Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#159


"Kenapa kau melihatku seperti itu? Jangan menghina diriku seenak hatimu, aku belum bisa berubah karena kau juga belum cukup kuat, lagipula kau tidak bisa mencukupi energi spiritual yang harus kuserap," ejek Xiao Za dengan mata memicing penuh kebencian.


Ru Ansan yang dibicarakan merasa dingin di belakang lehernya, sejak tadi ia terus bersin seolah ada beberapa orang sedang membicarakan dirinya.


"Siapa yang kurang ajar seperti ini padaku? Awas saja jika bertemu denganku akan kuhajar dia tanpa ampun," keluh Ru Ansan dengan wajah menyedihkan.


Saat ia sedang menggerutu, tiba-tiba kamar tempatnya berdiri bergerak. Ru Ansan tersenyum senang, ia sudah menunggu sejak lama tapi yang ditunggunya seolah tidak mengerti sama sekali.


Ru Ansan berjalan ke luar kamar, dia menuju ke kamar Liu Zixia ingin menyuruh Liu Zixia masuk ke dalam ruangnya. "Masuk ke dalam ruangmu! Kau sedang mengandung sekarang, tidak baik bagimu untuk bertarung sekarang." Ru Ansan memberi perintah, sebelum masuk ke dalam kamar Liu Zixia sudah memberitahu Yuhua untuk tetap berada di kamarnya.


"Baiklah," angguk Zixia cepat lalu segera menghilang dari kamar itu seolah dia tidak pernah datang ke tempat itu. Ru Ansan memeriksa semua kamar yang ada di penginapan itu, saat masuk ia melihat beberapa orang telah pingsan dalam berbagai macam keadaan.


Ru Ansan melempar mereka ke luar satu-persatu dengan santai lalu terus memeriksa semua tempat. Saat ia sampai di kamar paling akhir Ru Ansan menemukan seekor makhluk menjijikkan tengah memakan seseorang dengan rakus.


makhluk itu memiliki banyak kaki seperti laba-laba dengan mulut terbuka lebar, dari mulutnya ke luar gigi tajam yang digunakan untuk mengoyak mangsanya secara membabi-buta. Saat Ru Ansan masuk makhluk itu terkejut bukan main hingga paha yang dipegang di kakinya terjatuh ke lantai dengan suara keras.


"Lancang! Bagaimana bisa ada yang tidak pingsan saat ini? Kau, apa kau iblis juga?" tanya makhluk itu dengan mata melotot marah.


Bagaimana dia tidak terkejut pasalnya dia tidak merasakan aura atau aroma apa pun. Dia mengambil paha yang jatuh lalu melahapnya lagi dengan suara tulang yang digigit terdengar menjijikkan di telinga.


"Makhluk kotor seperti dirimu tidak perlu tahu siapa aku? Menggunakan rupa wanita dengan dupa pemikat untuk memaksa laki-laki masuk ke perangkapmu kau memang pantas dijuluki iblis pemikat laki-laki." Ru Ansan mengejek dengan senyum sinis.


Melihat wanita itu berada di bawah kendali iblis itu, Ru Ansan melambaikan tangan. Aroma harum bunga mengalir ke luar diikuti tanaman merambat yang langsung menuju ke arah wanita itu.


"Jangan mengambil budakku!" teriak makhluk itu terdengar menakutkan.


Ru Ansan tidak peduli, ia langsung menarik wanita itu ke luar dari kamar membawanya menjauh dari penginapan. Setelah itu dia berjalan menuju ke dalam penginapan lagi mendatangi iblis yang sedang makan lezat itu.


Separuh tubuh manusia yang telah dimakannya tidak lagi ditemukan jejaknya. Yang tertinggal hanya tubuh bagian atas, iblis itu tampak bersemangat saat melihat kedatangan Ru Ansan kembali.


Buru-buru ia melahap tubuh di depannya, "bagus kau kembali! Kau bisa menggantikan budak yang telah kau selamatkan itu, aku sudah tidak sabar melahap ingatanmu. Menjadikan dirimu boneka yang patuh akan perintah milikku," ucap makhluk itu dengan penuh semangat.


Ru Ansan tersenyum, dia melihat iblis itu mendekat ke arahnya dengan mata merah yang terlihat begitu menjijikan. Ru Ansan bahkan tidak memindahkan kakinya sama sekali, ia memandang angkuh pada iblis itu dengan mata meremehkan.


Hal itu membuat iblis menjadi marah, ia langsung melompat menuju Ru Ansan dengan kebencian yang mendalam. "Aku belum pernah memakan wanita, kau akan menjadi makhluk wanita pertama yang akan kumakan." Iblis igu meraung marah.


Ketika hampir sampai di depan Ru Ansan dia membeku, matanya melotot tidak rela. Ru Ansan memegang sesuatu bewarna putih di tangannya, benda itu memancarkan cahaya menyilaukan membuat iblis itu tidak bisa melakukan apa pun.


"Jangan meremehkan musuhmu! Kau harusnya tahu bahwa musuh yang berani pasti memiliki suatu kemampuan." Ru Ansan berjalan mendekat dengan tangan masih memegang benda putih bersinar itu.