice nampak menahan senyum, entah apa yang mereka senyumkan padahal Maura dan Ardian sedang disidang oleh kakaknya.
Tari nampak begitu dingin menatap tajam kearah mereka berbeda dengan suaminya, dia begitu ramah dan baik. Suaminya sempat nyapa Maura dan menanyakan kabarnya, sekalian berkenalan dengan Ardian.
"Bertanggung jawab? Bertanggung jawab apa sih, Kak?" tanya Maura kesal dengan kakaknya itu, baru saja ketemu sudah main-main begini.
"Lah emang gak sadar apa yang kalian lakukan tadi, hah?! Dasar anak kecil sudah pintar main kawin-kawinan rupanya, ya udah! Kakak kawinkan kalian beneran kalau begitu!" sahut Tari nampak marah dan kesal.
"Apa? Tidak!" teriak keduanya kompak.
"Tidak ada penolakan! Hari ini juga kalian menikah, tunggu sampai Angga sampai baru akad dilakukan" perintah Tari.
Bi Marni, suaminya dan Maurice juga Kevin nampak begitu terkejut dengan penuturannya. Mereka tidak menyangka kalau Tari akan bertindak sejauh itu.
"Tari, apa tidak dipikirkan dulu jangan ambil keputusan begitu saja" ujar bi Marni mencoba menenangkannya.
"Betul itu, sayang. Kasihan Maura dia terlalu kecil untuk menikah sekarang" suaminya pun ikut menenangkannya.
"Tidak, keputusanku sudah final. Seharusnya mereka berpikir jika ingin berbuat berani juga bertanggung jawab.
Dan mereka berdua juga bukan anak kecil lagi, setelah menikah lebih baik kalian tinggal di Indonesia saja. Kelamaan tinggal disini kalian terlalu bebas dan kebablasan" ujar Tari masih terlihat begitu marah.
"Gak bisa begitu juga, Kak. Kami juga belum ngapa-ngapain tadi, berikan aku waktu untuk meminta maaf dan menembus kesalahanku" ujar Maura, matanya mulai berkaca-kaca.
Bi Marni sudah terlihat lemas sekali dengan perintah Tari tadi, dia sadar betul jika nona muda yang paling berkuasa ini sangat kuat memegang prinsipnya.
Makanya jika dia bilang A maka itu harus A, tidak ada yang namanya B,C atau D. Makanya di tidak memperhatikan Maura sudah menangis dan memohon kepadanya.
"Baiklah, kalau begitu. Tapi kau dan dia harus melakukan sesuatu sampai aku setuju dengan keputusan apapun yang kalian ambil nanti" ujar Tari sedikit melunak.
Semua orang sedikit lega mendengar pernyataannya, meskipun harus ada syarat darinya setidaknya perintah nikah darinya bisa ditunda.
"Baiklah, apa itu Kak?" tanya Maura disambut antusias oleh Ardian.
"Kalian harus pulang ke Indonesia dan berkuliah di sana" jawabnya lugas.
maura dan Kevin sangat terkejut sekali dengan permintaan Tari, kakaknya itu.
......................
Bersambung