
Maura terus menelusuri lorong itu, lorong panjang yang tidak ada ujungnya itu. Dia mengabaikan seruan tadi.
" Aku harus keluar dari tempat ini, Ya Tuhan tempat apa ini, kenapa tak ada ujungnya.. " kata Maura.
Dia nampak kelelahan, berhenti sejenak dan menyenderkan bahunya disisi dinding lorong itu. Dia merasakan sesuatu yang menetes di bahunya, sesuatu yang dingin.
Saat dia menoleh kearah bahunya, ada tetesan air yang jatuh dari atas lorong itu. Awalnya hanya setetes yang jatuh, lama-lama semakin banyak tetesan air itu turun.
Maura memperhatikan disekitarnya, dari ujung lorong dia berasal sampai ujungnya lagi banyak sekali tetesan air yang jatuh dari atap lorong itu, deras sekali seolah-olah itu hujan dari langit.
Kraaak... Byuuurrr..!
Bunyi suara atas lorong itu, seperti ada retakan besar sekali diatasnya. Dan benar saja diujung lorong tempatnya tadi seketika atapnya runtuh diiringi tumpahan air bah yang begitu besar.
Melihat bahaya yang sedang menuju kearahnya, Maura lari sekuat tenaga. Tetapi itu disusul oleh retakan lain juga.
Dibeberapa sisi kanan dan kiri dinding lorong itu juga terjadi retakan dan menyemburkan air sepeti air pancuran. Belum lagi di atas lorong itu juga mulai ada retakan lagi.
Maura berpacu dengan waktu, dia harus keluar dari lorong ini. Jika tidak dia bisa kena timpah reruntuhan tersebut dan hanyut oleh air bah yang semakin deras itu.
Dan seperti diperkirakan, lorong itu tidak ada ujungnya. Dia kelelahan, tenaganya mulai menipis dan pasrah pada nasibnya.
Belum lama itu, air bah menyapunya dari belakang mendorongnya terus maju kedepan. Seketika lorong itu sudah penuh dengan air, dan semua batu bata yang melapisi dinding dan atap lorong itu retak semua.
Didalam genangan air itu, Maura bisa melihat di setiap dinding dan atap lorong itu, begitu banyak kerangka manusia yang tertanam di sana.
Entah ada berapa banyak, yang jelas itu memenuhi seluruh dinding dan atapnya.
" S*al, tempat apa ini. Dan kemana ujungnya lorong setan ini, sampai kapan aku terus bertahan disini. " Maura membatin.
Untungnya dia jago dalam berenang dan bisa menahan napas sedikit lebih panjang didalam air. Yang dia sesalkan ialah bermalas-malasan saat berolahraga pagi.
" Coba waktu itu lebih giat lagi berlatih dan menganggap semua latihan itu serius, mungkin aku takkan terjebak disini.
Setidaknya aku bisa lari lebih cepat, dan mungkin menemukan ujung lorong ini " ucapnya membatin.
Seketika dia terhempas dari lorong itu, Maura lega akhirnya dia keluar juga dari lorong itu. Tetapi tidak sesuai yang dia harapkan.
Dia berharap akan keluar dari sana muncul disebuah sungai, atau paling buruknya gorong-gorong.
Tetapi ini malah lebih buruk lagi, dia seperti terhempas kedalam danau. dia melihat disekelilingnya, hanya ada rerumputan yang tubuh didalam air danau dan bebatuan di tebing sisi danau yang sudah berlumut.
Taka ada ikan seekor pun di sana, airnya bersih dan bening. Saking beningnya dia bisa melihat sesuatu yang berenang dari bawah dasar danau itu menujunya.
Maura terlihat mengambang didalam air danau itu, tidak tahu seberapa besar dan dalamnya itu. Yang jelas dia nampak begitu jauh dari atas permukaan air danau itu.
" Astaga, itu ular. Ularnya besar sekali. Ya Tuhan, aku harus bagaimana apa dia akan memakanku? " Maura terlihat panik dan takut.
Dia berusaha berenang keatas permukaan, untuk menghindari ular raksasa itu. Tapi ular itu sudah tepat dikakinya, Maura bisa merasakan sesuatu yang menyentuh telapak kakinya itu.
" Aku pasrahkan diriku padaMu Tuhan.. " dia memejamkan matanya, dan sudah siap akan menjadi santapan ular itu.
Beberapa saat kemudian, dia merasa ada yang aneh.
" Apa aku sudah mati, kenapa aku tak merasakan apa-apa.. " ujarnya sembari membuka matanya pelan-pelan.
Betapa terkejutnya dia, saat membuka matanya dia langsung berhadapan dengan ular itu. Ular itu sangat besar mungkin sebesar pohon beringin.
Mata ular itu menatapnya dengan kepala tegak, sedangkan Maura dalam posisi duduk bersila sambil menyatukan kedua jari tangannya seperti posisi yoga.
Dia tidak sadar akan posisinya itu, sampai dia menyadari bahwa sedari tadi dia sedang duduk di atas tubuh ular itu,
" Jangan takut, aku takkan menyakitimu. " Kata ular itu.
" Siapa kau, kenapa aku ada disini? " tanya Maura dengan perasaan takut juga penasaran itu.
" Apakah kau tidak penasaran, kenapa kau yang manusia bisa bertahan dan bernapas lama didalam air ini? bukannya itu mustahil..? " Ular itu menjawab dengan pertanyaan juga.
Maura tersentak, dia berusaha menahan napasnya dengan menutup kedua mulutnya itu.
" Hm, anda lucu sekali nona, itu tak ada gunanya. Anda bebas bernapas disini " ujar ular tersebut.
" Apa itu tandanya aku sudah mati? " tanya Maura ketakutan.
" Tidak, anda masih hidup. Sesuatu yang menjaga anda yang membuatmu masih hidup.." kata ular itu lagi.
" Sesuatu? apakah Dewi Srikandi? " gumam Maura.
" Mari saya hantarkan anda kepermukaan.. " ujar ular itu sembari berenang menuju permukaan air danau itu.
***
Maura terbangun karena ada sentuhan hangat diwajahnya, saat dia membuka matanya ia sedikit menyipitkan matanya karena silau oleh cahaya yang ada di sana.
" Dimana aku? " katanya sambil memperhatikan sekitarnya.
Dia terdampar ditepi danau, tapi anehnya dia merasa tak asing dengan tempat itu. Dia melihat ada sesuatu ditengah danau itu, kepala ular tadi terlihat diatasnya sambil menatapnya.
" Dia Zea, penjaga danau ini. Kakak tak perlu takut padanya. " Terdengar suara anak kecil disampingnya.
Maura menoleh kearah suara itu, terlihat sesosok tubuh kecil yang duduk disampingnya tersenyum manis dan nampak ramah padanya.
" Bawa dia dari sini, jangan sampai Arion Gaharu dan pengikutnya yang lain melihatnya " kata ular itu.
" Ayo kak, ikut aku.. " kata gadis kecil itu.
" Kamu siapa? dan ular itu tadi apa? " katanya masih penasaran.
" Ku Ceylin Margodova, dan ular tadi Zea penjaga danau itu. Dia barusan menyelamatkan kakak loh, kalau tidak kakak takkan bisa pernah kembali.
Dan akan terperangkap didasar danau atau dilorong itu. " Katanya menjelaskan.
" Ternyata dia baik yah.. " kata Maura sedikit lega.
Dia mengikuti gadis kecil itu menyusuri hutan dekat danau itu, terdengar tawa kecil dari mulutnya.
" Baik? haha.. jika dia memang baik, dia tidak akan memiliki segitu banyak koleksi kerangka dikediamannya. " Jawab Ceylin.
" Maksudmu apa, aku tak mengerti? " tanya Maura.
" Apa kakak sebelum tenggelam didalam danau itu, melewati lorong panjang yang tak berujung? " Tanya Ceylin lagi.
" Betul, bagaimana kamu tahu? " Kata Maura sedikit terkejut.
" Apa ada yang aneh disitu, seperti banyaknya kerangka yang menempel di seluruh dinding lorong itu? " Tanyanya lagi mengabaikan pertanyaan Maura tadi.
Maura hanya terdiam sambil mengingat kembali, dan semuanya benar.
" Kakak tahu, bagaimana dia menjerat manusia datang ke lorong itu? Pikiran manusia yang campur aduk, rasa sedih, sakit terluka, amarah tak terbendung tangis kekecewaan dan perasaan buruk lainnya.
Itulah salah satu cara mereka masuk kedalam lorong itu, dan tempat itu juga tempat tinggal Zea ular raksasa itu.
Dan kakak juga targetnya sebelum tahu kakak itu siapa. " Katanya menjelaskan dengan baik.
Maura masih belum mengerti, tapi yang jelas suatu keberuntungan baginya bisa selamat dari ular itu.
" Lantas Arion Gaharu itu siapa? kenapa dia memintamu membawaku sebelum orang itu datang? " tanyanya lagi.
Langkah gadis itu terhenti, dia menoleh kearah Maura yang terlihat kebingungan.
" Jangan sebut namanya jika tak ingin celaka, tanah ini tanah perjanjian antara seorang penyihir jaman dulu dengan seorang Raja yang sangat berkuasa.
penyihir mendapatkan tanah diseberang danau itu, sedangkan Raja memiliki tanah di hutan ini.
Sedangkan danau itu pembatasnya, tidak boleh ada yang melanggar jika tidak ingin menjadi santapan Zea, si ular penjaga.
Untuk urusan ini dia netral tak memihak siapapun, dia hanya patuh dengan peraturan yamg dibuat oleh Raja terdahulu. Raja yang membagi tanah ini.
Dan kau tahu, Raja itu berkaitan denganmu. Aku rasa kakak juga tahu itu. " Katanya menjelaskan dengan baik.
" Apakah Raja itu Balaputradewa? " pikir Maura.
Gadis itu menuntun Maura ketengah hutan, samar-samar dia melihat bayangan dua orang di sana.
Semakin dekat semakin jelas bayangannya, Maura terkejut dia begitu mengenal sosok bayangan itu.
" Om Jhon, tante Anne... " matanya terlihat berkaca-kaca memandang kedua sosok itu.
......................
Bersambung
Kira-kira siapa yah mereka?
Bagaimana ceritanya, kalau seru tinggalkan jejak yah. jangan lupa vote dan hadiahnya, terima kasih..