RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Keputusan Tari Dan Sebuah Pengkhianatan


Sementara itu, para kawanannya juga sibuk melawan para penyihir dan jin yang menyamar menjadi orang biasa. Mereka sempat terkecoh oleh para manusia dan makhluk laknat itu, sampai menyadari ketika Maura dan Ardian memberikan sinya atau kode darurat.


Julian, Joanna dan Rosario menyerang para iblis itu diluar gedung itu. Jika manusia biasa melihat mereka, mungkin dipikir lagi latihan bela diri atau lagi olahraga.


Padahal mereka sedang melawan puluhan pasukan iblis tak kasat mata, sedangkan Kevin dan Maurice dengan teknologi canggihnya sedang berusaha melacak energi panas yang dimiliki oleh mahkluk astral.


Seperti penampakan Poltergeist atau cahaya bola api, yang merupakan bagian dari pasukan iblis yang terus berdatangan menyerbu mereka.


//


Di apartemen, bi Marni dan Tari sedang melakukan semedi didalam kamarnya. Jiwa mereka sedang berkelana di dimensi lain, mereka menuju kerajaan bayangan.


Dimana tempat itu kerajaan milik jiwa Balaputradewa dan Putri Kencana Ungu berada, keduanya bertemu dengan raja dan ratu masa lalu. Meminta petunjuk untuk mengalahkan Arion Gaharu dan para pasukannya.


"Arion Gaharu masih terlalu lemah di dunia nyata, tapi dia kuat di dunia ini. Makanya dia jarang bahkan tidak pernah datang langsung menemui kalian, tetapi malah menyuruh anak buahnya melakukan teror dan serangan tersebut.


Ingat, di duniamu itu hanya sebuah bayangan baginya tapi di dunia kami ini adalah rumahnya. Jika ingin melawannya, temukan dia di rumahnya yang sebenarnya.


Rumah dimana dia dilahirkan oleh ibu jinnya dan ayah manusianya, di sanalah dia sering pulang dan sebenarnya tempat dia tinggal. Kalian di sini hanya menyerang anak buahnya saja, bukan dia. Mungkin saat ini dia mengawasi kalian di suatu tempat yang tidak kalian sadari, dan mempelajari karakter dan kekuatan kalian.


Hati-hatilah, dimana yang kalian anggap kawan bisa jadi dia lawanmu" ujar maharaja Balaputradewa.


"Jadi, jika kami ingin mematahkan seluruh sihir dan kutukannya, kami harus menemukan jiwa aslinya? Jika kami pelajari, dia terlahir dan tumbuh besar di tanah Sriwijaya.


Berarti kami harus pulang ke negara kami, agar bisa menemukan kelemahannya dan memusnahkan dirinya selamanya. Jika itu terjadi maka tidak ada lagi sihir apapun di dunia ini.


Dan tidak ada lagi reinkarnasi atau keturunan-keturunan orang-orang terdahulu terlahir kembali, dan itu secara otomatis mematahkan mata rantai yang melilit kami selama ini?" tanya bi Marni.


"Benar sekali, di duniamu sekarang kalian akan menghancurkan bagian dari dirinya saja. Tidak seluruhnya, tetapi itu cukup untuk melemahkannya. Setidaknya kalian berhasil mematahkan dan menghancurkan keinginannya untuk melebarkan sayapnya di dunia nyata dan menyebarkan kehancuran bagi umat manusia." Jawab Putri Kencana Ungu.


"Jadi, kami harus apa?" tanya Tari lagi.


"Berjaga saja, ingat tetap berhati-hati. Karena musuh bisa saja datang dari orang yang kita sayangi" ucap Balaputradewa.


Bi Marni hanya diam saja mendengar nasehat maharaja itu, seakan dia faham apa yang dia ucapkan. Berbeda dengan Tari, dia sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan sang raja.


Mereka kembali ke dunia nyata, dengan berbagai pertanyaan dihatinya. Sementara itu, ada seseorang yang sedang mengendap-endap masuk ke kamar Tari.


Orang itu menyeringai saat melihat Tari masih dalam semedi nya.


"Dasar gadis bodoh! Mudah sekali menipumu, buat apa memiliki ilmu supranatural jika tidak dimanfaatkan. Jika kau tak mau, maka biarkan aku saja yang memilikinya" ujar orang itu.


Dia masuk ke kamar dan menancapkan sebuah pisau belati terbuat dari kayu tua ke bahu Tari, tentu saja itu membuat Tari terkejut dan terbangun dari semedinya.


Orang yang sangat dia sayangi, kekasih hatinya. Daniel, suaminya sendiri tega melukai tubuhnya. Tari menyadari satu hal, mungkin ini yang dimaksud dari raja Balaputradewa soal kawan bisa jadi musuh.


"Kenapa kau lakukan ini kepadaku?" tanya Tari tidak percaya apa yang dia lihat.


"Karena aku membencimu, aku cemburu padamu! Kau memiliki apa yang seharusnya aku miliki, yaitu kekuatan supranatural mu itu!


Sekarang kau sudah terluka, energi supranatural mu itu sudah terhisap habis oleh belati ini.


Jika aku tusukan belati ini kebagian tubuhku, dan secara otomatis kekuatanmu masuk ke tubuhku. Belati ini masih ada bekas darahmu, dan jika darah kita tercampur jadi satu ditambah oleh belati ini, maka akan lebih mudah menyatukannya. Haha!" Daniel tertawa terbahak-bahak.


Dia tidak sadar jika dia juga sudah diawasi oleh orang lain, ketika dia hendak menancapkan belati itu, bi Marni memukul kepalanya menggunakan panci teflon kesayangannya.


"Mampus kau, biar tahu rasa!" ujar bi Marni geram.


Dia masuk ke dalam kamar itu bersama Angga, bi Marni langsung membawa Tari keluar dan mengobatinya.


Sedangkan Angga menggotong tubuh Daniel ke gudang lalu mengikatnya dengan kuat di sana.


"Dasar bajing*n tengik, siapa yang ingin kau bodohi, hah?!" teriak Angga kesal karena lelaki itu telah mengkhianati mereka dan melukai kakaknya.


Sebelumnya, bi Marni dan Tari sudah merencanakan jebakan itu. Awalnya bi Marni tak setuju karena Tari ingin mengorbankan tubuhnya, tapi Tari tetap bersikukuh dengan pendiriannya.


"Aku sudah memutuskan, Bi. Akan menghancurkan dan menguburkan kekuatanku ini, sejak awal aku tak menginginkannya tapi takdir yang memaksaku harus menjalankan hidup ini.


Dengan kekuatan ini aku pun tak bisa hidup normal seperti orang lain, aku juga ingin hidup seperti orang lainnya yang bebas melakukan apapun tanpa harus takut dengan segala hal.


Mungkin ini momen yang tepat untuk melakukan hal itu, anggap saja ini terakhir aku melakukan kekuatan ini secara yang benar-benar dan tepat agar tak ada penyesalan sedikit pun.


Biarkan bajing*n itu melakukan hal itu kepadaku, agar aku tahu apa saja yang ada didalam pikirannya. Setelah itu, biarkan Angga yang membawa benda itu kembali ke tanah kelahirannya.


Dan menguburkannya disana, dan hancurkan mantra juga kutukan yang ada didalam benda itu. Bi Marni pun sudah membicarakan smua itu kepada Angga, sama dengan bi Marni awalnya dia tak setuju.


Tapi setelah itu dia mengetahui keinginan kakaknya itu, dia tak bisa menolaknya. Karena dia yakin selama ini kakaknya pasti kesakitan, kalau tidak kenapa dia ingin mencabut takdirnya itu?


Angga mengambil belati yang masih berlumuran darah segar kakaknya, membungkusnya dengan kain putih dan menyimpannya didalam peti kecil seperti sarang kering gitu.


......................


Bersambung