RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : ( PNS ) Korban Dari Keserakahan


Para makhluk itu mencoba mengendus keberadaan Maura, dan mereka berhasil menemukan keberadaannya. Mereka mencoba menyerangnya dari berbagai sisi, dan disaat mereka menyergap Maura dan disaat itu juga gadis itu langsung bersembunyi dari sana dan melemparkan kemejanya sebagai umpan si makhluk.


"Grraaaghhr!"


Mereka menyerang apa saja dibalik pohon besar itu tanpa melihat targetnya, bahkan mereka tidak tahu kalau Maura tidak ada di sana, gadis itu bersembunyi dibalik rerimbunan daun-daun diatas pohon besar itu.


"Jadi, mereka tak bisa melihat. Mereka hanya menggunakan indra penciumannya saja, baiklah kalau begitu aku harus mencari cara agar bau badanku ini tak tercium.." gumamnya.


Maura melihat ada tumbuhan yang ada didalam hutan itu yang sangat dikenal olehnya, aroma daun-daun itu tercium sedikit lebih menyengat daripada tumbuhan yang ada di sana.


Dia sedang berusaha turun dari pohon besar itu dan menghindari para makhluk itu tanpa diketahui, dia melompat sedikit lebih jauh dari sana dan sayangnya keberadaannya kembali tercium oleh beberapa makhluk itu.


Para makhluk itu fokusnya terbagi dua, antara kemeja yang memiliki bau khas Maura dan Maura itu sendiri, karena tubuhnya memiliki bau yang lebih tajam dibandingkan kemeja itu, maka para makhluk itu mengejar dirinya.


"Sial!" umpatnya.


Maura berlari kencang menuju tumbuh-tumbuhan itu dan para makhluk itu pun tak kalah kencangnya mengejar Maura, sedikit lagi Maura dalam jangkauan para makhluk itu, dan pas saat itu juga Maura berhasil berada di rerimbunan tumbuhan itu, aroma tubuhnya tercium samar dan para makhluk itu kembali kebingungan mencari Maura.


"Bagus! Setidaknya ini bisa mengulur waktu, sebaiknya aku cepat sebelum orang-orang di pesantren menyadari kehilanganku. Meskipun Ardian tau aku pergi mengejar makhluk itu, tapi dia tak tahu dimana aku sekarang.." gumamnya lagi.


Maura langsung melumuri seluruh tubuhnya dengan dedaunan itu setelah ditumbuk dengan halus, bahkan rambut dan seluruh pakaian juga sepatunya pun dia lumuri, dia tak mau sedikit saja bau tubuhnya tercium oleh para makhluk itu.


Setelah selesai, Maura mencoba memberanikan diri untuk mendekati salah satu dari para makhluk itu yang berdiri tak jauh darinya, dengan hati-hati Maura berjalan sambil mengulurkan tangannya kearah hidung makhluk itu.


"Gggrrr.."


Makhluk itu tidak bereaksi apapun, bahkan makhluk itu terlihat tak menyukai bau ditubuh Maura saat ini, dan Maura langsung mengambil kesempatan itu untuk kabur tanpa takut dikejar lagi.


"Wah, wah! Siapa ini?! Dia hebat loh bisa berhasil keluar dari kejaran para makhluk buas itu, apa rahasiamu?! Saudara sepupu,," ejek Shalimar ketika sampai di hutan itu dan berpapasan dengan Maura.


"Diam kau, sebaiknya kau pergi sebelum menyesal! Kau tak tahu sedang berhadapan dengan siapa.." jawab Maura ketus.


"Ah, sombong sekali kau! Sebaiknya kau yang berhati-hati, kau tak tahu jika nenek selama ini memiliki kekuatan besar yang bisa membunuhmu," ujar Shalimar marah.


"Ugh, bau apa ini?! Astaga, ternyata kau rupanya! Pantas saja para makhluk buas itu tak bisa menemukanmu, kau menggunakan tumbuhan menjijikan ini untuk mengelabui mereka rupanya!" Shalimar terlihat marah.


Dia berusaha menghapus kotoran ditubuh Maura dengan sapu tangan yang dia bawa dari tasnya, Maura langsung menendang tangan gadis itu sehingga gadis itu berteriak kesakitan.


"Gggrrrr.."


Suara teriakannya memancing para makhluk itu untuk mendekati mereka, Shalimar terlihat senang dia pikir para makhluk itu akan menyerang Maura.


"Tamatlah kau!" ujar Shalimar lagi dengan senyuman sinisnya.


"Jangan senang dulu, makhluk itu tak mengenali mana lawan dan mana kawan, jika kau melakukan kesalahan sedikitpun maka kau pun akan mati ditangan mereka. Apa kau tak tahu efek dari penggunaan sihir berlebihan itu berbahaya?" tanya Maura sambil menyunggingkan senyuman.


"Diam kau, tau apa kau dengan semua ini. Selama ribuan tahun nenek moyang kita melakukan sihir, tidak ada yang berhasil melukai mereka, yang ada kekuatan, kekuasaan berada di tangan.


Kau akan mati ditangan para makhluk itu, atau mungkin ditanganku! Lagian nenek akan selalu ada membantuku, dasar pengkhianat!" ujar Shalimar kesal.


"Terserah kau, aku tak peduli! Aku akan aman karena memiliki bau ini, dan kau akan tercium seperti daging segar bagi mereka.." sahut Maura lagi.


"Apa maksudmu?!" teriak Shalimar kesal.


Maura berlari masuk kembali kedalam hutan dan Shalimar mengejarnya, gadis licik itu menggunakan sihirnya untuk menghindari para makhluk itu sehingga mereka tak bisa melacak keberadaan Maura maupun gadis licik itu.


Perkelahian tak bisa dielakan, saling baku hantam terjadi kepada mereka, Maura yang memiliki ilmu bela diri tak terlalu kesulitan menghadapi Shalimar, tapi gadis itu licik dan malah menggunakan sihirnya.


Maura tetap berpikir jernih meskipun dirinya mendapat beberapa kali serangan dari Shalimar melalui ilmu batinnya, Maura berusaha menggunakan koneksinya pada hutan itu.


"Wahai, para penghuni hutan yang agung.. Kalian masih mengenali aku? Keluar, jangan takut! Mereka hanya makhluk buas dan bodoh, gunakan kekuatan kalian untuk mengusir mereka!" ujar Maura mencoba berkomunikasi dengan para 'penghuni' hutan itu.


Tidak lama kemudian, ada beberapa makhluk hutan kecil berdatangan dari balik pepohonan, rerimbunan tumbuhan liar itu bahkan ada yang keluar dari dalam tanah juga.


Mereka makhluk kecil dan lemah, tapi jika bersatu maka mereka bisa menghancurkan semua makhluk buas itu, jangankan hanya satu atau dua, puluhan makhluk seperti itu bisa mereka hancurkan.


Para makhluk itu bersinar terang, kemudian sinar-sinar itu bersatu membentuk bola putih kehijauan dan terbang melesat kearah Shalimar.


"Aaakkggghh!!"


Shalimar langsung terlempar cukup jauh dan menggelepar kesakitan seperti tercekik, tidak jauh dari tempatnya dua orang sepupunya datang dan panik melihat Shalimar.


"Kenapa denganmu, hei?! Mana gadis itu?! Apa dia sudah mati?!" teriak sepupu lelakinya itu.


Shalimar tak mampu berbicara, dia mengangkat tangannya dan menunjuk kearah Maura yang berdiri tegak diantara para makhluk buas itu, sepupu lelakinya itu sangat marah dan murka sekali melihat Maura masih berdiri di sana.


"Shalimar, Shalimaarr!" teriak sepupunya yang perempuan histeris saat melihat Shalimar meregang nyawa.


Melihat itu para sepupunya sangat marah sekali, mereka hendak menyerang Maura tapi Maura tak kalah cepatnya, gadis itu melihat ada baju kemeja yang tergeletak tak jauh dari kakinya, bau tubuhnya masih tercium olehnya meskipun sudah hancur diserang oleh para makhluk buas itu.


"Maafkan aku, kalian yang meminta! Aku hanya membela diri,," ucap Maura sembari melempar kemejanya yang hancur itu kearah mereka.


Bau tubuh Maura tercium kembali oleh para makhluk buas itu dan kembali menyerangnya, tapi mereka tetap salah sasaran, kemeja itu terlempar kearah para sepupu Shalimar dan mendarat ditubuh sepupu lelaki itu, dan tak ayal anak muda itu pun harus mati tercabik-cabik oleh kuku dan gigi yang tajam para makhluk itu.


"Ti-tidak mungkin..." gumam saudara sepupu perempuan yang masih tertinggal sendirian.


Dia terdiam terpaku sendirian melihat kematian yang mengenaskan para sepupunya di depan matanya sendiri, jangankan berteriak menggerakkan tubuhnya saja dia tak mampu, pikirannya kacau, kekuatan yang dia miliki tak seberapa dibandingkan milik Shalimar dan sepupu lelakinya itu.


Kini keduanya sudah mati, terus bagaimana dengannya? Apa dia harus menyerang juga dan mati konyol seperti mereka? Atau pergi seperti seorang pengecut! Maura berjalan mendekatinya, dia tak mendengarkan atau memperhatikan para makhluk itu menghancurkan tubuh sepupu lelakinya itu.


"Kau pergilah dari sini jika tak ingin bernasib sama seperti mereka, katakan semuanya kepada nenek apa yang terjadi.. Jika kau tak ingin terlibat lebih jauh lagi, sebaiknya kau pergi jauh dari sini, dan tinggalkan semuanya! Nenek tidak akan perduli dengan hidup dan matimu, bahkan dia juga takkan perduli dengan perasaanmu, dia hanya mementingkan dirinya sendiri, pergi dan jangan pernah kembali lagi ketempat terkutuk itu!" ujar Maura memperingati sepupunya itu.


Tes!


Bagaikan menerima air dingin yang sejuk di tenggorokannya, membuat gadis itu terlihat lega dan bisa bernafas dengan tenang kembali, kata-kata Maura ibarat sihir yang mampu menjernihkan pikirannya.


"Aku, kami... Tidak tahu apa-apa.." isak gadis itu lagi sambil pergi meninggalkan tempat itu.


"Iya, aku tau.. Aku tau," jawab Maura pilu melihat nasib mereka menjadi tragis seperti ini.


Dia menoleh kebelakang, tubuh saudara sepupunya itu sudah tak berbentuk lagi, hancur berantakan dengan isi perut terburai, sedangkan jasad Shalimar cepat sekali membusuk, entah itu efek dari serangan atau dari sihir yang dia miliki? Entahlah..


Para makhluk itu sudah pergi sejak kematian dua manusia licik yang terpengaruh oleh bujukan iblis dan rayuan sang nenek, sedangkan para binatang yang kena rasuk pun seperti kebingungan dan berlari menjauh masuk kedalam hutan, dan para 'penghuni' hutan juga sudah kembali ke tempatnya masing-masing.


Kini Maura tinggal sendirian, dia tak tega meninggalkan dua jasad itu begitu saja. Bagaimanapun keduanya adalah sepupunya dan harus mati oleh keserakahan sang nenek.


"Maaf, aku hanya bisa mengubur kalian seperti ini,, semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa kalian, amin.." ucapnya.


Maura menggali tanah didalam hutan itu dengan linggis yang dia dapatkan didalam mobil Shalimar, yang tertinggal dipinggir jalan tadi. Setelah cukup dalam dia mengubur kedua seadanya dan sebisa dianya, setelah itu dia menguburnya kembali.


Dia juga menaruh beberapa bunga didalam hutan diatas pusara kedua jasad itu, setidaknya memberi tanda kepada siapapun yang masuk kedalam hutan itu, bahwa itu adalah kuburan.


Maura keluar dari tempat itu, entah sudah berapa lama dia berada didalam hutan, dia lihat langit sudah memperlihatkan semburat merah tandanya pagi akan datang, dia menaruh linggis yang berlumuran tanah masuk kedalam bagasi mobil itu termasuk sisa sobekan bajunya, dia tak ingin meninggalkan jejak apapun di sana.


"Badanku sangat bau! Ah, biarlah setidaknya aku masih hidup.." ucapnya lagi.


Dia mengendarai mobil Shalimar pergi dari tempat itu, dan dia tak sadar jika mobil itu malah menuju kearah rumah neneknya, dia melihat gadis tadi sedang duduk termenung dijalan didepan gerbang rumah besar itu, seperti ada banyak keraguan di dirinya.


"Biarkan itu menjadi peringatan dan pembelajaran baginya, semoga saja dia mau berpikir dan tidak akan mau tinggal di sana lagi, sebaiknya aku cepat pergi dan menghubungi Nayla dan Nala, mungkin dua orang itu bisa membujuknya kembali ke jalan yang benar.." gumamnya.


Maura memutar balik arah laju mobil itu dan melaju pesat meninggalkan tempat itu, disepanjang jalan dia terus kepikiran dengan dua sepupunya yang harus mati mengenaskan seperti itu, ada rasa bersalah yang menghinggapi dirinya.


"Tidak, aku tak membunuh mereka! Sial.." umpatnya sambil memukul kemudi mobil itu kesal.


Sementara itu, di pesantren. Ardian dan lainnya nampak khawatir karena sudah semalaman Maura tak keluar juga dari dimensi gaib itu, mereka takut telah terjadi hal yang buruk terhadap Maura, bahkan panglima Arialoka pun tak berhasil melacak keberadaan Maura.


......................


Bersambung