RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Pak Kyai dan Kanjeng Dewi?


"Nak, coba jelaskan ini kenapa Shelly dan bu Nela? Kok bisa kayak gini lagi?!" tanya pak RT bingung.


"Kayak gini lagi? Emangnya tadi ada yang kesurupan juga, Pak?" tanya Maura penasaran.


"Iya, itu suaminya bi Surti. Mang Ujang kesurupan, itu rumah berantakan kayak gitu dia yang buat" ucap pak RT menjelaskannya.


"Iya, Dek. Tadi heboh banget, mang Ujang ampe makan bangkai segala, baunya itu loh! Busuk banget!" sahut si Udin, hansip.


"Sampai segitunya?!" tanya Maura terkejut.


"Iya, udah kayak monyet kawin dah! Lari sana, lari sini! Pusing kita-kita pada ngejar mang Ujang" ujar Udin lagi.


"Sekarang mang Ujang gimana keadaannya, terus bi Surti?" tanya Maura khawatir.


"Bi Surti baik-baik saja, sekarang beliau lagi nemenin mang Ujang di rumah sakit. Sebaiknya kamu dan teman kau segera pindah di rumah ini, bahaya kalau lama-lama tinggal disini" ujar pak RT lagi.


"Baik, Pak. Tapi saya rasa tak enak jika mendadak pindah begitu saja sama bu Nela" ucap Maura sungkan.


"Gak apa, lah keadaan udah kacau begini mau bagaimana. Toh juga bu Nela juga ngalamin langsung, udah gak apa. Jika masih bingung, Bapak punya kostan juga, masih ada beberapa kamar yang kosong. Dijamin aman dari maling, setan ampe mulut tetangga, hehe!" ucap pak RT promosi kostannya.


"Yee, si Bapak sempat-sempatnya nawarin kostan" si Udin mencibir.


"Kesempatan gak datang dua kali, Din. Bukan aji mumpung yah, jangan salah faham! Menolong orang yang lagi susah itu bagus!" ucap pak RT meralat ucapannya.


"Iya, iya!" sahut si Udin, dia gak mau berdebat lagi dengan atasannya itu daripada dipecat, kan ribet jadi urusannya.


Maura hanya tersenyum saja melihat mereka, tapi didalam pikirannya masih terpikirkan keadaan bu Nela dan mbak Shelly, sedangkan Rizka menemani Shelly di salah satu rumah warga.


Akhirnya pak Kyai datang lagi untuk membantu bu Nela, dan kali ini bu Nela lah yang harus di rukiyah. Pak Kyai sampai geleng-geleng kepala melihat ke sekeliling rumah itu, dia meminta semua orang memegangi bu nela dengan kuat.


Dan sebagian yang lain disuruh keluar, takutnya menghalangi prosesnya rukyah itu. Maura hanya melihat dari kejauhan, dia berdiri didekat anak tangga lantai atas. Dia melihat bu Nela menjerit kesakitan, dia seperti kebakar tubuhnya.


"Panas, panas! Hentikan, dasar manusia rendahan! Hentikan, ini panas!" teriak bu Nela murka kepada pak Kyai.


Seluruh tubuh bu Nela memerah, matanya melotot, dia terus menggeram. Keadaan pak Kyai juga tak jauh beda, tubuh tua itu terus bergetar hebat, keringat mengucur diseluruh tubuhnya. Sesekali dia mengusap dahinya untuk mengelap keringat yang mengalir di keningnya itu.


Setelah itu dia melihat kearah Maura yang duduk dianak tangga, dia tersenyum dan melambaikan tangannya kearah Maura. Gadis itu kebingungan lalu diapun menghampiri pak Kyai dengan sedikit gugup.


"Ada apa, Kyai?" tanyanya.


"Nak, coba ambil wudhu dulu terus tutup auratmu dengan benar. Nanti kembali lagi" ucap sang Kyai.


"Emm, buat apa Kyai?" tanyanya masih bingung.


Pak Kyai tidak menjawab dia hanya tersenyum, melihat pandangan Kyai itu begitu menusuk membuat Maura tersadar lalu dia segera melaksanakan perintah Kyai tadi.


Setelah mengambil wudhu, dia mengambil mukena untuk menutupi seluruh tubuhnya, tidak lupa dia juga membawa mukena untuk menutupi tubuh bu Nela.


"Bagus, kamu mudah memahami maksud saya. Pakaikan mukenanya ke bu Nela, dengan begini akan lebih mudah. Dan kalian semuanya lepaskan, dari awal kita sudah salah, sebaiknya kalian juga mengambil wudhu dan tetap berjaga disini" ucap pak Kyai.


"Baik Kyai!" jawab para warga yang dominan lelaki itu menuruti perintah sang Kyai.


"Bapak salah dan khilaf, seharusnya yang memegangi bu Nela tadi tuh kaum perempuan, bukannya lelaki. Meskipun bu Nela tidak muda lagi, tapi dia juga belum dikatakan tua juga.


Itu bisa mendatangkan syahwat juga bagi para lelaki jika memandangnya lebih lekat, apalagi sampai menyentuhnya begitu, yah.. Meskipun dalam keadaan darurat sekalipun, tidak dibenarkan jika berlainan lawan jenis atau bukan mahramnya bersentuhan" ucap pak Kyai menjelaskan itu semuanya.


Maura hanya mengangguk-angguk saja mengerti, ini juga hal baru baginya, maklum selama ini dia juga tidak banyak memiliki pengetahuan soal agama, ayahnya tak cukup ilmu dan waktu untuk mengajarinya, sedangkan sekolah dan lingkungan juga tak mendukung.


Ini saja dia rajin sholat semenjak tinggal di Indonesia, adat budaya, dan keagamaan yang cukup religius di negeri ini membuatnya semakin dekat dengan agamanya sendiri.


Setelah memakaikan bu Nela mukena, sendirian Maura memegangi bu Nela sambil di rukyah pak Kyai, sebenarnya Maura sedikit khawatir takut dia tak bisa menahan tubuh bu Nela jika ia memberontak nanti.


"Bapak percaya kamu bisa.." ucap pak Kyai sambil tersenyum penuh arti.


Dan benar saja, bu Nela yang tadinya pingsan dan tiba-tiba bangun mengamuk, dia ingin bangun dari kursi dan berusaha melepaskan ikatan ditubuhnya, tapi tak bisa karena tertahan oleh cengkeraman tangan Maura dipundaknya.


Seolah-olah ada begitu banyak beban berat, yang menghantam tubuhnya sehingga susah di gerakkan. Sosok yang merasuki bu Nela menyeringai menatap Maura.


"Aku pikir anak manusia mana yang berhasil menahanku, ternyata darah campuran iblis dan seorang pemimpin suci. Hihi! Aku beruntung bisa bertemu denganmu, hihi!" ucap bu Nela yang kerasukan itu dengan suara berat.


"Siapa kamu?!" tanya Maura penasaran.


"Aku adalah bagian darimu, aku adalah kamu.. Darahku mengalir ditubuhmu juga" ucap sosok jin itu mencoba mempengaruhi Maura.


"Jangan dengarkan dia, Nak! Tutup telingamu!" teriak pak Kyai.


Tiba-tiba seluruh bangunan rumah itu bergetar seolah terjadi gempa hebat, semua orang yang ada didalam lari berhamburan keluar. Kecuali pak Kyai, Maura dan tentunya bu Nela yang kerasukan itu.


"Ghahaha!" bu Nela tertawa kencang, suaranya menggelar mampu mengguncangkan rumah itu.


"Allahu Akbar! Astaghfirullah al Aziim!" ucap pak Kyai beristighfar.


Beliau terus melantunkan ayat-ayat suci al qur'an, suaranya menggema saling bersahutan dengan tawa nyaring dan sumpah serapah dari sosok jin ditubuh bu nela.


"Dasar kurang ajar, keluarlah!" teriak Maura.


Tubuh bu Nela terkulai lemas, beliau masih pingsan. Maura menidurkan tubuh bu Nela ke sofa ruang tamu, setelah itu dia menatap sosok yang merasuki tubuh bu Nela tadi.


Sosok tinggi besar berbulu menutupi seluruh tubuhnya, gigi taring besar dengan muka merah kehitaman ditambah tanduk di kedua sisi kepalanya, sosok itu menatap marah kepada pak Kyai dan Maura.


"Kenapa kalian ikut campur urusan kami! Hah?!" ucap sosok itu murka.


"Justru kalian kenapa membuat onar di alam manusia ini?! Ini bukan dunia kalian, pergilah sebelum aku mengusirmu lebih kejam lagi" ucap pak Kyai lagi sambil menatap tajam sosok itu.


Saat ini pak Kyai duduk bersila sambil menakupkan kedua tangannya, beliau berzikir tanpa henti mengucapkan asma Allah. Sedangkan Maura berdiri tegak menatap langit-langit rumah itu, yang orang awam lihat mungkin dia sedang kesurupan karena bicara sendiri.


"Aku dan beberapa anak buahku kesini karena ada sebuah perjanjian dengan pemilik rumah terdahulu, jika suatu saat nanti kami akan mengusir orang-orang yang akan menghuni rumah ini.


Karena dia harus melindungi janinnya dari orang-orang jahat yang akan memanfaatkan nanti,, sekarang keberadaannya sudah terkuak, dan kalian sudah mengganggunya! Maka kami bergerak sesuai perjanjian itu" ucap sosok itu.


"Dengan siapa kalian membuat perjanjian?" tanya pak Kyai.


"Apakah itu ... Maria?!" tanya Maura hati-hati.


"Hahaha! Ternyata gadis ini pintar juga, tidak heran dia memiliki khodam seorang dewi perang!" ujar jin itu lantang.


Maura khawatir jika pak Kyai salah faham atas ucapan jin tadi, dia takut dikatakan musyrik atau menyimpang karena berteman dengan Dewi, sosok jin pelindungnya.


Tapi reaksi pak Kyai biasa saja, beliau masih diam duduk sambil berzikir. Maura terlihat begitu marah dengan jin itu karena sudah memprovokasi dirinya.


"Sebaiknya kau jujur saja padaku, sebelum cambukku melukai tubuhmu itu!" geram Maura.


Tiba-tiba ditangannya ada cambuk api berkobar siap melahap tubuh jin itu, cambuk itu dia dapatkan saat melintasi beberapa alam dimensi dunia lain, pemberian dari sosok penunggu pintu antar dimensi waktu itu.


Melihat itu, jin bertubuh besar itu sedikit goyah dan Maura bisa melihat kalau jin itu ketakutan dan masih berfikir lagi untuk melawannya.


"Manusia itu mengubur janinnya didalam tanah yang diatasnya ditanam pohon mangga itu, dia takut jika ada manusia jahat mengambil janinnya dan meminta kami untuk menjaganya, dan itu benar! Dia akan memberikan tubuhnya sebagai imbalannya.


Tapi sebelum itu terjadi, manusia itu sudah mati bunuh diri karena tak tahan ditinggal menikah dengan kekasihnya, dan anaknya terlanjur dia bunuh juga.


Jadi, kami datang sesuai perjanjian. Kami akan mengusir siapapun yang mengetahui keberadaan janin itu dan mengambil tumbal orang lain sebagai gantinya" ucap jin itu jujur.


"Dasar makhluk hina, kalian mengambil untung atas manusia yang pikirannya yang sedang lemah itu! Dia sedang stress dan depresi dengan masalah yang menimpanya, sehingga harus melangkah kearah yang salah.


Seharusnya kalian tidak menanggapinya, tidak menuruti keinginannya. Malah kalian sengaja memancing kami yang ada disini, agar bisa bertindak sejauh ini, ingat teman jin mu itu berhasil mengelabuiku itu, kalau ketemu denganku akan dihancurkan dia!" bentak Maura kesal.


"Bukankah itu memang tugas kami menyesatkan umat manusia? Dia datang sendiri pada kami, bukankah itu menguntungkan kami? Jadi kami tak perlu bersusah payah untuk membujuk ataupun merayu mereka untuk berzina, membunuh dan bunuh diri itu.


Hahahaha!


Bukankah kami yang diuntungkan, kenapa pula kami harus menolaknya! Dan soal putri yang berhasil mengelabuimu itu, itu bukan urusanku! Dan itu memang keahliannya untuk mengelabui orang-orang yang seperti kalian, haha!" ucap sosok itu masih tertawa mengerikan.


"Putri?!" gumam Maura penasaran dengan sosok yang dipanggil putri tadi.


"Pergilah, hah!!" ucap pak Kyai sambil menghentakkan telapak tangannya kelantai.


Tiba-tiba angin kencang menerpa mereka, guntur menggelegar diiringi hujan rintik-rintik sore itu mengiringi sosok jin tadi yang sudah terpental jauh tertiup angin badai dari doa-doa pak Kyai tadi.


Setelah semuanya tenang, bu Nela terbangun dalam keadaan bingung. Beberapa ibu-ibu yang melihat dari luar masuk dan membawa bu Nela beristirahat didalam salah satu kamar dilantai bawah itu, tidak ada yang berani naik keatas, padahal kata pak Kyai sudah aman tapi semua orang trauma naik ke lantai atas itu.


Maura mengambilkan air minum untuk bu Nela, tiba-tiba pak Kyai memanggilnya dan Maura memberikan air minum itu ke ibu lain untuk diberikan ke bu Nela.


"Ada apa pak Kyai?" tanya Maura hati-hati.


"Nak Maura sudah ada tempat tinggal? Untuk sementara pindah saja dulu dari sini, memang disini sudah aman tapi lebih baik tinggal bersama yang lain daripada tinggal di rumah ini sendirian kan? Hehe!" ucap pak Kyai ramah dan santai.


"Oh begitu.. Mm, belum sih.. Tadi pak RT sudah menawari kostannya, kemungkinan saya akan pindah kesana pak Kyai.." ucap Maura sopan.


"Ooo... Alhamdulillah kalau begitu, o ya jika nak Maura ada waktu, bolehlah ketemu lagi sama Bapak, jangan sia-siakan bakat dan kemampuanmu itu. Jika sudah memiliki ilmu besar tapi tanpa didasari bekal ilmu agama, takutnya itu akan menjadi sia-sia" ucap pak Kyai sambil bangkit dari duduknya.


"Boleh pak Kyai, asal pak Kyai mau mengajari saya.." ucap Maura lagi.


"Bagus, ajak juga sekalian temanmu itu belajar ilmu agama. Agar apa yang dia lakukan selama ini bermanfaat" ucap pak Kyai.


"Maksud Bapak? Teman saya yang mana?" tanya Maura bingung, karena dia pikir dia tak memiliki banyak teman, apalagi teman kostnya juga tidak terlalu dekat dengannya.


"Teman yang selalu menempel denganmu itu!" jawab pak Kyai sambil membetulkan sorbannya.


"Maksudnya, Dewi Srikandi?" tanya Maura hati-hati, dia juga tahu pasti pak Kyai bisa melihat dan menyadari keberadaan Dewi Srikandi didekatnya.


"Betul, kanjeng Dewi.." sahut pak Kyai sambil berlalu.


Mendengar itu Maura hanya bengong tak mengerti, apa kanjeng Dewi? Gumam Maura tak mengerti kenapa pak Kyai memanggil Dewi Srikandi dengan sebutan kanjeng Dewi.


......................


Bersambung