
Beberapa hari pun berlalu begitu saja, dan Maura tak sedikitpun berubah sikap dinginnya kepada Ardian. Tiba saat keduanya kembali ke bangku kuliah mereka lagi, Maura sibuk menghabiskan waktunya di kampus mempelajari beberapa hal dan berdiskusi dengan Garaga juga Phoem bagaimana caranya mengatasi para penganut ilmu hitam dimasanya dulu.
"Kami dulu melawan para iblis dan jin, bukan manusia. Manusia penyembah iblis dan penganut ilmu hitam itu, sejak dulu memang sudah ada, tapi kami tak melawan mereka, ada beberapa manusia hebat yang mengatasi mereka, seperti dirimu Maura.." ucap Phoem memberikan penjelasannya.
"Dan kami hanya memberikan saran saja apa saja yang harus mereka lakukan jika bertemu dengan manusia yang seperti itu, dan kami tidak ikut campur urusan mereka.." sahut juga Garaga.
"Itulah yang aku maksud, aku tak meminta kalian membantuku mengurus mereka. Aku hanya meminta sarannya, bagaimana caranya aku bisa mengalahkan para sekutu iblis itu tanpa harus mengorbankan banyak orang..." ucap Maura serius.
"Kamu sudah menikah, gampang kok! Aku rasa kamu juga faham aku maksudkan.." ucap Garaga tersenyum smirk.
"Aku, aku tak sedang ingin bercanda, Garaga! Serius ini," ujar Maura kesal.
"Lah, aku juga serius! Malah sampai sekarang aku masih sakit hati mendengar tentang pernikahanmu dengan manusia itu! Ck," sahut Garaga tak kalah keselnya.
"Sudahlah, seperti anak kecil saja kamu! Baiklah, Maura.. Aku sudah banyak memikirkannya, sepertinya ada cara lain untuk melakukannya. Tapi ini mungkin sedikit berbahaya, salah sedikit maka nyawamu taruhannya," ucap Phoem sangat serius.
"Apa itu? Aku akan melakukan segala cara, agar semua ini cepat berakhir. Aku lelah dengan semua ini," ujar Maura tampak sudah pasrah sekali.
"Dengar, malam besok adalah malam purnama yang ke seratus ribu tahun semenjak lahirnya pohon itu. Dan biasanya setiap seratus ribu tahun sekali, semua makhluk akan keluar dan berkeliaran dimalam hari untuk bergentayangan menghantui makhluk bumi, khususnya manusia.
Mereka akan mencari kesempatan dan cela untuk menggoda manusia, agar masuk kedalam lingkaran setan yang mereka buat, dan itu adalah kesempatan untukmu agar bisa masuk kedalam dunia gaib tanpa harus melakukan ritual khusus, seperti kau keluar masuk kedalam ruangan ini, begitulah jalan kerjanya.
Maka, kau bisa menggunakan itu untuk membuat jebakan untuk mereka, gunakan sedikit saja darahmu untuk memancing mereka semua, setelah mereka semua berkumpul, kau bisa mengunci mereka didalam ruang gaib dan gunakan mantera ini untuk mengurung mereka.
Aku yakinkan mereka takkan bisa pernah keluar selamanya, entah itu seribu tahun lagi ataupun seratus ribu tahun lagi, tidak akan pernah lagi. Dan kesempatan manusia licik untuk bersekutu dengan iblis tidak akan pernah terjadi lagi, tapi ingat... Kau harus berhati-hati, jangan membuat kesalahan, bisa-bisa kau akan terkurung bersama mereka selamanya juga di sana..." ujar Phoem memberinya penjelasan.
Setelah itu dia memberikan sebuah gulungan kertas yang sedikit lusuh terbuat dari kulit kayu, sepertinya itu sudah berumur sangat tua sekali. Didalam sana ada beberapa tulisan aksara kuno yang berisikan mantra-mantra untuk menaklukkan beberapa makhluk gaib, dan juga cara-cara memusnahkan mereka juga.
"Terima kasih atas bantuan kalian berdua, aku akan pergi malam ini juga. Aku takkan bisa menunggu besok malam, karena akan sangat sulit mengumpulkan mereka lagi jika sudah berkeliaran di dunia ini.." ucap Maura.
Dia keluar dari perpustakaan tempat pertemuannya dengan Garaga dan Phoem, saat itu Ardian melihat Maura tampak terlihat senang sekali, tidak lama kemudian dua makhluk lain juga keluar dari perpustakaan itu.
"Apa yang Maura lakukan didalam sana bersama mereka? Apa perubahan sikap Maura selama ini ada hubungannya dengan mereka?" tanya Ardian dalam hati.
Setelah itu Ardian langsung menghampiri keduanya, Garaga yang sekarang berubah menjadi Arga sangat terkejut sekali saat Ardian langsung menarik kerah bajunya secara tiba-tiba.
"Apa yang kau lakukan kepada Maura?! Hah?! Katakan!" bentak Ardian begitu marahnya.
"Hei, apa yang kau lakukan?! Justru aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan sehingga gadis itu tiba-tiba saja sudah menikah denganmu?! Lepaskan aku!" bentak juga Arga tak kalah marahnya.
"Pantas saja Maura menghindari topik pembicaraan seputar pernikahan kalian, mungkin dia baru tau sifat aslimu ini! Kasar dan arogan, dan sampai sekarang ini dia masih pera.wan, haha! Kalau jadi aku, sudah ku pastikan istriku takkan pernah keluar dari kamarnya, karena malam pertama kami takkan pernah berakhir, hahaha!" ledek Arga.
Bugh!
Ardian tak bisa lagi mengontrol emosinya, dia benar-benar marah sekali bagaimana bisa makhluk seperti itu bisa mengetahui rahasia ranjangnya? Apa Maura menceritakan kehidupan rumah tangga mereka dengannya?
"Hentikan, Ardian! Apa-apaan kamu?!" teriak Maura dari kejauhan.
Dia tak sengaja melihat Ardian memukuli Arga, sebenarnya Arga bisa saja membalasnya tapi dia membiarkannya karena dia tau ada Maura sedang memperhatikan mereka dari jauh.
"May..." Ardian sedikit terkejut melihat kedatangan Maura yang tiba-tiba itu.
"Bukan begitu maksudku, May... Dia memprovokasi aku, aku tak bisa mengontrol emosiku begitu saja, apalagi sebelumnya aku melihat kalian keluar dari perpustakaan, jadi aku..." Ardian menjelaskan apa yang terjadi.
"Jadi kamu cemburu dan langsung memukulnya begitu?! Kamu benar-benar yah, apa kamu mengikuti aku?! Aku sudah besar dan dewasa, aku bisa menjaga diri, aku tau mana yang baik dan salah, kamu tak perlu selalu mengawasiku, Ardian!" ucap Maura kesal, dia menumpahkan semua keluh kesahnya.
Lalu kemudian Maura pergi dan langsung pulang naik angkot, sementara Ardian sedikit syok mendengar tutur kata Maura, sepertinya dia sudah menahan lama soal perasaannya itu, Arga tersenyum mengejeknya lalu pergi begitu saja.
Sore harinya, Ardian berniat ingin meminta maaf, dia memasak makanan kesukaan Maura, dia juga membersihkan rumah dan merapikan pakaiannya. Dia kadang terbersit ingin membobol kamar Maura dan memindahkan semua pakaiannya kedalam kamarnya.
Tapi itu akan memperburuk hubungan mereka jika dia nekat melakukannya, maka dia mencoba untuk tetap bersabar dan berdoa semoga saja Maura cepat kembali seperti dulu.
Tidak lama kemudian, Maura pulang dengan beberapa belanjaan ditangannya, jika Ardian perhatikan didalam kantong plastik warna hitam itu ada berbagai macam jenis bunga tabur, ada kendi, dan dia juga melihat ada lilin aroma terapi juga.
"Mungkin dia ingin melakukan ritual rileksasi didalam kamarnya nanti, semoga itu bisa membuatnya lebih tenang, dan bisa mengendalikan dirinya sendiri, dan bisa diajak bicara baik-baik, dan mau berubah.." gumam Ardian sambil tersenyum tanpa curiga sedikitpun.
Malam itu suasana masih seperti biasanya, makan malam bersama, melakukan tugas masing-masing, hingga berakhir dengan Ardian harus memeriksa tugas kuliahnya lagi. Maura memulai ritualnya didalam kamar secara diam-diam.
Sebelum itu dia membersihkan diri dulu dengan mandi air dengan dicampur kembang tujuh rupa yang sudah dibacakan beberapa mantra pemberian Phoem, dengan bertujuan para makhluk itu tidak akan mencium aroma tubuhnya, ketika dia sudah masuk kedalam dunianya.
Kemudian dia mulai menyiapkan semuanya, dengan mengisi kendi berisi air yang sudah dimantrai, bunga tujuh rupa ditaburi disekitar dirinya dengan membentuk lingkaran dan lilin-lilin kecil yang sudah menyala, menyinari kamarnya yang sudah dia matikan lampunya.
Kemudian dia duduk ditengahnya menghadap kearah kendi air yang sudah ditaburi juga dengan bunga tujuh rupa dan didepannya ada lilin besar juga tusuk kondenya.
"Semoga apa yang aku lakukan ini adalah langkah yang tepat, aku sudah muak disini! Aku ingin cepat kembali ke keluargaku," gumamnya.
Maura duduk bersila dengan menangkupkan kedua tangannya, memejamkan mata sambil membaca mantra yang sudah dia hapalkan sebelumnya. Tiba-tiba suasana sangat hening sekali, tak terdengar suara motor lalu lalang didepan rumahnya, ataupun suara ketikan laptopnya Ardian di ruang tengah.
Dia membuka matanya pelan-pelan, dia mendapati dirinya berada di ruangan yang gelap gulita, yang dia sadari itu bukan kamarnya. Maura memperhatikan disekelilingnya, dia sedang duduk bersemedi diatas batu berbentuk lonjong dan dibawahnya dikelilingi air berwarna hitam pekat.
Di sana hanya ada dirinya dan lilin besar bersama kondenya, dia mengambil kondenya dan memasangkannya ke rambutnya yang sudah dia gulung. Dia turun dari batu itu sambil membawa lilin besar sebagai cahaya yang menyinari disekelilingnya, dia merasakan air hitam itu begitu dingin dan pekat, lengket dan sangat bau sekali.
Maura terus melangkah maju tanpa menoleh lagi kebelakang, saat ini dia hanya memakai kain jarik dan kemben saja, sesuai aturan ritualnya, penampilannya mirip seperti gadis-gadis pada jaman dulu sekali, pada jaman Kerajaan Sriwijaya masih berkuasa.
"Aaarrrghh!"
"Tolong.."
Dia terus mendengar suara-suara teriakan minta tolong, bau busuk dan terbakar tercium olehnya, sampai tibanya dia melihat ada segerombolan orang-orang tanpa busana diikat dan dipaksa berjalan oleh sesuatu yang tidak terlihat, mereka semua menaiki dinding yang begitu tinggi keatas, Maura sampai ikut mendongak keatas melihat apa yang terjadi diatas sana.
Maura melihat sesuatu yang sangat mengerikan, manusia-manusia berpenampilan lusuh, dengan rambut yang acak-acakan mengeluarkan bau tubuh yang begitu menyengat, mereka dipaksa naik keatas, kemudian menunggu antrian untuk disiksa.
"Hoekk!" Maura seketika merasa mual dan muntah begitu saja, dengan apa yang dia lihat barusan.
Manusia-manusia itu diikat disebuah tiang yang menghadap kearah lubang besar dan gelap dimana Maura berada, kemudian mereka dibakar memakai besi panas dan lelehan timah panas, suara jeritan dan minta tolong itu barusan dari mereka yang mati disiksa, kesakitan.
Bagian yang mengerikannya adalah, tubuh-tubuh mereka yang hancur dan meleleh itu jatuh kedalam lubang dimana Maura berada, dan dia baru menyadari jika air hitam pekat berbau busuk yang menggenang didalam lubang itu, merupakan lelehan tubuh manusia yang mati terbakar dan hancur menyatu dengan semua mayat yang mati didalam sana.
......................
Bersambung