Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#160


Iblis itu masih membeku di tempat, kepalanya bahkan tidak bisa digerakkan sama sekali. Ia menyesal telah menganggap remeh lawannya, dia ingin berteriak atas kecurangan yang dilakukan Ru Ansan namun suaranya terasa ada yang menahan.


"Sampah sepertimu pantas tidak bisa berkembang dengan baik," ejek Ru Ansan dengan tawa yang terdengar memikat di telinga. "Ingin memakanku? Apa kau punya kemampuan? Sayang makhluk lemah seperti dirimu tidak akan bisa mengenyangkan perutku."


Ru Ansan mengeluarkan pedang putih miliknya tapi kali ini dia hanya mengeluarkan satu pedang saja. Pedang itu ia satukan dengan benda putih bersinar di tangannya memancarkan cahaya putih silau menyakitkan mata. Ru Ansan menebas makhluk di depannya membuat makhluk itu hancur berkeping-keping, lalu tubuh itu terbakar dengan cepat berubah menjadi abu busuk yang langsung terbang dibawa angin.


Penginapan itu bergerak tidak karuan, banyak retakan kecil muncul di setiap sisi sebelum tiba-tiba bunyi pecahan nyaring terdengar. Buru-buru, Ru Ansan terbang ke luar dari penginapan itu. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri tempat itu mulai runtuh, menyisakan puing-puing bangunan yang sudah lama runtuh.


Orang-orang yang pingsan juga bangun dengan sendirinya, begitu pula dengan Liu Zixia yang sudah ke luar dari ruang bersama para suaminya. Liu Zixia melihat bangunan di depannya dengan mata terbelalak kaget, rupa tempat itu jauh berbeda dengan pemandangan penginapan tadi siang.


Wanita yang terhipnotis juga sudah sadar, beberapa orang yang pikirannya dicuci oleh iblis pemikat itu juga mulai tersadar. Saat mereka melihat bangunan yang hancur mereka benar-benar bingung kenapa bisa berada di sana.


Pria yang disuruh oleh He Yidu untuk memantau bergerak mundur, ia berjalan menuju ke tempat majikannya kembali guna melaporkan hal yang dia temui malam ini. Orang-orang yang telah sepenuhnya sadar mulai bergerak pergi mencari penginapan agar bisa beristirahat.


Liu Zixia juga para suaminya sama seperti yang lain, mereka mencari penginapan dan pada akhirnya menginap di tempat yang sama dengan pria yang membantu mereka masuk ke dalam desa Rawajati. Hanya penginapan di sana yang tersisa, selebihnya sudah penuh.


Ru Ansan duduk manis di kamarnya, ia tengah sibuk memikirkan berbagai ide namun semua ide yang dia dapatkan tidak menarik sama sekali. Akhirnya Ru Ansan memilih berbaring di ranjang, ia memejamkan mata sebelum tiba-tiba hembusan angin dari jendela yang terbuka begitu saja mengagetkan dirinya.


"Aku? Aku adalah makhluk yang sama denganmu, sejak siang tadi aku merasakan aura milikmu dan sekarang aku menemukan dirimu. Kau sudah tumbuh dewasa rupanya," Ular itu memandang rendah Ru Ansan.


Ru Ansan juga tidak ambil pusing, dia hanya menatap mahkluk di depannya sekilas lalu melihat ke arah lain. Tiba-tiba saja ada beberapa kenangan yang menghantam pikiran Ru Ansan membuatnya mengingat beberapa hal.


"Kau hanya sendiri? Mana naga kecil, kupu-kupu ungu serta harimau putih berada?" tanya Ru Ansan pada akhirnya setelah rasa sakit yang dideritanya menghilang.


"Tidak tahu, mereka menghilang setelah kejadian bertahun-tahun yang lalu. Auranya juga tidak dapat aku rasakan seolah mereka tidak berada di benua yang sama dengan kita." Ular kecil itu menggelengkan kepala.


Ru Ansan mengangguk, ia sendiri awalnya juga tidak berasal dari dunia ini. Dia berpindah tempat ke sini akibat peristiwa yang dialami Liu Zixia.


"Aku dari benua atas, tuanku ada di sebelah. Apa kau mau ikut denganku ke benua atas?" tanya ular itu pada Ru Ansan.


"Tidak, aku hanya akan mengikuti tuanku yang sekarang. Lagipula aku sudah betah bersamanya, aku juga terikat kontrak dengan ruang miliknya. Sejauh apa pun aku pergi maka aku akan kembali padanya, daripada pergi jauh-jauh dan percuma lebih baik aku di sini bersamanya." Ru Ansan menolak dengan cepat


Hidupnya bergantung dengan Liu Zixia, jika bukan karena kematian Liu Zixia dia tidak akan memiliki kesempatan hidup lagi. Ru Ansan bukanlah orang yang tidak membalas jasa, dia merasa nyaman berada di sekitar Liu Zixia meski kekuatan milik Liu Zixia rendah setidaknya kekuatan bisa meningkat kapan saja.