Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#48


Aroma harum dari bunga Prem yang bermekaran adalah hal pertama yang memasuki indra penciuman Liu Zixia ketika dia terbangun dari tidurnya.


Rasa lelah yang dirasakan Liu Zixia juga menghilang dengan cepat ketika aroma semerbak itu melayang di sekitar tempat yang ia huni saat ini.


Liu Zixia meregangkan tubuhnya sebelum perlahan-lahan membuka mata dan menemukan kenyataan bahwa mereka sudah berada di tempat tujuan sementara sampai dia bisa belajar bela diri.


"Wangi sekali! Bunga prem dicampur dengan dupa penenang memang adalah sesuatu yang luar biasa," ujar Liu Zixia dengan senyuman manis.


Liu Zixia mencuci wajah dan tangannya sendiri sebelum melangkah ke luar setelah memakai baju luar yang tebal.


"Kau sudah bangun, Sayang?" sapaan lembut yang memasuki telinganya ketika membuka pintu membuat Liu Zixia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Di depan mata Liu Zixia, tepatnya di depan kamar mereka di taman bunga yang dibuat dalam bentuk melingkar itu, ada meja kecil yang bisa dimuat oleh lima orang.


Meja itu terbuat dari batu dengan kursi yang juga dibuat dari batu dalam posisi berbentuk melingkar.


Ye Lian duduk di sana sedang meminum teh dengan elegan ditemani beberapa cemilan yang terlihat menggoda.


Liu Zixia berjalan cepat menuju ke arah Ye Lian sembari memberikan ciuman lembut di pipi Ye Lian yang sukses membuat Ye Lian tersenyum senang.


"Kau nakal sekali sekarang!" goda Ye Lian sembari mencubit hidung Liu Zixia tanpa menyakiti sama sekali.


"Tidak, aku hanya memberikan ciuman kecil pada suamiku! Apakah itu salah?" tanya Liu Zixia dengan wajah polos dan tidak bersalah miliknya.


"Dari mana kau belajar mulut manis seperti itu? Aku sungguh tidak menyangka kau bisa juga seperti ini!" goda Ye Lian lagi.


Liu Zixia hanya tersenyum kecil, salahkan kalau dulu dia menjaga jarak dari lelaki karena rasa sakit yang diterimanya?


Namun baru-baru ini mimpi yang dilaluinya tentang seorang wanita yang begitu dijaga dan dimanja oleh beberapa orang pria membuatnya merasa tenang dan damai.


Hatinya tidak lagi merasakan sakit dan terbelah. Darahnya mulai mengering namun masih tetap meninggalkan jejak luka basah yang butuh proses untuk tertutup dan sembuh.


"Kau selalu cantik dan manis! Kau itu adalah wanita cantik yang paling aku kagumi dan aku cintai!" balas Ye Lian langsung.


Hal itu sukses membuat Liu Zixia malu dan merona.


"Tuan! Nyonya! Ada seorang laki-laki di luar yang ingin bertemu Anda berdua! Dia mengatakan kalau dia sangat mengenal Anda, Nyonya!" Pelayan yang baru di beli oleh Ye Lian masuk dan menganggu kemesraan di antara keduanya.


"Siapa?" tanya Liu Zixia heran sekaligus bingung. Pasalnya mereka baru saja sampai dan belum mengenal orang-orang di sekitar sini.


"Aku juga tidak tahu, Nyonya! Hanya saja dia mengatakan kalau dia sangat mengenal Anda, Nyonya!" Pelayan itu menunduk sembari menatap Liu Zixia dengan rasa takut.


Ling Zhi yang kamarnya tepat berada di sebelah kamar utama pun ke luar ketika mendengar suara keributan.


Melihat Ling Zhi ke luar dari kamar di sebelahnya Liu Zixia menatap Ye Lian ingin tahu.


"Aku akan menceritakan semuanya padamu nanti! Aku punya alasan sendiri," jawab Ye Lian memberitahu.


Liu Zixia mengangguk dan berjalan ke luar rumah utama menuju ke aula yang dipersiapkan khusus untuk menerima tamu. Di belakangnya ada Ling Zhi dan Ye Lian yang mengikuti.


***


Aku mau nanya nih.


Sebagai pembaca apakah Kaka, ibu, om Tante, bapak, adik atau semuanya yang nggak bisa aku sebutin maunya up tiap hari atau gimana?


Soalnya aku takut kalian bosan aja sama ceritaku. Aku tunggu jawabannya ya. Jangan lupa vote, tip, like dan komen dan yang paling penting favorit atau love-nya.


makasih.