Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#194


Di kaki gunung di Benua Bawah, sebuah retakan hitam muncul sedikit demi sedikit. Pola aneh juga terlihat dari luar retakan sebelum kemudian suara gemuruh terdengar dengan kuat. Saat celah itu semakin besar beberapa mahkluk dengan rupa mengerikan muncul, mereka berbondong-bondong ke luar dengan bau busuk yang begitu menyengat.


Beberapa makhluk berjalan ke arah yang berbeda menyisakan jejak hitam menakutkan di tanah, jalan-jalan yang mereka lalu langsung hancur luluh lantak seolah bencana besar baru saja terjadi. Iblis, itu sebutan mereka, mereka langsung mencari desa terdekat memeriksa semua rumah untuk menemukan manusia yang bisa dijadikan santapan.


Berita tentang retakan itu sampai ke Benua Atas termasuk Kekaisaran Yuhuan, ketakutan tampak jelas di wajah para pengungsi apalagi sejak retakan itu muncul tanah terus bergetar dengan hebat. Benua Atas mengirim beberapa orang dengan kekuatan kuat untuk melihat pergerakan iblis lalu membuat persiapan untuk berperang.


Bukan mereka tidak peduli pada orang-orang Benua Bawah hanya saja jika mereka menampung semua orang maka Benua Atas tidak akan bisa bertahan lama. Liu Zixia membuka surat itu dengan segera, ia melihat isi surat lalu bangkit dari tidurnya.


Liu Zixia berputar-putar beberapa kali di sana hingga He Yidu selesai mandi dan datang menemui dirinya.


"Apa benar dia ibumu? Kalau iya mari kita jemput dia! Meski aman berada di luar gerbang namun kita tidak tahu kapan kecelakaan akan terjadi." He Yidu meraih tangan Liu Zixia menggenggamnya dengan erat, dia tidak tahu seberapa penting bagi Liu Zixia ibunya ini namun mereka harus tetap membalas budi atas kebaikan ibunya untuk melahirkan Liu Zixia.


"Apakah kau memiliki sebuah tempat yang bisa dijadikan tempat tinggal bagi mereka? Aku tahu kau merasa tidak nyaman dengan wanita, lagipula aku sudah lama tidak bertemu dengan beliau. Aku juga tidak dibesarkan olehnya jadi tidak masalah kalau kita hanya memberikannya tempat tinggal saja." Liu Zixia membalas genggaman tangan He Yidu.


Liu Zixia sejak tadi sudah memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi jika mereka berada di satu tempat, selain nanti ada kecemburuan dari orangtua He Yidu faktor lain juga bisa saja muncul tanpa diinginkan. Mendengar penuturan Liu Zixia He Yidu mengangguk, dia memang memiliki kediaman lain yang lebih kecil, kediaman yang dia beli dengan uangnya sendiri.


"Aku punya! Sebaiknya kita jemput beliau sekarang juga, aku dengar iblis sudah ke luar dan mulai mencari manusia. Entah sudah berapa banyak yang mereka makan di luar sana," bisik He Yidu pelan.


He Yidu mengeluarkan token miliknya agar penjaga gerbang mau membukakan pintu. "Apa yang Anda lakukan di luar, Yang Mulia! Para iblis sudah ke luar, mereka pasti akan menyerang tempat ini. Tidak aman bagi Anda untuk berkeliaran meski Anda memiliki penjaga berilmu tinggi." Penjaga itu berusaha mencegah He Yidu.


"Aku tidak pergi jauh, ibu mertuaku berada di kaur gerbang. Istriku sudah lama tidak bertemu ibunya, tidak mungkin aku membiarkan beliau di luar sana." He Yidu menjelaskan sembari menyimpan token miliknya.


Sebenarnya dia juga tidak perlu mengeluarkan token itu sebab penjaga yang bertugas adalah penjaga yang sering dia temui jika bepergian ke istana. Namun karena itu semua adalah prosedur yang harus ia lakukan agar tidak menimbulkan kekacauan di saat keadaan genting seperti ini.


Penjaga itu mengangguk, dia membuka gerbang membiarkan He Yidu berserta rombongannya lewat. Tidak lupa mereka membawa pengemudi kereta keluarga Zhuang karena hanya dia yang tahu seperti apa wajah wanita yang mengirimkan pesan itu.


Saat mereka ke luar dari gerbang kebetulan Liu Zhang juga melihat ke arah gerbang. Saat ia melihat yang ke luar adalah rombongan Liu Zixia ia langsung berlari mengejar.


"Zixia! Ini Ayah!" teriaknya keras menyebabkan beberapa pasang mata menengok ke arah Liu Zixia yang baru saja ke luar dari gerbang.


Liu Zixia mengabaikan teriakan Liu Zhang, dia berjalan mengikuti pengemudi untuk menemukan lokasi ibunya serta ingin mencari tahu apa yang diinginkan keluarga yang katanya telah menolong ibunya itu.