
Saat ini Angga dan Dhania dipercaya oleh mereka untuk memegang benda pusaka itu, mulai saat itu mata batin mereka pun terbuka. Bi Marni dan Tari semakin pusing saja, akan banyak sekali pekerjaan mereka nanti.
Bagaimana tidak, Angga dan Dhania perlu pelatihan agar bisa membiasakan diri dalam 'dunia baru' mereka. Agar tidak kaget, mereka perlu latihan ataupun membiasakan diri dengan hal-hal gaib lainnya.
"Ini akan menjadi pekerjaanku juga, aku baru saja mau pensiun dari 'dunia' ini, jadi harus ditunda dulu sampai kalian bisa mandiri seperti Maura dan yang lainnya" ujar Tari.
"Baiklah kami akan berusaha lebih baik lagi, tenang saja setelah ini kami akan menjaga Maura, Kevin dan lainnya" ujar Angga senang.
"Jangan senang dulu, ini belum dimulai. Apa yang kalian lihat kemarin belum apa-apanya, tunggu sampai kalian melihat sesuatu yang lebih mengerikan lagi" ujar Tari ngeledek Angga.
"Apa yang lebih mengerikan daripada para hantu zombie itu, apalagi hantu wanita dengan badan setengah aja! Menakutkan" balas Angga bergidik ngeri.
"Segitu aja sudah ketakutan setengah mati, bagaimana caranya kamu mau melindungi adik-adikmu kalau kamu aja penakutnya melebihi mereka" sahut Tari sambil menggelengkan kepalanya.
"Sudah, segitu aja mereka sudah termasuk kuat. Banyak orang lain yang sampai pingsan, bahkan tidak sadar sudah dipengaruhi oleh para makhluk itu.
Kalian sepertinya memang sudah ditakdirkan masuk bagian dari petualangan Maura dan kawan-kawannya" sahut bi Marni.
"Udah kayak judul film aja, Bi Marni! Bisa aja, hehe!" ujar Dhania yang sedari tadi hanya menyimak.
Mereka begitu sibuk dengan urusan Angga dan Dhania sampai melupakan Daniel yang masih dikurung oleh Angga, entah bagaimana caranya Daniel barhasil melepaskan ikatannya.
Dengan merapalkan mantranya dia juga berhasil keluar dari lingkaran didalam gudang itu, dia keluar mengendap-endap keluar dari gudang itu dan masuk ke kamar Tari, menggeledah isi lemarinya.
"Sial, kemana dia menyimpan belati itu?! Aku harus cepat sebelum ketahuan" ujarnya.
Dia terus mencari sampai tak diketemukannya belati itu, dia memutuskan pergi dari sana sebelum yang lainnya sadar. Dia sudah menandai semua sudut rumah itu, agar bisa melacak atau mendeteksi keberadaan belati itu nanti.
Setelah menunggu begitu lama, akhirnya dia berhasil keluar dari apartemen itu. Dia terlihat sedang menghubungi seseorang, dia terlihat marah ditelpon itu sampai akhirnya berlalu pergi meninggalkan gedung apartemen itu tanpa diketahui oleh orang-orang yang ada di apartemen Maura itu.
"Aku mau lihat keadaan kak Daniel dulu, sedang apa dia sekarang? Apa sudah menyadari kesalahannya dan mau bertobat" ujar Angga, meskipun begitu baginya Daniel masih kakak iparnya dan berharap dia berubah.
"Sial, aku kecolongan! Berani-beraninya dia kabur dari kami, jangankan untuk bertobat sepertinya dia malah berniat berbuat lebih lagi dari ini!" gumam Angga kesal.
Angga pun berlari kedalam kamar Tari, dia ingin memeriksa isi kamar kakaknya ingin memastikan apa Daniel ke sana atau tidak.
"Sesuai dugaanku, dia pasti kesini mencari benda itu! Dasar bodoh, kalau orang pintar takkan menyimpan benda berharga yang mudah ditebak tempatnya" gumam Angga.
Melihat Angga berada didalam kamarnya membuat Tari pun ikut masuk kedalam juga, betapa terkejutnya dia melihat isi kamarnya berantakan.
"Angga! Apa yang kamu lakukan di kamarku?! Lihat sampai berantakan gini!" Tari terlihat gusar dibuatnya.
"Bukan aku yang buat, ini pasti ulah suamimu itu!" ujar Angga kesal.
"Apa maksudmu, bukankah dia masih berada didalam gudang?!" tanya Tari tak mengerti.
"Kita lengah, dia sudah kabur! Melihat caranya kabur, sepertinya dia memang sudah mempersiapkan ini semua, mantra pengikat yang dibuat bi Marni bisa dia patahkan.
Itu berarti dia sudah memprediksi ini semua, sepertinya dia bukan sekedar khilaf semata tapi memang sudah ada niatan dari awal, lihat kamar ini? Ini adalah contoh kalau dia sudah melupakanmu dan bersiap dengan dunia barunya itu" ujar Angga menjelaskan.
Mendengar itu Tari terduduk lemas, siapa sangka suaminya sudah melangkah sangat jauh darinya. Sepertinya dia memang harus bersiap dengan kemungkinan yang ada nantinya.
"Tenang saja Kak, jika ia kembali aku akan menghadapinya nanti" ucap Angga mencoba menenangkan kakaknya.
Tari hanya tersenyum pahit mendengarnya, dia dalam dilema nantinya. Bagaimana tidak disatu sisi adiknya dan disatu sisi suaminya, meskipun tahu suaminya sekarang ini dijalan yang tersesat, dia masih berharap dia akan kembali lagi suatu hari nanti.
......................
Bersambung