RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Kebetulan Yang tak Disengaja


Saat Kevin masih terkejut mendengar pria itu mengaku pacar Maura, saat itu juga Maura menepuk bahunya hingga tersadar.


" Ngapain kamu bengong? udah ga usah dengerin dia, tukang tipu itu!" ujar Maura.


" Siapa dia May? " tanya Kevin.


" Kan sudah kubilang, dia itu penipu! " kata Maura kesal.


Orang yang sedari tadi dibicarakan hanya diam saja, tetapi setelah mendengar ucapan Maura tadi kesal juga dia.


" Sedari awal kau mencari perhatian padaku, menimpuk kepalaku dengan kaleng dan tadi kamu mencium bibirku." Kata pria itu datar.


" A-apa? kamu menciumnya Maura? wahh, agresif juga kamu " kata Kevin berdecak sambil melihat Maura tak percaya.


" Hei, jaga bicaranya yah! dan kamu jangan ikut-ikutan yah! " matanya melotot kearah Kevin.


Sementara mereka masih berdebat, ada dua orang yang sedang menghampiri mereka.


" Permisi.. " salah satu dari mereka menyapa.


Pria misterius itu tadi agak sedikit terkejut dengan kedatangan mereka.


' Kenapa mereka ada disini? jangan-jangan mereka membututiku dari tadi, berarti mereka melihat apa yang kami lakukan tadi?. Ah, mati aku, batin pria itu.


" Kalian, kenapa ada disini? " tanya Kevin penasaran dan juga terlihat tanda tak sukanya itu.


" Wah, kita bertemu lagi pak. Apa kabar? " Kata Julian, jurnalis yang pernah Kevin dan Maurice temui itu.


" Baik, tidak disangka bakalan ketemu kalian lagi. Kali ini apa lagi? berita yang mana lagi yang kalian kejar? " terlihat sorot matanya agak tajam melihat Julian dan Joanna di sana.


" Ah, kamu bisa aja. Hehe.. tapi benar juga sih lagi meliput berita, ga terlalu besar kayak kemarin. Berita kecil tapi efeknya besar " kata Julian dengan senyuman mengembang membayangkan efek berita yang akan mereka liput disiaran Tv nanti.


" Ck, kalian sibuk dengan rating acara Tv tapi melupakan perasaan orang lain yang kalian liput " kata Kevin dengan nada ketus.


" Heh, kau mengenal mereka? " tanya Maura penasaran.


" Iya, tak sengaja ketemu sama Maurice di rumah sakit waktu itu. " Jawab Kevin.


" Ketemu di rumah sakit? kenapa? " Maura nampak heran sekali.


" Waktu itu kami bertemu dengan mereka sedang mengobrol dengan bos besar, pemilik salah satu perusahaan besar di kota ini. " Jawab Joanna yang sedari tadi diam saja.


Sebenarnya dari tadi dia diam sedang memperhatikan Maura diam-diam.


Ternyata benar kata mereka, gadis ini tidak hanya cantik, tapi ceria juga terkadang galak apalagi kalau ketemu salah satu temannya itu. Yaitu pria misterius itu.


" Wah, kalian menusukku dari belakang yah? kalau ada bisnis besar ngajak-ngajak dong! " Maura manyun salah faham.


Dikiranya para sahabatnya itu sedang melakukan bisnis, mendengar kata pemimpin perusahaan disalah satu perusahaan besar di kota New York ini.


" Otakmu itu, bisnis mulu. Udah habis sekolah langsung kerja aja di perusahaan Papamu. " Ledek Kevin.


Maura mendengus kesal, dia sama sekali tak tertarik dengan perusahaan yang Papanya bangun itu.


Dia bercita-cita ingin memiliki kebun besar suatu saat nanti, mengenang masa lalunya bersama mendiang Mamanya.


" Jadi, siapa korban itu? " tanya Kevin sambil menghindari tatapan Maura yang terlihat galak itu.


" Maurice, Maurice Gilbert. Mm, sepertinya pernah mendengar nama itu.. " kata Julian terlihat sedang memikirkan sesuatu.


" Ah! gadis itu, dia yang bersamamu waktu itu kan?! " Kata Julian terlihat senang setelah mengingat kembali.


Melihat itu, Kevin maupun Maura terperangah tidak percaya. Bagaimana bisa dia bisa berekspresi seperti itu, sedangkan orang yang dia bicarakan sedang sekarat koma.


" Dasar tak punya hati! " kata Maura dengan ketus, dia memalingkan mukanya menahan emosi.


Sadar akan kesalahannya, Julian buru-buru memberi klarifikasi.


" Maaf saya tak bermaksud begitu, saya hanya senang bisa mengingatnya kembali.. " kata Julian terlihat menyesal.


Dan sampai saat ini dia belum bangun dan tak tahu nasib orang tuanya sekarang bagaimana! sekarang kalian akan meliput apa tentangnya? seorang anak yang membunuh orang tuanya?!


Tanpa tahu berita yang sebenarnya, kalian akan menghancurkan perasaan dan jiwanya. " Kata Kevin penuh amarah.


Sedangkan Maura mencoba menahan emosinya, hingga tak terasa napasnya terasa sesak.


Hatinya sakit melihat nasib sahabatnya itu, tak terasa air matanya menetes mengalir di pipi lembutnya.


Dia menyeka air matanya dengan kasar, lalu pergi meninggalkan mereka dengan perasaan gusar.


Dia diikuti oleh pria misterius tadi, entah mengapa ada perasaan sakit melihatnya bersedih dan menangis seperti itu.


" Maafkan kami, jika ini lancang. Jika kamu tak mengizinkan, kami takkan meliput berita ini.


Kami permisi dulu, sekali lagi kami mohon maaf. " Kata Joanna sambil menarik tangan Julian yang masih mematung dihadapan Kevin.


Dia sama sekali tak mengira akan mendapat respon seperti itu dari Kevin maupun Maura.


" Percayalah, aku tak bermaksud seperti itu Joanna. " Kata Julian sambil menunduk menyusuri koridor rumah sakit itu.


Mendengar hal itu, langkah Joanna terhenti, dia menatap rekan sekaligus kekasihnya itu sambil tersenyum.


" Hei, tenanglah. Aku mengerti sekali apa yang kamu maksudkan, anggap saja perkataan Kevin tadi hanya emosi sesaat.


Seperti yang kita tahu, Maurice adalah cintanya wajar saja jika dia bersikap begitu.


Apakah kau akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi padaku? " Tanya Joanna tiba-tiba.


" Ya Tuhan, jangan asal kamu ngomong. Aku sangat mencintaimu, takkan kubiarkan kamu terluka sedikitpun! " Kata Julian sambil memeluk Joanna.


Joanna senang kekasihnya itu kembali tenang, dan membalas pelukannya.


Sementara itu, Kevin masih memandangi Maurice lewat kaca jendela kamar dimana Maurice dirawat itu.


Air matanya menetes mengalir di pipinya itu.


" Maafkan aku, seharusnya aku ada disisimu saat kamu kesulitan.. " ujarnya sambil menangis menatapi Maurice dengan sendunya.


***


Di lain tempat, sadar dirinya diikuti Maura mempercepat langkahnya menyusuri koridor rumah sakit itu.


Karena pikirannya larut berkecamuk memikirkan sahabatnya itu, dia tidak sadar langkah kakinya sedang menuntutnya kemana.


Dia terhenti sejenak, melihat disekitarnya. Tempat yang begitu asing buatnya. Lorong itu begitu panjang, sangat berbeda dengan di rumah sakit.


" Dimana aku? tempat apa ini? " Katanya heran.


Tiba-tiba tengkuknya merinding, seperti ada sesuatu yang meniupnya. Dingin sekali..


Saat dia melihat kearah belakang, tak ada apapun di sana. Dia berusaha tenang, menyusuri lorong itu, yah lebih tepatnya lorong.


Tidak ada lagi lantai keramik, dinding beton atau atap plafon lagi. Yang ada lantai semen, dinding batu yang tersusun rapi sampai ke atapnya.


Terlihat ada beberapa lilin yang menerangi jalan itu, sedikit cahaya yang menerangi lorong itu.


Membuat Maura agak takut juga, dia harus keluar dari tempat ini. Apalagi samar-samar dia mendengar ada yang memanggilnya.


" Maurraaa... " Terdengar suara lirih menggema.


Seketika Maura merinding sendiri, apa itu?


......................


Bersambung