
Esok paginya Liu Zixia muncul kembali di kediaman Liu, dia sudah duduk manis di sebuah pohon dengan daun lebat hingga tidak ada yang menyadari kehadirannya di sana. Tadi malam ada berita heboh di kediaman Liu ini, putra bungsu Liu Zhang ditemukan dalam keadaan setengah telanjang.
Saat akan dibawa ke dalam kamar, dia bangun dari pingsannya. Menyerang pelayan laki-laki maupun perempuan yang membantunya masuk ke kamar, dia merobek pakaian pelayan pria memaksanya berhubungan badan sebelum kemudian berganti dengan pelayan lain.
Keributan itu berhasil diredam hingga tidak sampai ke luar kediaman. Pelayan yang dilecehkan diberi kompensasi serta perawatan akibat luka yang mereka alami. Pagi ini, Liu Zixia memaksa Liu Zhong menemani Lin Yuhua dan Ling Zhi. Liu Zixia tidak ingin ke-duanya datang menganggu dirinya yang akan sibuk melihat perkembangan balas dendam yang ia lakukan.
"Gadis-gadis muda di kediaman ini suka sekali bangun terlambat," ejek Liu kesal.
Ia memakan buah-buahan di dalam ruangnya dengan wajah masam. Sudah hampir satu jam Liu Zixia duduk di pohon itu ditemani lalat dan lebah yang terbang berputar-putar di sekitar dirinya.
"Aku bosan," rutuk Liu Zixia dalam hati.
Liu Zixia mengusap matanya yang berair karena mengantuk akibat rasa bosan, Liu Zixia ingin menyerah ketika gerakan di dalam kamar mulai terdengar. Liu Zixia menjadi bersemangat kembali, ia memperbaiki posisi duduknya dengan satu tangan menopang dagu malas.
"Apa ada pelayan di luar? Aku ingin mandi," perintah kakak perempuan Liu Zixia yang tertua.
"Baik Nona pertama," jawab pelayan di luar.
Saat pelayan wanita muda itu masuk dan melihat wajah Liu Yan, ia berteriak keras dengan tubuh terhuyung mundur. Pelayan yang masuk saling bertabrakan hingga satu-persatu jatuh saling menghimpit.
Ia menunjuk pada jejak hitam besar di wajah Liu Yan, setengah wajah Liu Yan ditutupi noda hitam itu. Terlihat lebih menakutkan dari jejak racun yang tercipta di wajah Liu Zixia, jemari Liu Yan diwarnai merah darah yang telah mengering.
"Nona, leher Anda terluka! Saya akan memanggil tabib untuk memeriksa apa yang salah pada Anda." Pelayan yang telah sadar dari keterkejutannya lari dengan kencang ke luar kamar.
"Kenapa dengan wajahku?" tanya Liu Yan heran.
Liu Yan memeriksa wajahnya dengan teliti tanpa melihat cermin, saat ia menyentuh wajahnya Liu Yan tidak merasakan keanehan apapun. Saat ia mengangkat jarinya barulah Liu Yan memekik ketakutan.
Teriakan dari kamar Liu Yan berlanjut ke kamar sebelahnya, Liu Ze adik Liu Yan yang merupakan Nona ke-tiga di kediaman Liu juga berteriak keras. Ia langsung memecahkan kaca tempatnya bercermin dengan wajah pucat pasi.
Liu Zixia yang sejak tadi menunggu teriakan ini berusaha keras menahan tawa. Ia tidak ingin tawanya menyebabkan keributan di kediaman Liu ini, Liu Zixia melihat beberapa orang berlarian termasuk seorang pria paruh baya yang dulu sering memberinya makanan dengan wajah bertindak peduli.
"Hehehehe, aku ingin melihat Tabib mana yang bisa mengobati ke-tiganya, sudah lama aku ingin membalas perbuatan kalian. Beruntung kalian mengingatkan aku, jika tidak aku benar-benar lupa tentang kalian," desah Liu Zixia muram.
Liu Zixia terus menonton di atas pohon, saat ia melihat Liu Zhang dan Bai Yan berlari ke halaman putri mereka jejak kekejaman melintas di mata Liu Zixia. Liu Zhang yang merasakan tatapan tajam itu mencoba melihat sekeliling.