Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#201


Zixia yang mendengar keributan langsung berjalan ke luar halamannya menuju ke gerbang utama. Melihat kehadiran Zixia di sana pelayan serta penjaga membungkuk hormat dengan rasa penasaran serta kebingungan yang tertulis jelas di wajahnya.


Zixia berjalan dengan kedua tangan berada di atas pinggul, jalannya yang melenggak-lenggok diikuti dua suaminya Ling Zhi dan Lin Yuhua yang bertugas sebagai pengawal, Liu Zixia yang memakai baju merah menyala tampak seperti Phoenix yang begitu menggoda, Lin Yuhua memakai pakaian hitam dengan ketampanan yang tidak bisa disembunyikan. Sedangkan Ling Zhi memakai baju biru laut yang membuatnya tampak lembut.


Sesampainya di gerbang Liu Zixia tampak memikirkan sesuatu cukup lama sebelum senyum aneh terbit di wajahnya. "Buka gerbangnya! Aku ingin melihat siapa yang berani membuat keributan di rumahku," perintahnya dengan nada penuh penekanan.


Penjaga gerbang yang bertugas di bagian dalam langsung membuka gerbang tanpa mendengar perintah ke-dua kalinya. Iya buru-buru menarik pengait yang digunakan untuk mengunci gerbang membuka sebelah pintu.


Melihat pintu terbuka, pemuda itu tampak gembira. Ia berjalan cepat melihat siapa yang datang karena suara Zixia tidak terdengar dari luar. "Siapa kau? Kenapa kau yang ke luar? Di mana He Yidu? Ibu kami saat ini mengalami masalah yang serius," ujar pria itu dengan suara keras yang tidak begitu menyenangkan.


"Kau bertanya siapa aku? Aku Liu Zixia, aku istri He Yidu, dia suamiku sekarang. Kau bertanya kenapa yang ke luar kan, memangnya salah aku ke luar dari rumahku sendiri?" tanya Zixia masih dengan senyuman indah di bibirnya.


Zixia masih berdiri dengan tangan di pinggulnya, dia melihat jalanan yang biasanya ramai kini terlihat sepi seolah Benua Atas tidak memiliki penghuninya lagi. Zixia melangkah ke luar, dia tampak penasaran dengan keheningan yang ada. Hiruk pikuk pasar serta kedai-kedai yang biasanya selalu terdengar kini dia bak pemakaman.


Dia menatap jauh ke gerbang utama yang hanya tampak sedikit dari rumah He Yidu, Zixia merasa kasihan pada He Yidu yang harus lahir dalam keluarga yang seperti itu. Zixia menatap pria muda di depannya dengan tatapan tajam, pria ini jauh lebih baik penampilannya.


"Siapa namamu? Kenapa kau datang ke kediaman kami dan membuat keributan seperti itu?" Zixia memutari pria itu beberapa kali membuat dia merasa risih sendiri.


Dia melangkah mundur mencoba menghalangi pandangan mata Zixia dari tubuhnya. "Ibu kamu sakit, aku hanya meminta He Yidu membantu biaya pengobatan kalau tidak minta dia untuk mencarikan tabib kerajaan untuk mengobati ibu." Dia berkata dengan santai tanpa rasa bersalah sama sekali.


Mendengar penuturan pria itu Zixia mengangguk tanda paham, "meminta bantuan kami? Dia pikir dia siapa? Ibu? Ibu mana yang tega pada anaknya sendiri? Ibu mana yang terus memukul anaknya bahkan ketika dia tahu anaknya tidak melakukan kesalahan? Ibu mana yang tega mengurung anaknya di luar saat badai salju datang? Ayo katakan padaku! Ibu seperti itu tidak pantas dihargai, dia tidak layak untuk itu dan tidak akan pernah layak." Zixia melipat tangannya di dada.


"Aku katakan padamu satu hal, dia bukan ibu kandung suamiku. Dia hanya barang tiruan yang tidak diinginkan semua orang, dia hanya wanita malang yang ingin kebahagiaan dengan merampas kebahagiaan orang lain."