
Setelah selesai beberesan dan merapikan pakaian dan barang-barangnya, mereka istirahat sejenak didalam kamarnya, Maura sengaja membuka pintu kamarnya terbuka lebar, takut ada fitnah saja.
"Kamu tadi kenapa? Kok berubah banget, tiba-tiba jadi baik banget! Kirain mau nyakar tuh orang, haha!" tawa Ardian mengingat kejadian dibawah tadi.
"Kenapa? Mau ngebelain dia, hem?!" tanya Maura kesal.
"Huft, bukan gitu sayang... Aku gak mau kamu sampai berbuat kriminal, aku kan sayang.. Buat apa aku jauh-jauh dari New York kesini buat ngejar kamu.." ucap Ardian sambil tersenyum manis kepada Maura.
"Ih, apaan sih?!" tanya Maura aneh melihat Ardian yang menurutnya lebay itu.
"Syut! Lihat.." ujarnya berbisik sambil menunjuk kearah pintu luar.
Mereka melihat ada bayangan orang di sana, tepatnya samping kamarnya Maura. Kalau diingat-ingat lagi itu kan kamarnya Meera? Apalagi dari bentukannya mirip dengan penampilan Meera.
"Biarin aja, aku risih dan jengah dengan sikapnya! Biar dia tau kalau aku punya pacar dan bucin banget!" ucap Ardian santai sambil meminum air mineral.
"Tapi aku yang gak enak, baru aja datang dan kenal dia.. Udah nyari penyakit aja, aku capek ribut mulu sama orang!" ucap Maura lelah.
"Orang-orang disini baik semua, termasuk dia. Dia begitu juga karena suka aja, aku yakin setelah tau kalau aku sudah punya pacar, dia takkan mendekatiku lagi" ucap Ardian berusaha berpikir positif.
"Kamu belum tau aja sifat wanita, apalagi kalau dia sudah terobsesi dengan seseorang. Dia bisa melakukan segala cara agar bisa mendapatkan orang itu, dan aku bisa melihat itu dari perempuan itu" ucap Maura.
"Itu mah pikiranmu saja, jangan terlalu berburuk sangka sama orang, May.." ucap Ardian.
"Aku tak berburuk sangka dengannya, itu penilaianku terhadapnya, kalau gak terima ya sudah! Toh aku tadi liat ekspresi wajahnya saat melihatku, aku sudah bisa menilainya.." ucap Maura.
"Ya sudah, gak udah dibahas lagi. Aku percaya sama kamu, gimana seneng kan? Kamu istirahat dulu gih, aku pulang yah.." ucap Ardian sambil mengusap pelan kepalanya.
Setelah itu dia pamit pulang, Maura masih bisa mendengar suara Meera yang sok imut itu menyapa Ardian.
"Dian, mau pulang? Cepet banget, gak mau mampir dulu ketempatku? Aku udah nungguin loh dari tadi.." ucap Meera.
"Hem, sejak kapan dia dipanggil seperti itu? Awas ya kamu kalau macam-macam Ardian alias Dian?!" geram Maura didalam kamarnya, sambil mendengarkan percakapan mereka diluar.
"Maaf, Meera aku gak bisa! Aku harus pulang karena ada kelas nanti siang, jadi aku mau beberes dulu di rumah" tolak Ardian secara halus.
"Mau aku bantuin gak? Mumpung aku masih free nih" ucap gadis itu genit.
"Gak perlu, ada mang Supri mau bantuin. Permisi yah.." ucap Ardian masih ramah.
"Dasar lelaki, masa begitu saja gak peka kalau ada orang yang suka! Apa dia bersikap seperti itu karena wanita kamar sebelah yah? Hem, aku harus cari tahu" gumam Meera.
Dia kecewa sekali dengan penolakan itu, sebenarnya itu bukan sekali dan dua kali Ardian menolaknya, sudah sering. Tapi gadis itu tak pernah putus asa untuk mendapatkannya.
Apalagi Ardian yang ramah dan baik itu diam saja ketika dia membuat rumor tentang hubungan mereka, membuat para gadis yang lain jadi iri dan cemburu padanya, dia nampak menikmati suasana seperti itu.
Dan tentu saja kehadiran Maura adalah ancaman baginya, selama kenal dengan Ardian baru kali ini dia melihat lelaki itu tersenyum manis dan berbicara lembut kepada wanita, biasanya juga dingin, jutek dan bersikap ramah alakadarnya saja, seperti tadi.
Tok!
Tok!
Tok!
"Siapa?" tanya Maura.
"Ini aku, Meera!" terdengar suara gadis itu dari luar.
Cekleek!
Maura membukakan pintu kamarnya, dia melihat Meera berdiri didepan pintu bersama para penghuni kost itu, firasat hati Maura sudah tidak enak saja saat melihat mereka.
"Maaf mengganggu, apa kamu lagi istirahat?" tanya Meera sok ramah.
"Gak kok, masuk aja.." jawab Maura.
Semuanya ada sekitar lima orang termasuk Meera yang masuk kedalam kamar Maura, kamar yang tak terlalu besar itu terasa sempit oleh mereka.
"Maura, perkenalkan mereka ini salah satu penghuni kost di rumah ini. Teman-teman ini Maura, dia baru pindah pagi tadi. Dan temannya Ardian.." ucap Meera sambil menekankan kata teman dengan jelas tadi.
"Ooh.. Kalau begitu kalian sangat dekat dong! Secara temannya Ardian pasti temannya kamu juga, Meer. Haha!" sahut salah satu penghuni kost itu.
Maura hanya tersenyum saja, dia melihat tingkah Meera sudah seperti anak kecil saja. Terlihat olehnya gadis itu begitu senang dengan pujian yang dilontarkan oleh teman-temannya.
"Kalau begitu kalian semuanya satu kampus yah?" tanya Maura masih tenang.
"Tentu saja, hanya berbeda kejuruan saja. Lagian Ardian termasuk cowok populer di kampus pasti semua orang tahu kok" sahut temannya Meera lagi.
"Oh begitu, kok aku gak tau yah?!" tanya Maura pura-pura heran.
"Maura, kamu kuliah di universitas Lentera Jiwa juga?" tanya yang lain.
"Iya, kejuruan Arkeolog dan sejarah!" ucap Maura.
"Oh, pantes! Itu kejuruan langka, karena sedikit minatnya. Dan letaknya cukup jauh dari kejuruan kami semuanya, wajar saja jika kamu gak tau.." ucap yang lain sok tahu.
"Wah, kalau begitu aku akan sering bermain dengan kalian. Sepertinya seru jika punya teman yang baik seperti kalian, aku termasuk orang yang sulit dekat dengan orang, kalian yang pertama menyapaku dengan baik" ucap Maura mengada-ngada, kalau si Ichan dengar bisa ngamuk dia tak dianggap sebagai teman.
"Begitukah, wah bisa aja kamu kalau ngomong! Haha, senang bertemu denganmu Maura! Kuy lah, Nanti kita main-main di kampus yah" ucap penghuni kost yang lainnya.
Mereka mengobrol dengan seru dan langsung deket, terlihat Meera begitu kesal. Padahal tujuan utamanya adalah untuk menyakinkan Maura bahwa jika dia begitu dekat dengan Ardian, dan menjauhlah.
Dia menggunakan teman-temannya untuk mendukungnya, tapi malah teman-temannya malah seneng mengobrol dengan Maura.
"Sial, tujuanku bukan ini!" gerutunya dalam hati.
Terlihat begitu marah, tapi dia harus menahannya karena imejnya dia begitu baik dan manis dimata teman-temannya, dia harus terlihat elegan didepan mereka semua.
"Oke deh, aku mau siap-siap dulu ngampus, see u di kampus ya Maura, bye.." ucap yang lain.
Maura mengangguk ramah, begitu pula dengan Meera penuh kepura-puraan. Tapi itu tak berlaku dengan Maura maupun Ardian, karena mereka melihat ada bayangan yang mengikuti Meera sejak tadi.
"Itulah jika orang memiliki hati iri dengki dengan orang lain, maka dia akan ditempelin terus sama demit! Emang manusia susah ditebak, takut sama setan tapi gak sadar temanan sama setan!" gumam Maura.
Diapun bergegas bersiap untuk pergi ke kampus dan sebelum itu dia mandi dulu dan tancap dandan minimalis tapi cantik maksimal, mereka sudah turun kebawah menuju kampusnya.
Dia melihat ada beberapa teman-temannya tadi sedang mengelilingi seseorang yang sedang duduk diatas motor sport, siapa lagi kalau bukan Ardian.
Meera juga udah stay di sana, sepertinya dia akan bersiap pergi ke kampus bersama Ardian dan bersiap naik keatas motor itu. Dia begitu bangga melihat teman-temannya terus mengucapkan pengen seperti dirinya punya teman dekat seperti Ardian.
"Maura!" panggil Ardian sambil melambaikan tangannya kearah Maura.
Maura yang tadi siap-siap melipir menjauh dari mereka, terpaksa berhenti karena Ardian tiba-tiba memanggilnya. Dia mendekati mereka dengan senyum seramah mungkin.
"Lama banget sih? Buruan naik, nanti bisa terlambat!" ucap Ardian cuek.
Semuanya terdiam menatap mereka, teman-temannya kostnya menatap Ardian bergantian dengan Maura dan menatap Meera juga.
"Loh, bukannya kamu mau jemput Meera yah?" tanya temannya kepada Ardian.
"Gak, aku mau jemput Maura!" jawab Ardian dingin.
"Tapi kan kalian.." temannya terlihat bingung menatapnya dengan Meera.
"Te-teman-teman, ayoo kita pergi sekarang! Nanti bisa terlambat!" ucap Meera buru-buru memotong ucapan temannya.
Dia gak mau kebohongannya terungkap jika Ardian mengatakan yang sebenarnya, terlihat beberapa temannya melihat Maura sinis seolah dia telah merebut milik Meera.
"Udah, gak usah ditanggepin" ucap Ardian santai.
"Dasar cowok! Gak peka sama sekali" jawab Maura kesal.
"Gak peka gimana? Aku udah panggil kamu agar kita bisa bareng berangkatnya, biar mereka tau jika aku sama dia tak memiliki hubungan apapun" ucap Ardian juga.
"Dia gak tau aja, wanita dan teman-temannya itu bersikap dan menatapnya sinis begitu, harus siap-siap nih peperangan akan dimulai lagi!" gumam Maura dalam hati.
Sedangkan bayangan hitam tadi terus menempel kepada Meera, Maura maupun Ardian bisa melihatnya dengan jelas dan akan melihat apa yang akan dilakukan oleh jin itu kepada gadis yang bermuka dua itu, Meera.
......................
Bersambung