Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#55


Satu-persatu jarum emas masuk ke tubuh Ye Lian membuat Ye Lian berhenti berteriak kesakitan. Setelah jarum masuk ke titik-titik yang dibutuhkan pria berbaju ungu itu memberikan aliran qi ke dalam semua jarum menyebabkan jarum itu mengeluarkan cahaya terang sebelum meredup.


"Setelah istirahat dan minum beberapa obat yang nanti aku buatkan untuknya keadaannya pasti akan baik-baik saja." Pria itu mengeluarkan keringat dan mengelap keringat itu dengan saputangan.


Dia nampak pucat dan juga kurang bertenaga, "Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Liu Zixia mulai tenang setelah melihat wajah Ye Lian berangsur-angsur membaik.


Wajah Ye Lian tidak sepucat tadi lagi dan sekarang aliran darahnya nampak normal dengan pusat qi-nya yang terlihat tenang kembali.


"Aku sudah mengobatinya dan kau harus menepati janjimu padaku. Lagipula kau sudah menerima hadiah pertunangan dariku beberapa hari yang lalu." Pria itu berkata dengan santai.


"Dan aku ingin pernikahanku dilaksanakan hari ini juga karena proses pernikahan selir tidak serepot dan sesusah pernikahan suami sah." Pria itu berbicara tanpa memikirkan apa-apa lagi.


"Maksudmu, buku yang dikirimkan oleh pria tua itu adalah buku milikmu begitu?" Liu Zixia bertanya dengan raut wajah heran.


Dia melihat ke arah pria berbaju ungu yang telah mengobati Ye Lian dan membuatnya baik-baik saja sekarang.


"Tanyakan padanya!" perintah Ru Ansan yang berada di dalam ruang Liu Zixia. Ru Ansan begitu bersemangat hingga dia bahkan terbang ke sana ke mari di dalam ruang dimensi Liu Zixia.


"Apa yang perlu ditanyakan sekarang?" tanya Liu Zixia heran kepada Ru Ansan. Sangat jarang bagi Ru Ansan begitu antusias seperti saat sekarang ini.


"Tanyakan apakah dia memiliki satu buku lagi yang lebih lengkap dan lebih dibutuhkan tentang pengobatan tradisional? Aku sangat menyukai itu semua dan kau juga membutuhkannya." Ru Ansan ingin sekali keluar dan bertanya secara langsung.


Namun sekarang bukanlah saat yang tepat baginya untuk memperlihatkan dirinya di depan orang-orang terdekat Liu Zixia.


"Baiklah," jawab Liu Zixia secara perlahan-lahan. Liu Zixia melirik pria yang mulai melepaskan satu-persatu jarum emasnya di tubuh Ye Lian.


Segera prosesi pernikahan untuk mengangkat selir baru Liu Zixia dilakukan. Liu Zixia kali ini langsung menambah dua selir sekaligus dan membuat decak kagum memenuhi tempat itu.


Malamnya setelah semua kelelahan usai acara pernikahan selesai. Ke-dua pengantin baru Liu Zixia nampak cemberut.


Mata mereka saling menatap satu sama lain sebelum hembusan nafas pasrah terdengar ke luar dari mulut ke-duanya.


"Apakah salah satu dari kami tidak mendapatkan malam pengantin yang layak?" tanya pria berbaju ungu tadi pagi.


Tangannya terlipat di dada sembari melihat dan memastikan kalau Liu Zixia mendengar apa yang mereka ucapkan.


"Aku harus merawat kakak kalian," jawab Liu Zixia dengan santai. "Oh, mulai saat ini kalian berdua harus menghormatinya. Walau bagaimanapun dia adalah pria pertama yang aku nikahi,"


"Kapan kami mendapatkan malam pernikahan kami? Masa setelah menikah aku masih harus memakai celana dalam kesucian milikku?" tanya keduanya berbarengan.


"Mana kuncinya?" tanya Liu Zixia malas sembari memutar mata.


Mendengar itu Ling Zhi melangkah maju dan memberikan kunci yang ternyata berada di lehernya selama ini.


Ling Zhi membuka pakaiannya setelah melihat Liu Zixia menerima kunci yang ia berikan.


"Hei, tunggu dulu!" Pria berbaju ungu ingin menghentikan gerakan Ling Zhi.


"Namamu siapa? Apa kau tidak akan menyebutkan namamu bahkan setelah kau memasuki pintu kami." Ling Zhi bertanya dengan cemberut saat dia dihentikan oleh pria di depannya.