Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#62


Aura murni yang diserap oleh Liu Zixia membuat kulitnya semakin lembut dan juga semakin terlihat cerah.


Aliran hangat yang masuk dan memutar di seluruh tubuhnya membuat Liu Zixia merasa nyaman dan malas untuk membuka mata. Liu Zixia merasa nyaman dan terus menyerap qi murni yang ada di dalam ruang.


"Uh terasa sangat nyaman," ujar Liu Zixia sembari meregangkan tubuhnya. Ketika dia membuka mata yang terlihat oleh Liu Zixia adalah keadaan ruang yang terlihat lebih besar dan jelas.


Ruang dimensi ini menjadi lebih besar dari awalnya dan juga tinggi ruang juga semakin tidak terlihat.


"Kenapa ragaku bisa masuk ke dalam ruang ini? Biasanya hanya jiwaku saja yang masuk dan hanya bisa berbicara dengan Ru Ansan melewati pikiran." Liu Zixia merasa bingung sekaligus aneh.


Dia menjelajahi ruang dan menemukan tanaman racun di sana menjadi semakin banyak dan beraneka ragam.


Tak luput pula di dalam ruang itu di sudut yang tak pernah dilihatnya sudah ada beberapa hewan yang tidak pernah dilihatnya.


"Kau sudah bisa menyerap qi rupanya ya!" Ru Ansan tiba-tiba muncul di depan Liu Zixia dengan sayap yang terlihat semakin lebar.


Bobot tubuhnya juga sudah lebih besar daripada yang biasanya.


"Iya, rasanya sangat nyaman sekali saat aku bisa menyerap dan mengendalikan qi di dalam tubuhku." Liu Zixia mengangguk dan melihat sekeliling lagi.


"Apa kau tidak merasa aneh dengan ruang ini?" tanya Liu Zixia pada Ru Ansan.


Liu Zixia berjalan dan mendekat ke arah tanaman obat yang terletak bersebelahan dengan tanaman racun di ruang itu.


"Ruang ini lebih besar dari yang kau lihat, ruang ini juga memiliki berbagai macam hewan dan tumbuhan di dalamnya hanya saja ruang ini akan meningkat sesuai dengan level yang kau miliki." Ru Ansan menjelaskan sembari terbang mengepakkan sayapnya yang mengeluarkan angin lebih kencang.


"Maksudmu? Apa semakin aku meningkatkan levelku semakin luas pula ruang ini?" tanya Liu Zixia sembari memeriksa tanaman yang lain.


"Keluarlah! Semua orang sedang mencarimu karena kau tiba-tiba saja menghilang." Ru Ansan berbicara saat melihat Liu Zixia tidak berminat untuk ke luar dari dimensi ruang ini.


"Astaga, untung kau ingatkan. Aku bahkan hampir saja melupakan mereka." Liu Zixia menepuk keningnya dan terdiam sejenak.


"Oh, Bagaimana caranya aku ke luar dari sini dan bagaimana caranya aku masuk kembali?" tanya Liu Zixia bingung pada Ru Ansan.


"Kau tinggal memikirkan ke luar saja dari sini maka kau akan ke luar. Kalau kau ingin masuk kau tinggal menyebut masuk ke dalam ruang." Ru Ansan menjawab dengan malas.


Matanya memutar dengan marah saat melihat kebingungan di mata Liu Zixia.


Segera Liu Zixia menghilang dari pandangan Ru Ansan dan muncul di dalam kamarnya yang ada di rumah pohon.


"Liu Zixia!" teriakan keras Long Ze terdengar memasuki telinga Liu Zixia saat ia baru saja muncul dan menstabilkan jiwanya.


"Liu Zixia!" Lagi, itu teriakan Ye Lian yang terdengar di bawah. Mereka saling meneriaki nama Liu Zixia silih berganti.


Liu Zixia merapikan pakaiannya dan segera ke luar dari kamar. Ia memerlihatkan wajahnya dari lantai atas yang sengaja dibuat lebih untuk duduk di rumah pohon.