
Yunzia memelototi dua suami Zixia seperti matanya akan ke luar dari tempatnya. Yunzia menghela nafas pada akhirnya, Yunzia melihat Raja kerajaan Awan dengan tatapan prihatin. Raja kerajaan Awan yang melihat rasa kasihan di mata Yunzia menjadi semakin khawatir.
Apalagi melihat sikap Zixia yang berani seolah tidak menaruh ketakutan akan kemarahan Yunzia kepanikan mulai menyerang dirinya.
"Siapa kau? Beraninya kau duduk di kursi milik Kaisar? Kau sudah bosan hidup ya?" wanita itu berteriak marah, tujuannya adalah mencari muka pada Yunzia.
Dia tidak tahu kalau kebodohannya akan membuat dia menghilang dari dunia ini sebentar lagi. Yunzia semakin merasa kasihan pada wanita bodoh di depannya, wanita yang melihat perubahan di wajah Yunzia malah berpikir kalau Yunzia merasa tersanjung hingga menampilkan raut wajah seperti itu.
"Aku? Aku istri dari pria yang kau inginkan, wanita yang sedang mengandung anaknya lalu kau siapa? Beraninya kau meneriaki diriku, asal kau tahu saja orang terakhir yang membuatku marah akan berakhir baik." Zixia memakan cemilan yang ada di atas meja secara santai.
Wajah cantiknya mengeluarkan senyuman yang terlihat menakutkan, Yunzia di sisi lain menggosok kuduknya dengan wajah meringis. Rasa dingin menyelimuti ruangan besar itu membuat seluruh pelayan yang ada di sana menggigil kedinginan.
Wanita itu juga merasa takut namun, melihat tidak ada yang berani menjawab ucapan Zixia dia berdiri menampar meja. Ayahnya buru-buru menarik putrinya untuk duduk, pucat di wajahnya menjelaskan kalau masalah ini tidak akan bisa diselesaikan dengan mudah.
"Minta maaf! Kau harus minta maaf padanya sekarang juga! Setelah ini kita harus pulang ke kerajaan Awan dan kau harus menerima hukumanmu," bentak Raja Awan dengan suara keras.
Mendengar teriakan keras ayahnya, wanita itu meneteskan air mata dengan cara yang begitu menyedihkan. Wajahnya menunjukkan sikap tidak suka sebelum beralih pada Zixia, dia menatap tajam Liu Zixia memberi peringatan seolah menyalahkan Liu Zixia atas sikap yang baru saja dia terima.
"Ini semua salahmu!" tunjuk wanita itu dengan teriakan marah. "Ayah tidak pernah marah padaku selama ini, sekarang akibat ulahmu Ayah membentak diriku. Kau harus tanggung jawab, kau pikir kau siapa? Aku tahu aturan kekaisaran Yuhuan ini bahwa laki-laki dihormati lebih dari perempuan dan kau malah bersikap seenaknya."
Wanita itu melupakan rasionalitas miliknya, ia bergerak maju menuju Zixia bersiap untuk memberikan Zixia tamparan yang keras. Hal itu dapat dilihat dari gerakan tangan kanannya yang terangkat di udara.
Ling Zhi berusaha mengejar begitupula dengan Ye Lian yang ingin menyentuh istrinya yang sedang hamil. Liu Zixia melambaikan tangannya secara santai namun angin kencang yang muncul menyebabkan wanita itu tersandung ke belakang mengenai Ye Lian dan Ling Zhi.
"Pulang sana!" teriak Zixia kesal, "aku ingin kalian mandi, membakar pakaian kalian yang ini, aku tidak ingin lelaki milikku menyentuh atau disentuh oleh wanita lain."
"Kalau aku pulang siapa yang akan menjagamu di sini?" keluh Ling Zhi dengan mimik wajah menyedihkan.
Hal itu juga diangguki oleh Ye Lian yang juga ikut memberikan tatapan menyedihkan, seolah tidak diinginkan lagi oleh Liu Zixia.
Pintu aula kembali terbuka, kali ini giliran Long Ze dan Lin Yuhua yang masuk. Ke-duanya baru saja menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
"Ada apa ini?" tanya Long dengan alis naik ke atas. Dia berjalan ke arah Liu Zixia ingin memberikan kecupan ringan namun hal itu lebih dulu dilakukan oleh Yuhua.
"Dia ingin mengusirku!" tuduh wanita itu dengan cara menyedihkan, seperti lotus putih yang teraniaya gadis itu menangis sedih dengan air mata berurai.
Biasanya, jika dia menampilkan wajah seperti ini para lelaki di kerajaan miliknya akan langsung menghibur serta menunduk memberikan ia penghiburan. Lin Yuhua mengernyit sebelum melihat ke arah Yunzia yang masih berdiri di dekat jendela, melihat tatapan itu Yunzia langsung mengangkat bahu pertanda tidak berurusan dengan hal itu sekarang.
Melihat wajah Yuhua gadis itu merasa senang, di dalam pikirannya wanita yang disukai laki-laki adalah wanita lemah lembut yang rapuh bukan wanita barbar seperti Liu Zixia. Dia berusaha bangkit, bertindak lemah dia berjalan tertatih-tatih menuju ke arah Lin Yuhua untuk meminta dukungan.
"Aku hanya ingin ke-dua suamiku mengganti pakaiannya karena sudah bersentuhan dengan perempuan seperti ini. Bertindak seperti teratai anggun sayang sekali semua teratai di sekitarku sudah kubuang dan mendapatkan balasan yang setimpal. Dia ingin aku menceraikan dirimu," adu Liu Zixia dengan wajah menyedihkan.
Kekuatan yang dia berikan tadi langsung menghilang, dia yang bertindak manja seperti ini adalah musibah bagi musuh di sekitar. Yuhua semakin mengerutkan kening mendengar pengaduan istrinya, apalagi ada air mata yang jatuh di pipinya hingga membuat dia terlihat begitu menyedihkan.
'Kau pikir kau saja yang bisa bertingkah lembut penuh kepalsuan, aku juga bisa. Kita bisa melihat siapa yang akan menang, kau atau aku yang akan kalah hari ini.' Liu Zixia menunduk menyembunyikan senyuman yang sedang ia tampilkan.
Wanita itu menggelengkan kepala, dia tidak bisa menerima akting baik yang ditampilkan Liu Zixia, sebelum kedua lelaki ini datang dia begitu tampil perkasa sekarang dia malah terlihat seperti dialah yang menerima luka serta pelecehan.
"Tidak itu bohong, baru saja dia mendorong diriku menggunakan kekuatannya. Dia membuatku jatuh kesakitan, dia hanya bertindak lemah saja." Wanita itu menangis sedih membuat Long Ze mengernyit tidak suka.