
"Meer, sebenarnya kamu sama Ardian ada hubungan gak sih?! Aku liat Ardian sama sekali gak menanggapi kamu selama ini, kami pikir dia memang tipikal cowok cuek, tapi pas kami liat sikapnya dengan Maura tidak seperti itu.." ucap salah satu temannya tadi.
"A-aku dengan Ardian berhubungan dengan baik, sangat dekat seperti biasa yang kalian liat selama ini. Hanya saja Maura itu temannya sewaktu dia masih di New York, dia baru disini dan belum punya teman.
Jadi Ardian menemaninya sampai Maura bisa mandiri dan memiliki teman lainnya, jadi.. Yah begitulah, haha.." jawab Meera sedikit gugup.
"Oh begitu, tapi kami lihat tidak seperti itu.. Mereka terlihat tak seperti teman" sahut yang lain.
"Iya, jika memang begitu biarkan saja Maura berangkat bersama kami dan kau pergi dengannya. Kenapa jadi teman diutamakan sedangkan pacar sendiri diduakan?" kata yang lain.
"Iya, Maura seharusnya lebih peka sedikit! Jangan-jangan dia suka lagi, ish ini tidak boleh dibiarkan!" geram mereka.
"Teman-teman, jangan seperti itu.. Aku takut nanti aku yang disalahkan" ucap Meera berpura-pura sedih.
"Gak usah khawatir, biarkan kami saja yang memberikan pelajaran kepada gadis licik itu. Ini tak ada hubungannya denganmu" sahut yang lain.
Meera tersenyum puas, dia berhasil meraih simpati teman-temannya lagi. Dia berharap Maura benar-benar menjauh dari Ardian dan dirinya.
.
.
Di kampus, Ardian mengantar Maura sampai ke depan kelasnya. Ada beberapa mahasiswi yang diam-diam melirik Ardian atas ketampanannya itu.
Dan tidak sedikit pula ada yang cemburu melihat kedekatan mereka, bahkan ada juga beberapa teman lelaki Maura juga cemburu melihat mereka, terutama Ikshan alias Ichan.
"Maura!" panggil Ichan.
"Hai!" sahut Maura ramah seperti biasa.
Ichan berjalan sambil setengah berlari menghampiri mereka, sebenarnya mereka tadi sempat beriringan saat berangkat ke kampus, hanya saja Maura tak menyadari ada Ichan berjalan disamping mereka tadi.
"Siapa?" tanyanya langsung saat melihat Ardian menggandeng tangan Maura.
"Dia? Oh.. Ini te-" Maura ingin menjawab, tapi buru-buru disahuti oleh Ardian.
"Aku kekasihnya, dia pacarku!" jawab Ardian tegas.
Semua orang yang ada didepan kelas itu mendengarnya sedikit terkejut, bagaimana bisa mereka menjadi pasangan? Karena mereka tak pernah melihat keduanya berjalan berdua saat di kampus.
Terutama Maura, dia termasuk mahasiswi baru dan banyak yang suka termasuk Ichan, semuanya ditolak dan sekarang tau-tau udah punya gandengan. Beberapa mahasiswa melirik tajam kearah Ardian, begitu pula para mahasiswi yang lain begitu cemburu dengan Maura.
"Kamu apa-apaan sih?!" ucap Maura canggung, dia malu dengan yang lain.
"Kenapa, benarkan? Biar semua tahu jika Maura Hartawijaya sudah memiliki kekasih bernama Ardian Hartanto" ucap Ardian, dan suaranya sengaja dikeraskan sedikit agar yang lain bisa mendengar.
Maura hanya menunduk malu apa yang dilakukan oleh Ardian, dia benar-benar tak menyangka jika lelaki itu jika cemburu lebih berbahaya daripada perempuan.
"Ya udah, aku kembali ke kelasku yah.. Ingat, jangan pulang sendirian dan tunggu aku" ucap Ardian sambil mengelus lembut kepala Maura.
Dia berjalan santai meninggalkan mereka semua, setelah lelaki itu pergi semuanya menatap Maura heran, terutama Ichan dia cemberut dan langsung masuk kedalam kelas, meninggalkan Maura yang masih bengong diluar kelas.
"Kamu kenapa cemberut begitu? Kayak bukan Ichan seperti biasanya.." tanya Maura heran.
"Emang aku seperti biasanya seperti apa?!" tanya Ichan galak.
"Ish, gak boleh begitu! Ntar gantengnya ilang" goda Maura.
"Mauraaa.." ucap Ichan kesal.
"Nah, begitulah Ichan yang aku kenal, hehe!" Maura terkekeh melihat tingkah imut Ichan.
"Kamu kenapa gak bilang kalau sudah punya pacar?!" tanya Ichan mengabaikan kata-kata Maura tadi.
"Emang perlu bilang segala, toh kalian juga gak nanya kok.." jawab Maura santai.
"Yaa, setidaknya.. Ah, sudahlah. Sejak kapan kalian pacaran?" tanyanya lagi.
"Sudah lama, mungkin enam atau delapan bulan.." jawab Maura mengira-ngira.
"Apa?! Selama itu! Ih, kok aku gak pernah liat kalian jalan berdua, padahal satu kampus lagi. Apalagi si Ardian kan temen mainku" sahut Ichan manyun.
"Teman main?" tanya Maura heran.
"Iya, aku kalau main basket pasti lawannya dia. Dan... Kamu yakin sama dia, aku pernah liat dia jalan dengan cewek lain" kata Ichan lagi serius.
Maura yakin Ichan bicara jujur, dia tahu wanita itu pasti Meera. Dia hanya tersenyum penuh arti dan membiarkan Ichan menebak-nebak sendiri tentang hubungan mereka.
Setelah jam pelajaran selesai, Maura keluar bersama Ichan dan kali ini Ardian sudah menunggunya diluar kelasnya.
"Kamu sejak kapan disini?" tanya Maura heran.
"Sejak tadi, ayo.. Aku lapar, kita cari makanan di kantin, hei rambut mangkok mau ikut ga?!" tanya Ardian kepada Ichan.
"Hei, rambutku ini lagi model tren sekarang tau! Enak aja ngomong kayak gitu!" gerutu Ichan kesel.
"Tapi beneran loh Chan, rambutnya kayak model mang--" Maura pun ikut-ikutan nyahut.
"Maura ini lagi tren, faham!" sahut Ichan langsung.
Maura dan Ardian menertawakan dirinya karena anak itu terlihat lucu sekali, Maura senang bisa memiliki teman seperti Ichan yang begitu supel dan humble, orang yang begitu mudah dekat dengan orang.
"Ardian, gabung yuk sama kita!" seseorang menghampiri mereka.
Ada beberapa anak lelaki menghampiri Ardian dan Maura juga Ichan, Ardian hanya bersikap santai saja sama mereka, dan Maura terlihat cuek dengan mata-mata nakal mereka, Ichan? Jangan tanya, dia sedikit bersembunyi dibalik badan Maura.
"Sorry guys, aku lagi makan! Nanti aku nyusul yah.." sahut Ardian santai sambil menyeruput jusnya.
"Oke, but.. Siapa dia, cewek baru yah?! Wah, si Meera mau diapain? Haha, jahat lu!" ujar salah satu dari mereka memancing emosi Ardian.
"Dia pacarku, dan Meera hanya teman biasa.." sahut Ardian sambil menatap mereka dingin.
Maura menatap mereka dengan pandangan tak suka, dan Ardian merangkulnya untuk menyakinkan pernyataannya barusan. Ichan hanya diam saja, dia tau mereka itu adalah teman-teman Ardian saat melawannya dan teman-temannya saat pertandingan bola basket.
"Waah, jadi beneran itu?! Aku pikir si Bram asal ngomong aja jika kau memiliki pacar dan itu bukan Meera!" salah satu mereka menyahuti.
"Bram itu pasti temen Ardian kemarin itu, hanya dia yang tau hubungan kami saat ini selain Meera" gumam Maura dalam hati.
"Iya, dia benar.." jawab Ardian singkat.
"Gak nyangka kamu yah, udah ninggalin Meera demi cewek ini! Kalau udah tau bakal begini lebih baik kamu tinggalkan saja Meera sejak dulu, aku gak akan biarin kamu nyakitin dia begitu saja!" sahut Joni, salah satu teman Ardian.
Joni menyukai Meera sejak lama, dia adalah playboy tentu saja Meera menolaknya, dan sejak kedatangan Ardian kesempatannya untuk mendapatkan gadis itu semakin jauh, apalagi gadis itu terang-terangan menunjukkan rasa sukanya kepada Ardian, dan semakin besar juga rasa bencinya kepada Ardian.
Dia mendekati Ardian ingin menunjukkan kelasnya, dia ingin menunjukkan kepada Meera jika dirinya juga sangat keren. Dan sekarang adalah waktunya menunjukkan dirinya didepan Meera, dengan membelanya dan menjatuhkan Ardian.
"Aku tak peduli, silakan dekati Meera. Bukankah sudah pernah aku katakan padamu jika aku tak menyukai wanita itu, dan kami tak memiliki hubungan apapun selain hanya berteman seperti biasa, seperti kita.
Soal dia menyukaiku, itu urusan dia. Aku tak pernah menanggapinya, jika kalian kesini hanya untuk menggangguku, silakan pergi karena kami sedang makan" ucap Ardian dengan jelas dan tegas.
Semua orang yang ada di kantin mendengarnya dengan jelas ucapannya tadi, terdengar kasak-kusuk dari mereka menggosipkan hubungan rumit mereka.
"Tapi, kalian selama ini terlihat begitu dekat. Dan Meera menunjukkan kalau kalian memiliki hubungan spesial?" tanya Joni bingung sekaligus senang mendengar pernyataan Ardian.
"Gak tau, tanya saja kepadanya. Yang jelas kebaikanku selama ini aku pikir biasa saja, karena kami tetanggaan dan induk semangnya ibu angkatku juga..
Jika kalian melihat aku sering membonceng dia itu karena kebetulan arah kita sama, dan dia meminta tolong mau pergi kemana, dan kebetulan aku bisa, itu saja.
Dan sekarang tidak, aku sekarang sudah ditemani pacarku. Dan jangan buat kegaduhan, kasihan dia menjadi bingung akibat kalian" ujar Ardian lagi.
Setelah berbicara seperti itu dia menarik Maura meninggalkan mereka, sedangkan Ichan juga pergi ketempat lain dan memperhatikan para anak lelaki itu tadi.
"Jadi, mana yang benar?! Ardian atau Meera?" tanya yang lain.
"Aku percaya Ardian, jika dilihat emang bener sih selama ini dia cuek sama gadis itu, hanya saja Meera yang terus mendekatinya" sahut temannya yang lain.
"Tidak, aku tak berpendapat denganmu. Aku pikir Ardian berkata karena didepan gadis itu saja, lihat saja nanti dia pasti jalan lagi dengan Meera.
Bayangkan saja, Meera tipikal cewek sempurna. Badannya perfeksionis, cantik dan baik banget! Gak mungkin Ardian meninggalkan dirinya begitu saja," sahut yang lain.
"Tapi kalau aku liat, gadis itu juga sangat cantik. Tipe cewek imut dan polos gitu, bukan seperti Meera tipe cewek seksi dan nakal" sahut yang lain.
Mereka tertawa mulai membandingkan Maura dan Meera, Ichan mengamati mereka dan terlihat geram dengan mereka ketika mengolok-olok Maura.
.
.
.
Ditempat lain, didalam toilet wanita ada beberapa mahasiswi membahas kejadian di kantin tadi. Mereka sibuk berdandan sambil bergosip di sana.
"Aku sih yakin dengan Ardian, kalau dia dan Meera tak memiliki hubungan apapun. Kau lihat sikapnya dengannya sama dengan sikapnya kepada gadis lain, kepada temannya yang lain" ujar salah satu dari mereka.
"Kau benar, hanya saja Meera itu tipikal orang tak tahu diri dan tak tahu malu, sudah tau gak ditanggapi eh dia malah bikin rumor sendiri" ucap juga yang lain.
"Ho'oh, cantikan cewek yang tadi. Cantik polos gitu tanpa make up menor seperti dirinya itu"
"Hahaha! Aku kalau jadi cowok juga gak suka dengan Meera, cewek genit macam dia, pantas saja Ardian geli dengannya" sahut juga yang lainnya.
Setelah berdandan mereka meninggalkan toilet itu sambil cekikikan menertawakan Meera, tapi mereka tak tahu jika di salah satu bilik toilet itu ada seseorang mendengarkan mereka.
"Kau dengar, lelaki itu tak menyukaimu. Dia mencampakkanmu, kau itu tak berharga dimatanya" terdengar seseorang berbisik di telinganya.
"Tidak, dia tidak boleh melakukan hal itu padaku!" teriak gadis itu sambil terisak.
"Kalau begitu, lakukan sesuatu! Rebut dia kembali, dan singkirkan wanita itu!" ujar suara bisikan itu.
"Kau benar, aku tak boleh kalah darinya!" ucap sang gadis.
Dia keluar dari bilik toilet itu, dan merapikan diri didepan cermin toilet itu. Disamping gadis itu ada sosok makhluk yang mirip dengannya, menempel di bahunya dan berbisik memprovokasi dirinya.
"Meera, kau itu cantik! Sangat cantik, maka tunjukan kecantikanmu itu seperti apa... Hihi!" ujar makhluk itu berbisik lagi.
Meera terlihat begitu percaya diri dan kembali seperti semula, berjalan anggun dan tersenyum manis. Dan tak menyadari jika ada sosok yang menempel pada dirinya, menghasutnya untuk menghancurkan dirinya sendiri.
......................
Bersambung