RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Penyelamatan Meera


"Tangkap ini!" teriak Dewi Srikandi, dia melemparkan satu sisi selendangnya kearah panglima Arialoka.


Hup!


Dengan satu kali lemparan panglima berhasil meraih selendang itu, dan melilitkannya keleher ular naga itu, sedangkan Dewi Srikandi mengikatkan selendangnya yang lain keseluruh kaki ular naga itu.


"Aku harus apa?!" teriak Ardian, dia kewalahan saat mengalihkan perhatian ular naga itu.


"Kau tahan saja ekornya, jangan sampai bergerak-gerak terus! Kalau tidak kita akan mati oleh kibasan ekornya!" sahut panglima Arialoka.


Separuh hutan di negeri bawah tanah itu hancur dilalap api oleh si ular naga, mereka masih berjibaku melawan ular naga itu dan tiba-tiba..


Crriingg!!


Panglima Arialoka mengeluarkan pedangnya, pedang pusaka hadiah dari maharaja Balaputradewa dikhususkan untuknya. Dia mengangkat tinggi-tinggi pedangnya dan bersiap menebas leher ular naga itu.


"Tunggu!!" terdengar suara menggelegar di atas sana.


Datang seorang dewi dari atas langit, dia memakai pakaian serba hijau termasuk dengan mahkotanya yang terbuat dari akar dan daun pohon, dia bagaikan dewi tumbuhan saja dengan melihat pakaiannya itu.


"Jangan bunuh dia, kumohon.." dewi itu memelas kepada mereka.


"Siapa kau?! Kenapa kami tak boleh membunuhnya setelah dia menyerang kami duluan?!" tanya panglima Arialoka penasaran.


"Pertama, namanya Nage Ulae. Dia penjaga negeri ini, dia akan mempertahankan tempat ini dari orang-orang asing seperti kalian. Dan maaf jika dia langsung menyerang tanpa bertanya dulu.


Karena itu adalah instingnya, karena dia bukan makhluk yang memiliki jiwa seperti kita, dia makhluk dengan jiwa murni, dihati dan pikirannya hanya satu, melindungi tempat ini dari orang asing" ucap dewi itu sambil melepaskan ikatan dan lilitan selendang Dewi Srikandi ditubuh ular naga itu.


Dan anehnya, ular naga itu langsung diam dan jinak saat kehadiran dewi itu. Seolah sang dewi adalah majikannya.


"Kau siapa, Dewi? Sepertinya kau bukan makhluk jin biasa?" tanya Dewi Srikandi dengan mawas diri.


Karena ular naga ini begitu patuh dengannya, bisa jadi dia memiliki kekuatan yang luar biasa dan kalau mau dia bisa saja menyerang mereka.


"Kita sudah bertemu tadi.." ucap dewi itu sambil tersenyum.


"Kau.." Ardian masih menerka-nerka.


"Perkenalkan, namaku Dewi Arum Anjani.. Yang biasa makhluk lain panggil peri pohon" ucap dewi itu.


"Apa?! Jadi kau adalah makhluk mungil itu tadi, tapi kan tadi ada banyak?" Ardian masih bingung dengan semua itu.


"Aku memecahkan diri jadi ratusan bahkan ribuan peri kecil, untuk melindungi hutan ini, entah itu negeri hutan di atas awan, ataupun negeri hutan bawah tanah.


Dan Nage Ulae aku utuskan menjaga pintu bawah tanah ini dari orang-orang asing yang berniat tak baik, sepertinya dia hanya mendeteksi kalian dengan cara yang salah, bagaimana tidak seorang manusia bersekutu dengan dua jin.." ucap Dewi Arum Anjani.


"Apa itu berhubungan dengan apa yang dikatakan oleh makhluk itu tadi?" tanya panglima Arialoka.


"Maksudmu panglima Adyadharma? Tentu saja dia tahu semuanya, dia penjaga negeri diatas, sedangkan Nage Ulae adalah penjaga negeri bawah" ucap Dewi itu.


"A-apa?! Panglima Adyadharma? Putra bungsu Brahmana putih? Adiknya panglima Adyaseka?!" tanya panglima Arialoka tak percaya.


"Iya, kau benar.." ucap Dewi sambil tersenyum.


"Tapi, kenapa..." baik panglima Arialoka maupun Dewi Srikandi masih tak percaya dengan semua itu.


"Kita tak pernah tahu apa saja yang terjadi selama ribuan tahun ini, begitu banyak misteri yang tersimpan, dan kita harus memecahkannya satu persatu" gumam Dewi Srikandi.


"Sepertinya perjalanan kalian di dunia ini masih panjang, hem.. Sebaiknya kalian cepat jika tak ingin terlambat" sahut Dewi Arum Anjani.


"Iya, kita harus menemukan Meera!" ucap Ardian.


Mereka meninggalkan tempat itu setelah energi mereka hampir habis terkuras saat melawan Nage Ulae, untunglah Dewi Arum Anjani cepat datang, jika tidak mereka akan melakukan sebuah kesalahan lagi.


"To-tolong.." terdengar suara rintihan minta tolong dari sebuah bangunan terbuat dari batu dibalik hutan itu.


Mereka melihat ada sebuah gubuk tua, lebih tepatnya rumah terbuat dari gundukan batu, sangat rapuh dan berbahaya, jika tak hati-hati bangunan itu akan runtuh dan bisa membahayakan siapa saja yang ada di sana.


"Meera?!" panggil Ardian.


"Dian? Ardian?!" sahut Meera tak percaya.


"Apa kau ada didalam?!" tanya Ardian lagi.


"Iya! Tolong aku, keluarkan aku dari sini!" teriak Meera sambil menangis.


"Tenanglah, aku dan lainnya akan masuk untuk menyelamatkanmu" sahut Ardian lagi.


Setelah itu dengan sekali hentakan bangunan itu runtuh seketika, mereka melihat Meera diikat dengan rantai diseluruh tubuhnya, dan digantung seperti salip terbalik.


Mereka mencoba segala cara untuk melepaskan gadis itu dari ikatan rantai, tapi tidak berhasil. Panglima Arialoka berapa kali mencoba memotong rantai itu dengan pedangnya, tapi berhasil.


Begitu juga dengan Dewi Srikandi, dia juga berapa kali melilitkan selendangnya tapi masih kurang energinya, sampai akhirnya Ardian melafalkan beberapa ayat dan doa, rantai itu mulai kendur dan melepaskan Meera dari ikatannya.


"Ardian.." Meera langsung memeluk Ardian dan sangat berterima kasih, karena sudah diselamatkan olehnya.


"Lepaskan, Meera! Disini aku tak sendirian.. Dan berhentilah bersikap seperti itu kepadaku!" ucap Ardian dingin.


"Apa maksudmu? Kenapa kau sangat berbeda dari biasanya?" tanya Meera menatap Ardian bingung.


"Aku sudah berulang kali memperingatimu, tapi kau tak pernah mengindahkannya. Aku sudah memiliki kekasih, dan berhentilah bersikap begitu dan jangan menciptakan sebuah kesalahan lagi, jika tak ingin menyesal" ucap Ardian dingin.


"Tidak, kau hanya bersamaku selama ini, kenapa tiba-tiba kita menjauh, apa kau membenciku karena dia?!" tunjuk Meera kepada Dewi Srikandi.


Dia salah mengira jika Dewi Adalah Maura, karena mereka memiliki kemiripan yang begitu kental.


"Hufft, bukan begitu. Aku memang sudah memiliki kekasih sebelum kenal dengan kau, dan tak ada hubungannya dengan siapapun, sudahlah jangan mengada-ada!" bentak Ardian kesal.


"Karena inilah kau jadi incaran para jin dan setan lainnya, karena sikap serakahmu itu, tidak hanya ingin dekatnya, kau bahkan menginginkan dirinya juga" ujar Dewi Srikandi.


"Apa salahnya menyukai seseorang?!" tanya Meera tak terima.


"Tidak salah jika menyukai seseorang, yang salah itu caranya. Jika orang yang kau sukai itu tak menyukaimu, jangan kau paksa dia agar menyukaimu juga" sahut panglima Arialoka juga.


"A-Ardian, ka-kau?!" Meera bingung melihat ada dua orang yang memiliki wajah yang sama.


"Dia temanku, kau hanya melihat wajahnya tanpa melihat yang lainnya, wajah kami memang mirip tapi penampilan kami berbeda!" sahut Ardian.


"Sudahlah, aku tak mau berdebat denganmu! Kita harus segera pergi dari sini, entah sudah berapa lama kita berada disini. Dan aku merindukan Maura, dia sudah pasti bosan menunggu lama" ucap Ardian lagi.


"Ta-tapi,, hufft.. Baiklah, aku mengerti" sahut Meera pelan sambil menundukkan wajahnya sedih.


Dewi Srikandi langsung mengampit lengan Meera dan mereka semua pergi meninggalkan tempat itu menuju negeri dihutan atas awan.


Dan disana sudah ada Dewi Arum Anjani menunggu mereka, dia tersenyum menyambut mereka, setelah mereka bertemu tiba-tiba badan sang Dewi melebur memecah belah menjadi ratusan peri-peri kecil.


"Syukurlah kalian berhasil menyelamatkan dirinya, sepertinya aku harus memperkuat lagi keamanan kedua negeri di dimensi ini. Dan ratu jin Sikumbang sekarang berurusan denganku sekarang.


Beraninya dia melakukan kejahatan di dunia manusia, dia telah melakukan sebuah kesalahan, menyalahi aturan di negeri ini. Baiklah, aku juga akan pergi menjemputnya" ucap peri kecil dari penjelmaan Dewi Arum Anjani.


"Tunggu, kemana kami harus menemukan Maura?" tanya Ardian khawatir.


"Temui dia diujung hutan ini, nanti kalian akan menemukan tugu prasasti yang didepannya gua batu. Kau bisa memanggilnya dengan batu yang kau berikan kepadanya" ucap peri itu.


"Iya, kau benar. Baiklah terima kasih atas bantuanmu, Dewi" ucap Dewi Srikandi juga.


Mereka pergi meninggalkan tempat itu dan menuju hutan yang ada tugu prasastinya, dan benar saja di sana ada gua batu yang terlihat gelap dan dingin. Siapa tahu didalam gua itu ada dunia lain yang begitu damai dan megah.


"Maura, pulanglah.. Kami sudah menunggumu disini, misi berhasil. Ayo kita pulang.." ucap Dewi Srikandi melalui telepatinya ke Maura.


.


.


Ditempat lain, ditempat panglima Adyadharma Maura yang sedang menikmati pemandangan indah di istana itu, tiba-tiba hatinya tergerak untuk pergi dari sana, firasatnya mengatakan jika dia harus kembali.


"Aku harus pulang, Adyadharma! Sepertinya mereka sudah kembali.." ucap Maura.


"Baiklah, jika itu maumu. Aku akan mengantarmu kesana.. Tapi sebelum itu, kau jangan mengatakan apapun tentangku kepada mereka. Dan, terima ini.." ucap panglima Adyadharma sambil memberikan sesuatu ditangan Maura.


"Apa ini?!" tanya Maura heran.


"Ini jepit rambut tuan putri Dadar bulan alias Dewi Srikandi, saat pertempuran waktu itu aku tak sengaja menemukan jepit rambutnya ditenda waktu itu sebelum aku mati ditangan Kamaru.


Ibarat benda keramat, jepit ini juga memiliki sedikit energi jiwa Dewi Srikandi yang tertinggal. Bawa dan pakailah, ini juga akan bisa melindungi dan menjagamu, sama seperti kalung itu" ucap panglima Adyadharma.


Maura hanya diam dan mengangguk saja, kemudian mereka pergi meninggalkan istana panglima Adyadharma, naik ke kuda itu lagi dan menuju gua batu untuk keluar dari tempat itu.


Sepanjang perjalanan Maura masih bingung dengan semua ini, dia tak pernah habis pikir dengan semua kejadian yang menimpanya selama ini.


Siapa tahu dirinya akan terjebak dengan kehidupan seperti ini, awalnya hanya ingin tahu tentang kejadian sebenarnya mengenai misteri kematian sang ibu, justru dia dihadapkan oleh sebuah kenyataan hidup yang sangat mengejutkan.


......................


Bersambung