
Terima kasih buat pembaca setia aku, jadi gini wkwkwk karena level author belum mau naik ada yang usul bikin cerita baru aja. Nah yang aku takutkan nanti enggak ada yang baca, kira-kira nih ya kalian maunya cerita tentang apa? Jangan yang aneh-aneh karena author sudah aneh 🤣🤣🤣.
#####
Perempuan itu berlari kencang ke arah rumahnya, luka yang dia dapatkan cukup dalam hingga dia harus menahan sakit yang begitu kuat. Dadanya serasa sesak dengan setiap hembusan napas ada darah yang ikut ke luar.
"Ibu!" teriak perempuan itu sesaat setelah dirinya memasuki kediaman keluarganya yang tampak sederhana.
Di sana bahkan tidak ada penjaga seperti kediaman He Yidu, hanya beberapa pelayan wanita itupun sudah berumur tua. Dia berlari kencang menuju halaman ibunya di mana wanita itu tengah duduk sambil minum teh bak ratu di istana.
"Ibu! He Yidu berani menolakku di kediamannya, aku melihat dia membawa pria tampan ke sana, Bu!" Perempuan itu menangis histeris dengan wajah pucat akibat rasa sakit yang dideritanya.
"Apa? Beraninya dia menolakmu, lalu kenapa wajahmu pucat seperti ini?" tanya wanita itu setelah melihat kondisi putrinya yang menyedihkan.
Perempuan itu menangis semakin keras, dia memegang dadanya seolah sakitnya begitu tidak tertahankan lalu batuk-batuk berulangkali. "Dia memukulku menggunakan kekuatannya, Ibu! Kau harus memberiku keadilan, di rumah itu masih belum ada perempuan jadi suaramu masih berhak untuk didengar. Aku ingin pria tampan di kediamannya, Ibu!" rintih perempuan itu dengan suara menyedihkan.
"Kau tenang saja He Yuan, Ibu akan membalas apa yang kau rasakan berkali-kali lipat menyakitkan dari ini. Kita jemput lelaki yang kau inginkan itu besok, sekarang Ibu sangat lelah. Ayah-ayahmu bekerja terlalu keras hari ini," keluh wanita itu dengan senyum mengambang yang malah terlihat menakutkan.
He Yuan mengangguk, dia berjalan tertatih menuju ke halaman rumahnya lalu masuk ke kamarnya. Di kamar He Yuan terlihat seorang pria dalam keadaan terikat dengan tubuh dipenuhi luka, pria itu adalah pria dari keluarga budak yang ia beli dengan harga murah.
"Sekarang kau bebas karena aku sebentar lagi akan mendapatkan suami tampan, kaya dan juga memiliki harta. Mainan seperti dirimu tidak akan berguna lagi bagiku." He Yuan melepas tali yang mengikat tangan budak itu, dia menarik budak yang tidak berpakaian itu ke luar kamarnya, meludahi budak itu lalu menutup pintu dengan keras.
Budak yang tidak memakai pakaian itu berjalan tertatih dengan cepat ke luar halaman namun di luar halaman He Yuan dia malah mendapatkan tatapan lapar dari pelayan perempuan tua yang sudah bekerja lama di d
Di sisi lain, Liu Zixia baru saja ke luar dari ruang miliknya. Sedangkan He Yiza terpaksa tinggal di dalam ruang karena darah iblisnya akan mengundang bencana jika dia ke luar. Yiza jika ke luar akan menjadi buruan para iblis dan manusia yang ingin meningkatkan kekuatan.
He Yidu yang mendengar kalau Liu Zixia ke luar dari ruang miliknya dengan bersemangat datang ke kamar yang dia sediakan untuk Lin Yuhua. He Yidu tampak gugup karena ini adalah interaksi paling dekat antara dirinya dan wanita selain dari anggota keluarganya.
Liu Zixia sudah pulih dengan baik meski bagian pribadinya masih sedikit terasa sakit. Saat ini, Liu Zixia masih berbaring di ranjang memandang putrinya yang akhirnya bisa lepas dari tangan Ye Lian.
"Dia cantik," bisik Liu Zixia lembut.
Zixia membelai pipi gembul milik Yizu, Yizu yang sedang tidur merasa terganggu. Hal itu membuat seisi ruangan menjadi gemas, Liu Zixia terus memperhatikan wajah cantik putrinya dan tanpa sadar sebuah senyuman manis tercipta di bibirnya.
"Dia sama seperti kau baru lahir, tenang, damai dan tidak rewel." Lin Yuhua ikut tersenyum.
Ia membelai wajah Liu Zixia lebih lembut dari saat Liu Zixia membelai wajah Yizu. Saat keluarga harmonis itu tengah memandang wajah cantik Yizu ketukan di pintu membuat mereka melihat ke asal suara.
Ling Zhi berjalan menuju pintu membukanya secara perlahan untuk melihat siapa yang datang ke kamar mereka. Di depan pintu, He Yidu tampak gugup, ke-dua tangannya saling menggenggam dengan erat karena urat biru di kulitnya melotot dengan jelas.
"Ayo masuk!" ajak Ling Zhi ramah, ia membuka pintu sedikit lebih lebar agar He Yidu bisa ikut masuk ke dalam kamar mereka.
Liu Zixia mengernyit, jika mengizinkan laki-laki yang tidak berhubungan untuk masuk ke dalam kamar selain penjaga atau pelayan maka lelaki itu adalah salah satu dari mereka. Zixia ingin melakukan protes keras namun Lin Yuhua dengan cepat menggelengkan kepala mencegah Zixia untuk berbicara.