
Dalam hati Maura bertanya-tanya apa yang sebenarnya yang dipikirkan oleh Dewi Srikandi? Mengapa dia terdengar risau sekali.
Dia ingin cepat-cepat belajar banyak lagi soal ilmu pergaiban ini, biar bisa mengerti dan memahami banyak hal lagi. Terutama soal telepati dan sugesti yang dia rasakan bersama Dewi Srikandi.
Dalam hal ini, dia harus tahu banyak hal terutama masa lalu Dewi dulu. Agar dia bisa bersikap bagaimana nantinya jika bertemu lagi dengan masa lalu Dewi.
"Kita pulang aja duluan yah, Maurice akan diantar oleh Kevin. Biarkan saja dulu mereka berduaan," ujar Maura.
"Sebaiknya jangan Maura," sahut Dewi Srikandi.
"Kenapa, apanya jangan?" tanya Maura.
"Mereka kini dalam bahaya juga, karena musuh-musuhmu kemungkinan sudah mengetahui siapa saja orang-orang terdekatmu.
Apalagi indra keenam mereka mulai aktif, mereka sudah mulai peka dengan hal-hal gaib ini" ujar Dewi menjelaskan.
Maura terlihat bimbang, dia tidak ingin sahabat-sahabatnya itu dalam bahaya, tapi dia juga tak ingin mengganggu waktu privasi mereka.
Dewi Srikandi sepertinya memahami Maura, lalu dia mengajaknya mengawasi mereka dari jauh.
Saat mereka baru sampai dan duduk di salah satu tempat duduk yang tak terlalu jauh dari keduanya, tiba-tiba saja Maura dikejutkan oleh pemandangan mengerikan.
Terlihat Kevin dan Maurice sangat tegang sekali, terutama Kevin dia sepertinya melihat sesuatu yang mengejutkannya.
Sedangkan Maurice terlihat kaku dan ketakutan, menyadari sesuatu merayap dari belakangnya.
Terlihat tangan penuh luka dan bercak darah, bau anyir merebak di sana ditambah suara rintihan menyayat hati.
Mereka tahu itu bukan suatu hal biasa, dan bukan juga kerjaan orang iseng. Karena sebelumnya juga mereka pernah ngalamin hal ini.
"Hei berdua! Bengong aja, pada ngapain kok tegang amat. Si Kevin gak ada uang buat bayar makan yah?! Haha!" Kata Maura menyadarkan mereka berdua.
Kedua terlonjak kaget dan tergagap bersamaan, karena baru kali ini mereka berinteraksi langsung dengan makhluk tak kasat mata.
Sebelumnya Maura langsung buru-buru menghampiri mereka, dia tahu para makhluk itu tidak akan berani jika berhadapan langsung dengannya.
"I-itu tadi ada-" ucapan Kevin terhenti, saat dia menatap Maurice lagi makhluk tadi sudah tak ada.
Maurice juga terlihat celingukan seperti mencari sesuatu yang tak terlihat, sedangkan makhluk tadi yang mau kabur sudah dihajar oleh Dewi Srikandi langsung.
"Sudah, sudah... Nanti di rumah saja ceritanya, sekarang kita pulang dulu" ujar Maura seraya pergi meninggalkan mereka berdua yang masih bengong.
Kevin dan Maurice saling bertatapan heran, kenapa sepertinya Maura mengetahui sesuatu. Apakah dia juga melihat apa yang mereka lihat?
Padahal mereka belum berbicara atau menunjukkan sesuatu kepadanya, Kevin membayar semua makanan mereka.
Mereka berlalu pergi menuju apartemen Maura, sepanjang jalan mereka hanya terdiam larut dalam lamunan masing-masing.
Banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan Kevin pada Maura, tapi dia tahan sampai apartemen saja.
Begitu juga dengan Maurice, dia penasaran apa saja yang tidak dia ketahui soal sahabatnya itu. Begitu banyak misteri didalam hidup Maura.
Berbeda dengan Maura, dia juga bingung harus menjawab apa jika teman-temannya nanti bertanya. Dia bisa tahu dari sikap mereka, akan banyak pertanyaan nantinya untuknya.
*
Setelah sampai di apartemen, Maura buru-buru keluar dari mobil menuju lobby apartemennya.
Dia sengaja menghindari mereka berdua, tambah penasaran saja Kevin dan Maurice kepadanya.
Mereka mengejar Maura, tapi sayang anak itu sudah naik ke atas apartemennya.
"Ada apa dengannya? Apa dia tahu sesuatu?" Tanya Kevin.
"Ayo kita naik keatas, mari kita tanyakan langsung pada anak itu. Bikin penasaran saja si Maura" ujar Kevin.
Saat mereka naik kedalam lift, semua baik-baik saja. Tiba ruangan kecil itu menjadi sempit sekali.
Mereka menyadari ada yang tidak beres dengan ini, Kevin dengan setengah keberaniannya menghentakkan kakinya.
"Pergi! Jangan ganggu kami!" Teriaknya.
Tiba-tiba lift terhentak, diam tak bergerak. Suasana sepi dan sunyi. Tidak ada angin atau suara apapun disana.
Mereka berdua merasa berada di alam lain, dan benar saja pintu lift tiba-tiba terbuka. Terlihat sepanjang lorong diluar sana begitu gelap gulita.
Berlahan tapi pasti, di setiap sudut dinding itu mulai bercahaya oleh sinar api obor yang menempel di dinding.
Ragu-ragu mereka keluar dari lift ingin melihat ada apa diluar sana, saat mereka benar-benar keluar dari lift, pintu lift itu menutup dengan kencang dan langsung bergerak keatas.
Tidak menyisakan apapun di sana, hanya dinding tanah yang mengering, bukan pintu lift lagi.
Sepertinya mereka terjebak di sana, Maurice terlihat pucat sekali badannya gemetar dia takut sesuatu yang menyeramkan akan muncul dari balik kegelapan itu.
Kevin berusaha menenangkannya, walaupun dia sebenarnya takut juga.
"Kita akan telusuri lorong ini, kita lihat ada apa diujung lorong ini" kata Kevin.
"Jangan, aku takut! Bagaimana kalau ada sesuatu di sana, yang ada nanti kita akan terjebak disini selamanya" ujar Maurice takut.
"Justru itu, kalau kita masih disini maka kita akan terjebak selamanya disini.
Kau lihat di sekeliling kita tidak ada apa-apa, hanya ada dinding tanah berlumut dan basah. Bau dan kotor, apa kau selamanya ingin berada disini?" Tanya Kevin serius.
Maurice menggeleng cepat, lalu Kevin menarik tangannya dengan cepat berjalan kearah lorong itu, dia mengambil salah satu obor yang melekat didinding sebagai penerang jalan mereka.
Maurice mengikuti Kevin dari belakang, dia tidak mau melepaskan pegangan tangannya. Sesekali dia melihat kebelakang, untuk memastikan tidak ada apa-apa di sana.
Mereka terus-menerus menyelusuri lorong itu, kaki mereka sudah lelah tidak ada ujungnya lorong ini. Mereka memutuskan untuk istirahat sejenak.
Sementara itu.
Maura menunggu Maurice dan Kevin dengan gelisah di apartemennya itu. Dia pikir mereka akan menyusulnya dengan berbagai pertanyaan di kepala mereka.
Maura sempat bersembunyi di kamarnya, tapi semakin lama semakin aneh rasanya. Dia tidak mendengar suara atau langkah kaki orang diluar, dia keluar kamar tidak ada mereka di sana.
Maura masih menunggu sabar kedatangan mereka, hingga firasatnya mengatakan ada yang tidak wajar di sana.
Saat itu, Dewi Srikandi tidak bersamanya. Saat mereka pergi, Dewi sibuk menghajar makhluk yang mengganggu Maurice dan Kevin.
Dia pikir akan selesai dengan menghajar makhluk itu, tapi tidak seperti itu kenyataannya. Makhluk lainnya datang bersama kawanannya menyerang Dewi Srikandi secara bersamaan.
Dewi Srikandi sempat kewalahan, tapi pada akhirnya dia berhasil juga melumpuhkan mereka semua.
Entah mengapa, dia merasakan firasat buruk yang sama dengan Maura. Dia merasa ini jebakan untuk mereka.
Dewi Srikandi melesat pulang menuju apartemen Maura, dia melihat Maura di sana dan baik-baik saja. Dia merasa senang, tapi ada yang aneh...
Kemana perginya para teman-temannya itu, Kevin dan Maurice? Apa mereka dalam bahaya?
......................
Bersambung