Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#126


Malam harinya para suami Liu Zixia berkumpul di satu tempat, yaitu di kamar paling ujung. Kamar itu terletak paling jauh dari kamar utama di mana Liu Zixia sedang tidur dengan nyenyak. Mereka berempat duduk membentuk lingkaran hingga bisa berbicara lembut agar tidak ada yang mendengar.


"Jadi bagaimana selanjutnya?" tanya Ling Zhi dengan tangan menopang dagu.


Sejak tadi mereka hanya diam tanpa berbicara padahal niat awal adalah merundingkan cara untuk menjauhkan Liu Zixia dari hama yang ingin mendekati dirinya. Ling Zhi sudah mulai bosan, ia ingin ke kamar utama untuk menemani Liu Zixia tidur.


"Apa kita akan diam saja seperti ini atau mulai memikirkan solusi terbaik untuk mencegah Zixia mengambil selir lagi." Ling Zhi mengubah posisinya, kali ini ke-dua tangannya berada di belakang untuk menopang tubuhnya.


Posisinya kali ini membuat dia merasa nyaman, Ling Zhi menghembuskan nafas lega seolah duduk seperti tadi hampir saja merenggut nyawanya.


Suasana kamar yang sejak tadi diam menjadi berubah, hawa dingin dari Lin Yuhua dan juga Long Ze membuat Ling Zhi tersenyum canggung. Satu tangannya dengan lembut mengusap bagian belakang kepalanya, tatapan tajam yang dilayangkan ke-duanya membuat Ling Zhi melihat ke arah lain.


Suasana kamar yang terang dengan aroma lembut yang melayang di udara membuat ketegangan segera mereda. Kamar ini merupakan kamar tempat istirahat sementara salah satu selir Liu Zixia jika tidak ingin diganggu.


Ye Lian menghembuskan nafas pasrah, helaan demi helaan ke luar dari bibirnya ketika solusi terbaik belum mereka dapatkan. "Kita tidak akan bisa mencegahnya mengambil selir tambahan. Itu sudah peraturan yang ada, semenjak dia mengambil satu selir tambahan maka total suami Liu Zixia harus lebih dari lima. Jika tanpa penghangat ranjang atau pelayan tempat tidur maka total suaminya harus tujuh."


Keheningan kembali melanda setelah Ye Lian selesai berbicara, suhu ruangan kembali terasa dingin. Kali ini sasarannya bukan lagi Ling Zhi tapi Ye Lian yang sudah mengatakan kebenaran.


"Entahlah, aku juga bingung dengan keadaan ini. Jika kita memaksa untuk mengalihkan perhatian Liu Zixia maka kita semua yang akan mendapat masalah. Liu Zixia juga akan menerima tuduhan tidak benar dari yang lain, tapi hal paling penting di sini adalah hukuman yang akan dia terima." Long Ze pada akhirnya juga ikut berbicara setelah lama terdiam.


Lin Yuhua di sisi lain juga terus berpikir, rasanya dia tidak lagi sanggup menerima Selir lainnya tapi hukum adalah hukum dan mereka tidak bisa menentang hukum yang ada meski mereka memiliki kekuatan luar biasa serta jabatan yang tinggi.


Rasanya sulit untuk berbagi lagi kecuali mereka yang menjadi suami Liu Zixia adalah sahabatnya yang dulu berkorban nyawa demi Liu Zixia. Sama seperti dia menerima Lin Yuhua serta perlakuannya terhadap Liu Zixia dulu Ling Zhi juga akan mencoba menerima mereka di sisi Liu Zixia.


Ke-empat orang itu terus memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah yang akan mereka hadapi di kemudian hari. Di sisi lain Liu Zhang yang diikuti oleh beberapa penatua dari Lembah Cahaya melakukan perjalanan ke sebuah desa paling terpencil di kekaisaran Yuhuan.


Kabar burung yang diterimanya menunjukkan kalau Bai Za saat ini bersembunyi di sana, apalagi Bai Za saat ini telah menjadi buronan Yuhuan. Semenjak seluruh laki-laki di dalam keluarga Bai di penjara, Bai Za hidup seperti di dalam neraka.


Keping perak yang selalu ia banggakan sekarang tidak lagi ada di tangannya, ia hanya bisa bergantung hidup pada tanah kecil milik keluarga Bai yang disembunyikan dengan baik. Bai Za tidak kabur seorang diri, dia juga membawa anggota keluarga Ruan bersamanya.


Mereka sampai di pintu desa terpencil itu, saat ini tengah malam jadi tidak banyak penduduk yang melihat kedatangan Liu Zhang berserta kelompoknya. Mereka langsung menyebar ke seluruh penjuru desa, di belakang Liu Zhang ada prajurit Yuhuan dengan pakaian lengkap mereka.


Mereka ke sini tanpa membawa kuda agar bisa membuat lengah musuh, di sebuah ruangan di halaman yang paling gelap di desa itu. Suara tumpang tindih antara laki-laki dan wanita terdengar, gerakan kasar serta geraman dapat didengar dengan jelas.


Di dalam kamar itu Bai Za tengah berolahraga malam, di bawahnya ada seorang gadis cantik dengan pipi kemerahan serta rambut berantakan tidak mengenakan pakaian apapun sama seperti dirinya. Bai Za tengah bergerak cepat sembari mengatur nafasnya agar tetap terjaga.


Ketika wanita di bawahnya memejamkan mata Bai Za akan menepuk pipi wanita itu membuatnya kembali tersadar, adegan terus berlanjut meski si wanita merengek meminta istirahat walau sebentar. Daging ditumbuk yang terdengar di dalam kamar makin terdengar cepat saat suara Bai Za semakin keras.


"Kau merasakannya bukan? Ini belum seberapa dibandingkan kau ditangkap oleh prajurit Yuhuan dan dijual ke rumah bunga. Di sana aku akan melayani lebih dari sepuluh pria setiap hari, di sini kau hanya melayani satu atau dua orang di siang hari dan melayani diriku di malam hari. Harusnya kau bersyukur, berterima kasih atas pertolongan yang aku berikan." Bai Za terus menghentak sekuat tenaga.


Bai Za menyeringai senang, beruntung dirinya berhasil membawa salah satu keturunan keluarga Ruan yang cantik kalau tidak dia akan mati kelaparan di sini tanpa uang tanpa berjudi.