Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#39


Bergerak cepat Lin Yuhua mengelak dari serangan kaki Lin Yunzia sembari menunduk dan menyerang bagian kaki Lin Yunzia yang masih menyentuh sana.


Merasakan bahaya Lin Yunzia melompat tinggi dan mundur ke belakang dengan cepat. Matanya menatap tajam pada Lin Yuhua sembari tersenyum mencemooh.


"Kau yakin ingin menyerangku?" tanya Lin Yunzia sembari mengeluarkan cambuk yang biasa dia gunakan ketika Lin Yuhua kehilangan kesadaran ketika akan berubah menjadi pria dengan mata merah.


"Ya, aku ingin memukuli wajah jelekmu itu kemudian menendangmu dan memaksamu untuk duduk di kursi kaisar!" jelas Lin Yuhua sembari bergerak maju mengambil ancang-ancang untuk menyerang.


Lin Yunzia menendang kursi di sampingnya dengan kuat ke arah Lin Yuhua membuat Lin Yuhua harus menghindari serangan itu saat Lin Yuhua lengah barulah Lin Yunzia melangkah maju untuk ikut mneyerang.


"Kau menipuku?" tanya Lin Yunzia tidak percaya saat hampir saja dia dipukuli oleh Lin Yuhua di wajahnya.


"Trik kecil seperti itu adalah makanan sehari-hari bagiku," ujar Lin Yuhua mencemooh. Lin Yuhua bergerak maju dan hampir saja meraih tangan Lin Yunzia jika dia tidak bergerak ke kanan untuk menghindar.


"Kau!" Lin Yuhua marah karena serangannya berhasil diabaikan oleh Lin Yunzia.


Lin Yuhua melangkah cepat, satu kakinya menendang ke arah bagian bawah namun tangannya bergerak menjangkau ke depan dengan tinju mengarah pada bagian kanan tubuh Lin Yunzia.


"Yang Mulia selir Hua datang menemui Anda!" teriak Kasim Han di luar dengan keras menyebabkan keduanya berhenti dengan cepat.


"Kau lihat! Wanita pengganggumu datang membuat keributan ke tempatku sekarang," keluh Lin Yuhua dengan wajah masam.


Lin Yuhua memilih menghilang dan meninggalkan Lin Yunzia seorang diri untuk bertemu dengan selir Hua.


Lin Yunzia memutar matanya malas sembari berjalan ke luar dengan wajah tanpa ekspresi. Dia sedang seru-serunya berkelahi tanpa kekuatan dengan Lin Yuhua dan wanita bodoh ini malah datang menganggu mereka.


Apalagi saat melihat iring-iringan besar yang menemani Selir Hua.


"Yang Mulia, hamba mendengar jika seseorang mengatakan kalau ditepi sungai menuju ke arah Angkrea ada tanaman obat langka yang muncul di sana tapi hamba belum bisa memastikan apakah tanaman obat itu tanaman yang Anda cari." Selir Hua tersenyum lembut.


Tapi senyuman itu malah membuat Lin Yunzia merasa jijik dan ingin muntah.


'Jika bukan karena aku ingin bersenang-senang di istana dengan bebas aku pasti tidak akan mengambil wanita bodoh ini,' keluh Lin Yunzia di dalam hati dengan cibiran.


'Dia bahkan tidak bisa membedakan mana suaminya dan mana yang bukan? Lihatlah Liu Zixia! Mau seperti apapun penampilanku dia pasti akan tetap mengenali kami berdua!' keluh Lin Yunzia di dalam hati.


Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Liu Zixia bisa membedakan dirinya padahal Kasim Han yang sedari dulu di istana juga susah mengenalinya.


Bahkan beliau sudah dari kecil bersama mereka.


Di sisi lain.


"Kau tidak perlu memakai nama samaran lagi, Zixia!" Ling Zhi berbisik lembut di telinga Liu Zixia saat mereka akan keluar dari gerbang padepokan miliknya.


"Kenapa Sayang?" tanya Ye Lian heran saat melihat Liu Zixia atau Yu Zixia terdiam sejenak.


"Dia tahu namaku?" Entah mengatakan itu pada siapa, Liu Zixia nampak bingung sekaligus heran.