
Bai Ling mendorong Du Zi masuk ke dalam lalu memasang mantra tambahan di luar tenda. Du Zi melihat hiasan merah di tempat tidur, semua corak bahagia membuat pipi Du Zi terasa lelah karena dia terlalu merasa bahagia. Du Zi melihat sekeliling tenda yang begitu mewah, rasa bahagia membuatnya tidak melihat kalau Ruan Zu baru saja masuk dari luar dengan pakaian putih bersih.
Dia masuk bersama Bai Ling yang tengah membimbing tangan Ruan Zu, ada beberapa pisau di dalam kotak di tangan kiri Bai Ling. Jelas kotak pisau itu diambilnya dari tangan Ruan Zu.
Saat merasakan ada orang yang datang Du Zi berbalik, matanya terbelalak kaget melihat kedatangan Ruan Zu ke dalam kamar pengantinnya. Du Zi menunjuk Ruan Zu marah, kesenangan serta kebahagiaan yang dirasakannya tadi langsung menghilang berganti kemarahan serta kebencian.
"Kau ... kenapa kau bisa masuk ke dalam tenda ini? Ini adalah hari pernikahanku, hari bahagia milikku. Kenapa kau ingin menghancurkannya?" tanya Du Zi tidak suka.
Du Zi hendak berjalan mendekat ke arah Bai Ling ingin mengadu atas sikap Ruan Zu. Du Zi yakin Bai Ling membawa Ruan Zu masuk pasti karena Ruan Zu merengek serta mengancam Bai Ling.
"Hari bahagiamu? Kau bermimpi terlalu tinggi, ini jelas-jelas hari bahagiaku. Sebentar lagi kau akan melihat seperti apa hari bahagiamu, anganmu terlalu tinggi padahal sudah jelas sejak awal kedatanganmu ke sini untuk menjadi santapanku." Ruan Zu tersenyum begitu manis.
Gaun putih cerah yang ia pakai membuatnya tampak anggun berbanding terbalik dengan senyum jahat yang ia tampilkan. Ruan Zu menggunakan kekuatannya mendorong Du Zi ke tempat tidur, Du Zi yang tidak memiliki kekuatan langsung jatuh ke tempat tidur memekik dengan keras karena punggungnya terbentur tempat tidur.
Mendengar penuturan Du Zi, Ruan Zu tertawa dengan begitu menyeramkan. Tidak lama suara bahagia di luar berubah menjadi teriakan menyedihkan dari beberapa perempuan. Ada yang melolong karena kesakitan dan bahkan ada yang memekik karena kesenangan.
Du Zi merasa takut saat mendengar teriakan itu, bulu kuduknya berdiri saat ia melihat Bai Ling hanya berdiri diam di tempatnya tidak tergerak sama sekali seperti biasa saat melihat air matanya jatuh atau dia berteriak kesakitan.
"Apa kau pikir anak itu pantas mewarisi Sekte Hitam saat dia sendiri tidak memiliki hubungan darah dengan Bai Ling? Asal kau tahu saja yang pantas mewarisi semua ini hanya anakku, sedangkan anakmu hanya layak menjadi makananku." Ruan Zu mengambil pisau yang ada di dalam kotak, saat terangkat pisau putih itu terlihat mengkilap dengan cahaya menyeramkan jatuh di mata Du Zi.
Du Zi ingin bergerak mundur namun tubuhnya tidak bisa ia kendalikan sama sekali. Bai Ling mengambil air yang telah disediakan di atas meja, ia meletakkan air itu di samping tempat tidur lalu memilih duduk di kursi yang ada di dalam tenda itu.
Lolongan kesakitan masih terdengar jelas di luar bahkan suara pelayan yang menjaga serta merawat Du Zi juga terdengar jelas. Du Zi menatap Bai Ling mengiba, apalagi saat melihat pisau yang diambil Ruan Zu mengarah ke perutnya.