Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#182


Zixia menatap pasangannya yang lain, melihat tidak ada perubahan di wajah yang lain Liu Zixia hanya bisa menelan ludah memilih mengabaikan He Yidu. Dia sibuk mencolek pipi Yizu untuk mengalihkan perhatiannya dari He Yidu yang mulai mendekat.


"Apakah kalian merasa nyaman di sini?" tanya He Yidu berbasa-basi.


Getaran di dalam suara He Yidu membuat Liu Zixia yang sibuk mengganggu Yizu mengalihkan pandangan matanya. He Yidu mencoba bersikap santai namun kegugupan yang muncul tidak bisa ia sembunyikan dengan baik.


He Yidu memejamkan mata lalu mengalihkan pandangannya pada Zixia yang juga sedang menatap dirinya, pandangan ke-duanya beradu sebelum He Yidu dengan buru-buru menatap Lin Yuhua.


"Kami merasa nyaman di sini, dengan begini kita bisa melawan kelompok iblis yang datang. Setidaknya benua atas adalah tempat teraman selain Yuhuan." Yuhua mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku.


Liu Zixia melihat He Yidu yang dulu selalu melindunginya di belakang namun bersikap dingin di depannya dengan lebih teliti hanya untuk menemukan ada beberapa luka di tangannya.


"Luka di tanganmu kenapa? Apa di sini tidak ada ramuan atau obat penghilang bekas luka?" Zixia bertanya dengan rasa penasaran.


Mungkin karena kebaikan yang dilakukan He Yidu padanya dulu menyebabkan Lin Yuhua yang dulu membenci He Yidu menjadi baik padanya sekarang. Mendengar pertanyaan Zixia, He Yidu buru-buru menyembunyikan jejak luka tersebut. Raut wajahnya berubah masam dengan senyum pahit muncul tanpa dia sadari.


"Aku sengaja tidak memberinya obat penghilang bekas luka." He Yidu menjawab pertanyaan Liu Zixia setelah cukup lama diam.


"Oh, sehari besok sebaiknya kalian jangan ke luar dari kamar ini. Aku yakin akan ada keributan besok sebab wanita tadi akan selalu membuat masalah jika keinginannya tidak terpenuhi." He Yidu mencoba kembali ceria namun kepahitan dalam nada suaranya masih jelas terdengar.


"Ada apa?" Liu Zixia tampak penasaran, dia menatap He Yidu lalu beralih menatap suaminya yang lain.


Liu Zixia mengangguk lalu tersenyum, senyum yang ditampilkan Liu Zixia terlihat menakutkan membuat bulu kuduk suaminya berdiri. "Apakah membunuh di sini di larang? Atau bolehkah kita membunuh secara diam-diam? Berani sekali dia bermimpi terlalu tinggi, dia pikir dia siapa?" Liu Zixia memikirkan berbagai ide di benaknya untuk mengahadapi orang itu besok.


"Sebenarnya membunuh secara terang-terangan sangat dilarang karena akan menimbulkan keributan apalagi sekarang kita akan berperang dengan kaum iblis. Tapi kalau pemerintah tidak mengetahui sebab kematian musuh maka itu masih tergolong aman." He Yidu menjawab apa adanya.


Liu Zixia menatap He Yidu lalu kembali mengalir pandangan matanya pada Yuhua. He Yidu yang paham langsung mengerti ada sesuatu yang ingin dibicarakan Zixia dengan pasangannya.


"Aku ke luar sebentar dulu, aku akan menyuruh pelayan membuat makan malam." He Yidu dengan terburu-buru melangkah ke luar, sesak di dadanya yang terasa begitu tiba-tiba membuat air mata menggenang di pelupuk mata Yidu.


Setelah He Yidu ke luar dan Ling Zhi menutup pintu kamar Liu Zixia mulai menatap suaminya satu-persatu meminta jawaban.


"Apa kalian berniat menambah satu orang lagi?" tanya Liu Zixia dengan nada penuh cemoohaan.


Lin Yuhua tersenyum lembut, ia meraih Liu Zixia untuk duduk agar berbicara lebih mudah satu sama lain. "Kau tidak ingat pengorbanan yang ia lakukan padamu dulu Hem? Lagipula, hidupnya dari kecil sangat menyedihkan, ia sering disiksa oleh ibu dan saudaranya itu sebabnya setelah mengolah kekuatan He Yidu memilih tinggal di kediaman miliknya sendiri."


"Ya, anggap saja kali ini kau membalas kebaikan yang telah ia lakukan pada kita dulu. Dia sangat membenci wanita tapi mencoba bersikap baik padamu, dia juga mencoba mengabaikan rasa sakit yang ia rasakan selama bertahun-tahun hanya untuk melihat wajahmu." Long Ze juga ikut berbicara.


"Tapi aku tidak ingin menyakiti perasaan kalian, dengan menambah satu suami maka waktu kalian juga akan berkurang. Kebersamaan kita akan terasa terganggu apalagi He Yidu ini tidak memiliki kenangan masa lalu." Liu Zixia menatap para suaminya dengan pandangan mata rumit.


"Tidak apa-apa, menambah satu lagi tidak masalah. Ini hanya untuk membalas kebaikan yang dia lakukan dulu pada kita," jawab Lin Yuhua cepat.