Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#21


Lin Yuhua membawa Yu Zixia ke istananya dengan cepat, matanya masih memerah dengan cahaya yang tak normal terlihat jelas di sana.


"Dia kumat lagi," keluh Lin Yunzia yang merasakan aura tajam milik Lin Yuhua dari kejauhan.


Lin Yunzia berusaha mengejar ke arah asal aura Lin Yuhua datang. Namun pemandangan di depannya membuat Lin Yunzia memilih untuk bergerak mundur kembali.


Di dalam kamarnya Lin Yuhua sedang mencium Yu Zixia dengan lilitan tangan yang begitu erat dan kuat.


Bajunya nampak berantakan begitu pula dengan pakaian yang dikenakan oleh Yu Zixia.


"Apa aku harus menghentikannya?" tanya Lin Yunzia entah pada siapa.


"Hentikan saja, jika berlanjut maka Yu Zixia akan membencinya semakin dalam." Entah darimana asal suara itu berasal namun jawabannya membuat Lin Yunzia ingat kebencian Yu Zixia pada Lin Yuhua.


"Emmm saudaraku, kau harus memaafkan diriku kali ini. Aku hanya tak ingin Yu Zixia semakin membencimu." Lin Yunzia mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya, dengan cepat ia mengibaskan benda itu dan seketika hal itu membuat Lin Yuhua yang sedang panas terhenti seketika.


Merah darah di matanya perlahan menghilang dan kembali diganti dengan cahaya putih kembali.


"Kau," ujarnya terkejut sembari menyelimuti tubuh Yu Zixia dengan selimut, gadis cantik dipelukkannya sudah seperti boneka.


"Aku hanya menyadarkanmu saudaraku hanya itu saja, aku tidak melihat apapun selain tubuhmu karena tubuh saudara ipar ditutupi oleh tubuh besarmu yang seperti sapi itu." Lin Yunzia segera kabur meninggalkan kamar Lin Yuhua dengan cepat.


Lin Yuhua yang sudah tersadar akhirnya melihat ke arah Yu Zixia yang masih diam seperti patung, "Aku hampir saja kehilangan kendali lagi," ucapnya sembari melepas selimut yang menutupi tubuh Yu Zixia.


Lin Yuhua melihat apakah dia meninggalkan bekas-bekas nakal di tubuh Yu Zixia.


Setelah memastikan dia merapikan kembali pakaian Yu Zixia dan menyelimutinya dengan baik. "Tidurlah sebentar, aku akan kembali lagi setelah semua persiapan pernikahan kita selesai," ucapnya sembari mengecup kening Yu Zixia yang masih diam membisu.


Yu Zixia mengangguk tanpa perlawanan, dia memejamkan matanya sesuai dengan perintah Lin Yuhua.


"Kau buas juga ternyata," sindir Lin Yunzia yang sudah berada di ruang belajarnya.


"Terima kasih sudah menyadarkanku secepat mungkin," jawab Lin Yuhua tak peduli Dnegan sindiran Lin Yunzia padanya.


"Kasim Han masuklah," perintah Lin Yuhua tak lagi peduli dengan kehadiran kembarannya itu.


"Ada apa Yang Mulia," sapa Kasim Han sembari membungkuk hormat. Pria yang berpakaian Kasim itu melihat keberadaan Lin Yunzia juga ikut membungkuk ke arahnya.


"Sebarkan berita bahwa aku akan menikah dua hari lagi, jika mereka bertanya dengan siapa aku menikah katakan saja itu rahasia." Lin Yuhua memberi perintah cepat sembari menulis sesuatu di atas kertas.


"Anda akan mengambil Permaisuri lagi Yang Mulia?" tanya Kasim Han heran dan bercampur bingung. Pasalnya dia tak melihat Lin Yuhua menemui gadis manapun setelah kematian Permaisuri Liu Zixia.


"Ya, itulah sebabnya aku perlu merahasiakan wajah dan nama Permaisuriku selanjutnya. aku tidak ingin ada yang mencari tau dan menyakitinya seperti orang-orang itu menyakiti Liu Zixia." Lin Yuhua termenung tak kala mengingat pandangan kecewa yang diberikan oleh Liu Zixia saat keluarganya dijatuhi hukuman mati.


"Tapi mana bisa hal seperti itu dilakukan Yang Mulia, rakyat dan para menteri pasti akan melakukan berbagai macam cara untuk dapat melihat wajah Permaisuri Anda," ujar Kasim Han mengingatkan Lin Yuhua.


"Memangnya mereka bisa apa? Apa mereka bisa menentang semua keputusan yang sudah ku ambil? Kalau bukan karena diriku kota kekaisaran ini tidak akan ada lagi." Lin Yuhua menatap penuh kebencian saat mendengar kata-kata tentang para menteri.


"Baiklah Yang Mulia," ucap Kasim Han sembari membungkuk sebelum pergi melangkah keluar dan menutup pintu ruangan Lin Yuhua.


"Kau harus bisa menjaga emosimu saudaraku, aku tidak ingin usaha ayah dan ibu untuk menjaga kita baik-baik saja hilang tak bersisa." Lin Yunzia mengingatkan Lin Yuhua dengan wajah serius.


"Kau pikir aku juga ingin sisi iblisku muncul, semua ini karena penolakan yang dilakukan oleh Yu Zixia terus-menerus padaku." Lin Yuhua nampak kesal dan marah.


"Itu semua kesalahanmu, kau yang mudah diperdaya oleh Ruan Zu. Aku tidak ingin lagi kau membuat Yu Zixia menderita jika itu terjadi maka aku sendiri yang akan membawanya ke lembah iblis," ancam Lin Yunzia tegas tak terbantahkan.


"Seolah kau bisa saja," ujar Lin Yuhua sembari menatap tajam ke arah Lin Yunzia dengan mata merahnya yang menyala.


"Bagaimana jika rahasia kita diketahui oleh Yu Zixia?" tanya Lin Yunzia iseng, selama ini Yu Zixia tak pernah melihat keduanya berubah.


Lin Yuhua dan Lin Yunzia bukanlah keturunan iblis murni, mereka hanya setengah iblis. Ibu mereka adalah putri dari seorang iblis dengan manusia. Itu sebabnya ibunya berparas seperti manusia utuh dan itu diturunkan pada kedua anak kembarnya.


Dan kebetulan darah iblis lebih kental pada Lin Yuhua daripada Lin Yunzia. Itu sebabnya jika Lin Yuhua kelepasan maka ia akan bermata merah dan rambutnya juga akan memerah seperti api yang menyala.


"Dia tidak akan pernah tau selamanya," ujar Lin Yuhua dengan pasti dan keyakinan yang tinggi.


"Kau menggunakan kekuatan iblismu padanya kan? Sampai kapan kau akan mengendalikan pikirannya?" tanya Lin Yunzia mendekat.


"Iya, sampai kami menikah baru aku akan kembali membuatnya sadar." Lin Yuhua menjawab dengan pasti.


Lin Yunzia mengangguk ia hanya berharap Yu Zixia tidak lagi dilukai oleh saudaranya ini.


"Bagaimana dengan Ruan Zu? Kapan kau akan mengirimnya keluar dari istana ini?" Lin Yunzia kembali teringat dengan wanita yang menghancurkan kebahagiaan Yu Zixia.


"Tubuhnya masih lemah, aku akan membiarkannya merawat tubuhnya dulu. Setelah ia sehat dan benar-benar pulih aku akan menyuruh orang mengirimnya keluar," jawab Lin Yuhua lagi sembari berjalan keluar dari ruang kerjanya meninggalkan Lin Yunzia sendirian.