Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#134


Warning, anak kecil di larang mendekat.


Lin Yunzia membelai wajah Zhang Ziyi dengan penuh kasih sayang. Setelah itu Yunzia mengecup kening Zhang Ziyi penuh kelembutan, beralih pada kedua pipi Zhang Ziyi yang merona lalu pada hidung sebelum kemudian berhenti di bibir Zhang Ziyi.


Kelembutan dalam ciuman Yunzia yang telah berpengalaman membuat Zhang Ziyi terbuai, matanya terpejam menikmati belaian lembut dari lidah Yunzia yang menjelajahi gua penuh air liurnya itu.


Kedua tangan Yunzia juga tidak tinggal diam, satu-persatu penutup tubuh ke-duanya terlepas dengan cepat menampilkan keindahan yang memukau. Yunzia melepas tautan bibir mereka sebelum menatap istrinya, Zhang Ziyi dengan seluruh cinta yang ia miliki.


"Aku mencintaimu," bisik Lin Yunzia lembut di telinga Zhang Ziyi. "Aku jatuh cinta pada saat pertama bertemu denganmu, setelah mengenalmu dan sekarang ketika kita telah resmi menjadi suami istri. Aku tidak tahu alasan kenapa aku bisa jatuh cinta, tapi yang jelas jantungku akan berdetak lebih kencang saat melihatmu, saat menatapmu dan saat bersamamu."


"Aku tidak bisa mengendalikan diriku, aku tidak bisa mengatur pikiran ku dengan benar. Hanya kau, hanya dirimu yang selalu datang dan pergi sesukanya dalam pikiranku." Yunzia kembali mengecup bibir Zhang Ziyi.


Kali ini Yunzia berlama-lama di bibir Zhang Ziyi hingga membuat istrinya itu hampir saja kehabisan nafas. Lin Yunzia menatap manik biru istrinya itu lama sebelum mulai membuka kedua kaki istrinya dengan lebar dalam keadaan saling tatap-menatap satu sama lain.


Lin Yunzia menurunkan pandangan matanya ke leher Zhang Ziyi yang terlihat begitu menggoda, jejak merah bercampur ungu mulai tercipta di sana sebelum kemudian dia berpindah pada dua puncak kembar Zhang Ziyi. Nafas keduanya menjadi kencang, detak jantung yang keras dapat didengar di dalam ruangan itu.


Lin Yunzia menikmati kegiatannya kali ini. Ketika dia menghabiskan malam dengan selir milik Yuhua dia tidak akan pernah merasakan sesegar dan segairah ini. Yunzia melakukan semuanya perlahan-lahan, dia ingin meninggalkan kesan mendalam pada istrinya.


Menjadikan kegiatan pertama mereka sebagai pasangan suami istri ini sesuatu yang tidak akan bisa mereka lupakan seumur hidup, kelembutan yang diberikan Yunzia pada Zhang Ziyi membuat Zhang Ziyi terbuai hingga melupakan rasa malunya tadi. Saat Zhang Ziyi begitu terlena dalam perlakuan Yunzia, rasa sakit menyerang bagian bawahnya.


Air mata Zhang Ziyi berlinang dengan cepat saat rasa sakit itu semakin tajam, Zhang Ziyi merasa tubuhnya akan terkoyak menjadi dua. Saat ia akan berteriak, Yunzia langsung menutup mulut istrinya dengan ciuman yang bergairah.


Yunzia membelai tubuh Ziyi, memberikan kasih sayang dengan tanda merah bercampur ungu di titik yang dilewati mulutnya. Dua puncak kembar Ziyi juga berdiri menantang akibat ulah Yunzia yang sedang berusaha mengurangi rasa sakit Ziyi.


Ziyi perlahan mulai tenang dan kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Yunzia untuk bergerak. Suara campuran pria dan wanita bisa didengar di dalam kamar utama itu, erangan lembut Ziyi meningkatkan hasrat Yunzia yang membuat Yunzia tanpa ampun menyerang Ziyi.


Mereka baru berhenti ketika Ziyi pingsan, Ziyi benar-benar tidak kuat menghadapi keganasan Yunzia. Yunzia mencabut kekerasan miliknya dari gua Ziyi, cairan keruh itu mengalir ke luar membasahi kain putih yang ada di sana bercampur warna merah.


Yunzia begitu merasa puas, ia membawa tububh Ziyi yang kelelahan ke tempat mandi. Mengganti seprei yang digunakan dengan yang baru memisahkan kain putih itu, melipatnya menjadi beberapa bagian lalu meletakkan kain putih itu di atas meja.


Yunzia masuk ke tempat mandi membersihkan tubuh Ziyi, mengangkatnya kembali ke kamar lalu memakaikan Ziyi baju longgar agar nyaman dalam tidurnya. Puas dengan kegiatan intim mereka barulah Yunzia ke luar kamar menuju ruang belajar di mana Yuhua menunggu dirinya.


Yuhua yang sibuk membaca tidak mengangkat kepala saat pintu ruang belajar di mana dia sedang duduk terbuka dari luar. Setelah suara kursi ditarik terdengar barulah ia mengangkat kepala.


"Sudah selesai? Betapa lemahnya," ejek Lin Yuhua dengan nada penuh cemoohaan.


Lin Yunzia yang mendengar kata-kata ambigu saudaranya hanya mendengus, ia mengambil teh di teko lalu menuangkan ke gelas sebelum meminumnya dengan cepat. "Dia jatuh pingsan, tidak mungkin dalam keadaan seperti itu aku akan memaksanya."


Jawaban yang dilayangkan Yunzia membuat sebelah alis Lin Yuhua terangkat, dia menatap Yunzia untuk mencari kebohongan namun tidak ada hal lain yang biasa dia dapatkan dalam mata Yunzia.