RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Kisah Balaputradewa Dan Dewi Srikandi


Maura berada disuatu kamar yang cukup luas,kesan mewah cukup terlihat disana. Ukiran dan ornamen bernuansa emas yang melekat menandakan tempat itu sangatlah berkelas.


Dia diberikan pakaian yang indah,pakaian khas ditempat itu. Begitu cantik dan anggun, beberapa makanan dan minuman juga tersedia yang cukup menggugah selera makannya.


Setelah selesai semuanya,dia dipanggil untuk menghadapi Maharaja Balaputradewa dan saudarinya yang merupakan Putri Mahkota yang telah menikah dengan salah satu Raja Majapahit sebelumnya.


" Mari tuan putri,silakan duduk dihadapan kami. Sesuai dengan janjiku sebelumnya,bahwa aku akan menceritakan semuanya kepadamu. Semua kebingunganmu akan dijelaskan semuanya." Kata Putri Mahkota.


"Aku adalah Putri Mahkota Kenanga Ayu,aku merupakan saudari Maharaja Balaputradewa yang merupakan calon suamimu. Tentunya itu merupakan kisah dimasa lalu, dimasa sekarang kalian bukan siapa-siapa.


Tuan putri, ada beberapa hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dimana hal yang tak mungkin bisa menjadi mungkin, aku yakin engkau takkan percaya sampai kau mengalaminya langsung. Dan kuharap mulai saat kau percaya dengan apa yang kau alami saat ini meskipun itu aneh dan mustahil.


Tuan putri, apakah kau percaya dengan reinkarnasi? Apakah kau percaya kekuasaan Tuhan? apakah kau juga percaya, bahwa didalam dirimu juga tumbuh malaikat penjaga dan pelindung dirimu? jika pertanyaan ini diutarakan kepadaku,maka jawabku iya." Katanya lagi.


Maura sama sekali tak mengerti apa yang diucapkan Putri itu,bahasa yang penuh tatakrama dan santun sama sekali tak akrab ditelinga nya.


"Maaf Putri,bisa dijelaskan langsung ke intinya, saya masih kurang faham." Kata Maura berusaha tetap sopan.


Putri Kenaga Ayu tersenyum,dia sangat mengerti bahwa mereka berasal dari tempat yang berbeda, maka cara bicara dan sikap pun pasti berbeda.


" Tuan putri, engkau merupakan reinkarnasi dari Dewi Srikandi Putri Dadar Bulan. Di masa dulu,kau merupakan calon istri adikku Balaputradewa. Kalian terpisah oleh peperangan, engkau seorang putri mahkota juga merupakan seorang srikandi yang memimpin peperangan itu.


Engkau mati ditangan seorang pengkhianat, yang membuat adikku mengamuk menjadi seorang Raja yang kejam. Hingga akhir hayatnya dia meninggal, dia tetap mencintaimu dan rasa cinta itu tak berubah.


Meskipun dia sudah menikah dengan wanita lain, tetap perasaan itu tak hilang. Dia dinobatkan sebagai seorang Maharaja, tapi tak ada Maharani disampingnya. Ratu sebelumnya hanya merupakan status istri dan ratu biasa, tapi bukan pendamping Maharaja seutuhnya. Karena Balaputradewa tak mengizinkannya, untuk mendekatinya saja ratu tak mampu.


Dan sebab itulah dia mati ditangan ratu itu, dia diracuni hingga mati sebab rasa sakit hati dan kekecewaan yang dirasakan oleh ratu." Katanya.


"Dan apa hubungannya denganku?" Tanya Maura penasaran.


"Tuan putri, sebab kematianmu dulu berhubungan dengan kematian Maharaja. Dijaman dulu, mungkin juga tak tertulis disejarah hiduplah seorang penyihir kejam, dia pengabdi iblis dan banyak korban yang mati ditangannya.


Yang mengerikan dia juga memiliki pengikut setia berjumlah ribuan dan bahkan puluhan ratus ribuan pengikutnya. Kita tak hanya melawan penjajah atau berperang melawan kerajaan yang berebut wilayah kekuasaan. Kita juga harus berperang melawan kezaliman dan kekejaman yang mengakibatkan banyak korban melebihi korban peperangan dengan kerajaan lain. Ibarat kata, kita melawan kerajaan iblis yang kejam bukan hanya harta rampasan, mereka bahkan merampas anak perawan dan bayi untuk dijadikan tumbal sebagai seserahan kepada sang iblis." Katanya menjelaskan.


"Dan kau juga ditugaskan menjadi penjaga sekaligus pelindung para raja dan sultan di jaman itu, kau memiliki kekuatan yang sangat luar biasa yang tak dimiliki oleh orang lain.


Bahkan, sekelas panglima atau jendral pemimpin perang pun bukan tandingannya. Makanya kau ditugaskan menjadi punggawa dan satu-satunya srikandi dipasukan itu.


Tidak mudah menjaga amanah dan beban begitu besar dan berat, banyak yang mengundurkan diri karena tak kuat dan bahkan menjadi pengkhianat, karena penyihir itu pandai ber muslihat memainkan trik untuk menggoyahkan iman mereka.


Hingga pengkhianatan itu terjadi,kau mati ditangan salah satu punggawa yang berkhianat dan membawa salah satu benda pusaka keramat. Benda yang bisa menjadi senjata melawan penyihir itu, dan Jaman berubah hingga ribuan tahun berlalu.


Hingga sampailah kau dititik ini, kau bereinkarnasi untuk kembali merebut benda pusaka itu dan melawan keturunan penyihir yang masih hidup, juga melindungi orang-orang dari pengaruhnya." Kata putri mahkota menjelaskan.


Lalu dia memperlihatkan sebuah gambaran didepannya, seperti layar besar didepannya itu. Terlihat disana Bik Marni, Gerald, dan Camelia duduk bersimpuh dihadapannya.


"Kau lihat disana, ada kucing yang memakai kalung giok delima sakti. Kalung itulah merupakan benda keramat itu, dan arwah wanita itu merupakan cucu keturunan sang pengkhianat.


" Tapi Camelia merupakan gadis yang baik, dia tidak jahat. Dia bisa bersikap seperti itu karena sakit hati dibunuh oleh arwah jahat." Kata Maura masih tak percaya jika Camelia akan berubah menjadi roh jahat.


"Apakah kau melupakan kejadian tadi,saat dia hendak menyerangmu? Dia sudah tahu kekuatan kalung itu, dia tak ingin kau memilikinya. Dia ingin menggunakan kekuatan kalung itu untuk balas dendam, dan kau tau kegunaan kalung itu bukan untuk hal semacam itu.


Jangan terbawa emosi, tetaplah bersikap tenang. kontrol emosimu, dan kau tau jiwa Srikandi berada ditubuhmu untuk menjagamu dan orang-orang disekitarmu dari gangguan penyihir itu." katanya mengingatkan Maura.


"Baiklah, aku cukup mengerti maksudmu. Tapi ada satu hal pertanyaanku, apakah ini semua ada kaitannya dengan kematian mendiang Mamaku?" Kata Maura.


"Iya, benar sekali. Mendiang Ibumu merupakan keturunan langsung dari Kesultanan Sriwijaya yang merupakan musuh besar penyihir itu.


Mereka mengirimkan jin penarik tumbal yang mengikat tubuhnya, karena Ibumu sudah ditandai oleh sebuah benda untuk dijadikan tumbal penyihir itu." Kata putri mahkota.


Mendengar hal itu Maura menjadi sedih dan geram, dia ingin membalaskan dendam Ibunya.


Seolah menyadari hal itu, putri mahkota mengingatkan Maura untuk tetap tenang tidak terbawa emosi. Karena emosi yang berlebihan atau rasa benci dan dendam bisa membawa kita keterpurukan lebih dalam.


Setelah penjelasan dan pertanyaan Maura semua telah terjawab dan misteri kematian Mamanya terungkap, Maura menjadi tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.


Hanya saja putri mahkota maupun Maharaja Balaputradewa tak menjelaskan siapa penyihir itu, dan siapa saja musuh mereka atau teman yang akan membantunya nanti.


Maura diantar kembali pulang oleh Balaputradewa langsung sampai ketepi danau, depan mereka seperti ada pintu cahaya transparan seperti cermin, yang siap mengantarkan Maura pulang.


"Terima kasih Maharaja, atas sambutan dan pelayananmu yang luar biasa. Aku akan menunaikan tugas yang belum dituntaskan, doakan aku bisa membalaskan dendammu dan kau bisa kembali bersama dengan Dewi Srikandi yang asli." Kata Maura sambil tersenyum.


Dia mulai memasuki pintu cermin itu sambil melambaikan tangannya kepada Maharaja, dan dibalas dengan senyuman oleh Balaputradewa.


"Seandainya itu kamu dewiku, alangkah bahagianya hatiku. Aku sangat merindukanmu." Katanya sambil tersenyum getir.


Ketika dia hendak berbalik, ada seseorang yang keluar dari balik pintu cermin itu.


"Maura, kenapa dia kembali lagi. Apa ada sesuatu lagi?" Katanya bergumam heran.


Lalu dia kembali berbalik dan mengarahkan pengawalnya untuk menanyakan Maura untuk keperluan apa lagi.


"Maharaja Balaputradewa, kekasihku yang sangat aku kagumi. Apakah kau tak merindukanku?" Kata sosok itu.


Balaputradewa kaget tak percaya, ternyata itu bukan Maura tapi melainkan Dewi Srikandi Putri Bulan Dadar yang asli.


Dia menangis terharu,setelah penantian panjang, akhirnya kisah sedih ini berlalu juga. Hari-hari bahagianya akan tiba.


Dan tentu saja setelah tugas mereka sudah selesai baru kebahagiaan sejati itu tiba.


......................


Bersambung