Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
83


Ru Ansan yang ditatap oleh ke-empat orang itu melangkah mundur takut nyawa kecilnya menjadi mainan mereka. Lin Yuhua benar-benar terlihat kesal dengan kebenaran yang selalu ia temukan sejak Liu Zixia bertukar tubuh.


Lin Yuhua kali ini benar-benar tahu apa artinya penyesalan setelah merasakan luka dari penyakit yang disebabkan oleh berbagi suami. Liu Zixia yang sedang berbaring di tempat tidur sangat terlihat tenang tanpa beban masalah.


Hanya saja ia mengalami mimpi-mimpi aneh yang bertukar setiap detiknya akan tetapi semua gambar yang ia lihat sangat buram kecuali wajah keempat suaminya saat ini. Liu Zixia terus melalui semuanya hingga kembali ke masa sebelum ia jatuh cinta pada Lin Yuhua.


Setelah melalui semua mimpi menyedihkan itu Liu Zixia akhirnya membuka mata dan air mata yang jatuh di pipinya membuat Liu Zixia sadar kalau semua itu memang dirinya.


"Betapa lucunya diriku, aku menjauh darinya dalam hidup ini tanpa tahu kalau sejak dulu kami telah terikat oleh benang takdir." Liu Zixia yang sendirian berbicara entah pada siapa.


Saat Liu Zixia masih termenung memikirkan masalah hidup yang telah ia lewati pintu dibuka dari luar. Ye Lian yang ingin melihat keadaan Liu Zixia terkejut bukan main, wajah pucat Liu Zixia tidak terlihat lagi.


Ada arus hangat yang mengalir di dalam perut Liu Zixia tapi dia tidak tahu darimana arus itu berasal. Ye Lian langsung berlari ke arah tempat tidur, ia meraih tubuh Liu Zixia ke dalam dekapan hangatnya untuk merasakan apakah semua ini nyata atau hanya angannya semata.


Liu Zixia juga balas memeluk Ye Lian, kenangan masa lalu tentang bagaimana Ye Lian baik dan peduli padanya semakin membuat hati Liu Zixia menghangat.


"Terima kasih, kau selalu ada di saat aku terpuruk. Selalu menemaniku di saat aku jatuh dan terluka dan bahkan, kau selalu berkorban banyak demi kebahagiaanku." Liu Zixia menangis sedih.


Air mata tulus yang keluar dan membasahi baju Ye Lian, saat keduanya tengah berpelukan ketiga orang lainnya juga ikut masuk dan menemukan adegan itu merasa sangat masam di hati, tapi ada juga kebahagiaan di mata mereka karena Liu Zixia sudah sadar.


Ketiganya mendekat ke arah Liu Zixia dan langsung memeluk dan mencium Liu Zixia untuk melampiaskan perasaan takut yang mereka miliki.


"Kau baik-baik saja kan?" tanya Long Ze lembut.


Melihat kecemasan di wajah suaminya, Liu Zixia menampilkan senyum tulus yang semakin menampakkan wajah putih berseri miliknya.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih selalu ada bersamaku, terima kasih telah berkorban untukku dan terima kasih tetap setia menunggu aku hadir kembali."


Liu Zixia benar-benar berbicara dengan tulus, cinta dan kasih sayang serta kepercayaan yang dimiliki oleh Liu Zixia pada ke-empat pria di depannya terlahir dari hati sejak bertahun-tahun lalu.


"Itu sudah kewajiban kami sebagai suami," jawab Ling Zhi cepat.


Ling Zhi tidak tahu kalau Liu Zixia mengatakan ini bukan untuk sekarang tapi untuk tahun pertama kelahirannya, tahun di mana dia masih tidak bisa diajarkan dengan baik. Tahun di mana dia begitu keras kepala dan belum mengerti arti cinta yang sesungguhnya.


Tahun itu kalau bukan karena melindunginya dari kejahatan Ruan Zu mungkin semuanya masih akan tetap hidup.