Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#47


Jangan lupa vote, like, komen serta baca sampai akhirnya makasih.


*


"Kau kenapa?" Ye Lian nampak panik saat melihat Liu Zixia yang sedang tertidur di kursi berteriak ketakutan.


"Tidak Ruan Zu! Jangan mendekatinya! Jangan menyakiti mereka!" teriakan keras Liu Zixia membuat Ling Zhi yang berada di luar juga ikut masuk dengan mendorong pintu kuat.


Pintu itu langsung hancur berantakan saat Ling Zhi menerjangnya dengan penuh ketakutan.


"Kau ular berbisa! Aku menganggapmu sebagai teman tapi kau menusukku dari belakang," teriaknya lagi dengan tangisan kesakitan.


"Tidak, ini bukan mimpi Liu Zixia yang sekarang!" Ling Zhi berteriak keras. Dengan cekatan dia mengambil jarum yang selalu disembunyikan oleh Liu Zixia di lengan bajunya.


"Apa maksudmu? Ruan Zu bukannya kekasih Lin Yuhua sekarang?" tanya Ye Lian penasaran. Dia sangat tahu dan sering mendengar nama itu.


Karena Ruan Zu ini seluruh keluarga Permaisuri Angkrea dihukum mati.


"Bukan, Ruan Zu yang dia mimpikan saat ini adalah Ruan Zu sahabatnya di kehidupan yang pertama. Wanita itulah yang menjebak Liu Zixia agar mati, " ujar Ling Zhi penuh kebencian.


Matanya memerah marah mengingat kejadian buruk yang menimpa mereka semua.


"Jangan-jangan mereka adalah orang yang sama!" tebak Ye Lian asal tapi dibenarkan juga oleh hati Ling Zhi.


"Entahlah, tapi jika itu benar maka aku akan menghabisi wanita itu. Kebencian dahulu dan kebencian saat ini harus dibalaskan semua." Ling Zhi berbicara dengan tangan kiri terkepal erat.


Setelah jarum itu diletakkan di titik akupuntur Liu Zixia, akhirnya dia kembali tenang dan damai.


Setelah merasa cukup Ling Zhi mencabut jarum yang ia tusukkan di belakang leher Liu Zixia.


"Apakah kau yakin dia akan baik-baik saja?" tanya Ye Lian khawatir saat mereka berhasil meletakkan Liu Zixia di tempat tidur.


"Baiklah, aku akan menjaganya! Kau bisa keluar dan beristirahat." Ye Lian mengusir Ling Zhi dengan lambaian tangan tanpa melihat ke arahnya.


"Ya sudah, biar bagaimanapun aku belum menjadi siapa-siapa baginya." Ling Zhi melangkah pergi meninggalkan Ye Lian dan Liu Zixia.


"Sebenarnya aku masih belum bisa membiarkanmu mengambil selir lagi, Sayangku! Tapi saat melihat ketulusan dan juga rasa kesepian di matanya aku juga tidak tega. Walau bagaimanapun dia sudah menolong kita berulang-ulang kali." Ye Lian membelai kepala Liu Zixia lembut.


Ada kesedihan di dalam suaranya, dia belum puas bersama Liu Zixia namun dia juga tidak boleh bersikap egois. Sebagai selir dia tidak punya hak untuk menentang apa yang diinginkan oleh Liu Zixia.


"Aku akan membiarkan kau menikah dengannya ketika kita berhasil menepi di tempat tujuan kita menetap sementara waktu." Lagi Ye Lian berbisik.


"Aku harap kau mau menerima dan berbagi perhatianmu dengannya. Dan aku juga berharap kau bisa bersikap adil meski tidak terlalu menyukainya. Dia sudah sering membantu kita dan juga dia tahu semua masa lalumu."


Ye Lian berbaring di samping Liu Zixia sembari memeluk tubuh itu erat.


Meski tidak rela tapi cepat atau lambat waktu itu tetap akan datang menemuinya.


Aku minta maaf ya mungkin agak nggak nyambung tapi aku benar-benar lagi nggak ada mood buat up. Mataku ngantuk gegara begadang nonton Drakor.


Aku janji besok aku perbaiki biar lebih bagus. Dia hari ini mood aku hancur banget sumpah, kalau nggak up kasihan kalian yang nunggu juga.


Menunggu itu nggak asik sama kayak nunggu lamaran padahal udah dikasih janji-janji palsu.


hehehheπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ™πŸ™πŸ™


Semoga kalian nggak protes, aku mau lanjut tidur ngantuk banget 😴😴😴


kalau nggak tidur bisa tepar aku πŸ€§πŸ€§πŸ€’πŸ€’πŸ€’πŸ€•πŸ€•