Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#135


Yunzia menyunggingkan senyuman, di wajahnya tidak ada raut bersalah sama sekali karena telah membuat istrinya pingsan. Yunzia meminum teh dengan santai untuk membasahi tenggorokannya yang kering.


"Kau juga, seharusnya kau sedikit pengertian pada kembaranmu ini. Kau tahu kan? Ayo mengaku! Pasti kau yang menyuruh mereka membuat diriku mabuk," tuduh Lin Yunzia dengan mata memicing.


Lin Yuhua yang mendengar ucapan kembarnya itu mencebik tidak suka, ia melontarkan penghinaan melalui matanya membuat Yunzia semakin kesal.


"Gara-gara mereka aku tidak sempat menjalani yang namanya malam pertama, aku harus menyelesaikan semuanya pagi ini." Yunzia mengeluh dengan wajah kesal.


"Sudahlah, aku ke sini ingin mengatakan sesuatu padamu. Perwakilan dari kerajaan Awan telah membuat Zixia marah. Sepertinya mereka akan mencarimu nanti, aku yakin kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?" tanya Lin Yuhua cepat.


Sungguh, Yuhua ingin segera pulang daripada mendengarkan ocehan tidak bermutu dari kembarannya ini. Kembaran yang membuat orang-orang tertipu, karena ke-duanya bisa bertukar bentuk tubuh dan posisi sesuka hati dulu. Mereka mempunyai mantra khusus yang bisa membuat rupa mereka menjadi sama hingga tidak ada yang bisa mengenali mereka satu sama lain.


"Wah ... pesonamu benar-benar berbahaya sekali. Apa kau berhasil memikat anak perempuan satu-satunya Raja itu, kalau iya betapa hebatnya. Wanita itu sering melecehkan laki-laki, menganggap dirinya paling tinggi di antara wanita lain. Aku yakin suatu hari nanti Kerajaan Awan pasti akan mendapatkan masalah akibat ulahnya." Yunzia mengangguk.


Sebagai petualang dia tentu saja tahu kerajaan serta kekaisaran lain.


"Aku hanya ingin mengatakan itu saja, semua pekerjaanmu yang kau abaikan telah aku selesaikan. Semoga harimu menyenangkan," ujar Lin Yuhua sembari menepuk bahu Yunzia.


Segera setelah itu Yuhua menghilang dari sana meninggalkan Yunzia yang termenung. Yunzia mendecakkan lidahnya kesal ketika Yuhua telah pergi jauh.


"Kasim Han, panggilkan perwakilan Kerajaan Awan kemari! Aku ingin mereka datang sesegera mungkin karena aku akan sibuk setelah ini," perintah Lin Yunzia dengan suara keras dari dalam ruangan.


Firasat Kasim Han mengatakan kalau kerajaan Awan akan mengalami masalah. "Yang Mulia Raja kerajaan Awan, Anda ditunggu Kaisar kami di aula khusus tamu." Kasim Han menyampaikan perintah dan sedikit menambahkan kalimat lain.


Sejak dulu, memang tidak pernah ada yang diundang masuk ke dalam ruang belajar Kaisar karena ada ruang khusus yang digunakan untuk itu. Lagipula ruang belajar adalah ruang khusus di mana Kaisar atau Raja bekerja dan tempat itu akan menjadi berbahaya jika diketahui oleh orang lain.


Raja kerajaan Awan mengangguk, dia senang permintaannya untuk bertemu langsung disanggupi oleh Kaisar dengan cepat. Ia langsung menarik putrinya untuk ikut, wajahnya berbinar bahagia dengan beberapa pemikiran yang membuat jantungnya berdetak kencang.


Kasim Han memimpin jalan di depan, sedangkan perwakilan Kerajaan Awan mengikuti dari belakang dengan wajah sejak tadi menunjukkan raut kagum. Dekorasi istana Yuhuan yang terlihat megah itu memang sangat mampu memanjakan mata para pengunjung.


Tanaman obat mahal tampak subur di sepanjang jalan menuju aula pertemuan, pohon berbuah juga di tanam di beberapa tempat. Ketika mereka memasuki aula pertemuan, barang-barang mewah yang dijadikan pajangan di sekitar ruangan.


Benda dengan nilai mahal itu sengaja ditempatkan beberapa di sana untuk menunjukkan pada tamu betapa mampunya kekaisaran Yuhuan.


"Betapa indahnya tempat ini, Ayah! Andai saja aku yang menjadi Permaisuri tempat ini," bisik gadis itu pada ayahnya dengan mata dipenuhi keserakahan.


Kasim Han berpura-pura tidak mendengar semua itu, dia terus maju ke depan. Mengetuk pintu yang ada di aula pertemuan dua kali sebelum berdiri diam menunggu dengan sabar.


Tidak lama pintu dibuka, Lin Yunzia muncul dengan pakaian kebesarannya, wajah tampannya yang hampir menyerupai Yuhua membuat gadis itu kagum. Binar matanya yang begitu terang membuat Yunzia mengernyit jijik, Yunzia mengibaskan baju yang dia kenakan ketika akan duduk di kursi naga khusus miliknya.