
Liu Zixia yang mendengar penuturan suaminya tampak cemberut, bibirnya mencebik dengan wajah masam yang membuat suaminya ingin terus menggoda. Liu Zixia bangkit dari posisinya, di mana posisi kakinya tadi satu tertekuk sedangkan yang satu lagi dalam posisi lurus dengan tubuh bersandar ke kepala ranjang.
"Huh, aku hanya ingin menggoda Yiza tapi siapa yang tahu kalau perawatnya begitu galak terhadapku. Aku diusir dengan cara yang menyedihkan dari dalam ruang milikku sendiri. Padahal aku yang punya tapi aku seperti orang yang menumpang tinggal saja," keluh Liu Zixia dengan wajah menyedihkan.
"Kau apakan anak kita hingga sampai diusir oleh Ru Ansan dari sana?" tanya Ling Zhi tampak penasaran, mereka sangat hapal dengan tingkah nakal istri mereka.
Liu Zixia tidak senang dengan pertanyaan itu, matanya membesar bulat seolah memberikan peringatan pada suaminya untuk tidak berbicara lagi. Liu Zixia kesal, dia berjalan menuju ke luar halaman dengan tangan di belakang punggung tampak memikirkan sesuatu.
"Aku harus apa agar kedua anakku mau denganku? Mereka lebih suka dengan ayah dan pengasuhnya, nasibku sungguh malang sekali. Punya anak kembar tapi rasa tidak punya anak saja." Liu Zixia terus mengeluh, dia berdiri di bawah pohon besar memegang dagunya lalu berjalan beberapa rupa putaran di sekitar sana.
"Sayang! Apa yang kau pikirkan? Apa yang membuatmu tampak seperti ini?" Ye Lian terlihat cemas dengan raut wajah masam Liu Zixia.
Liu Zixia melirik Ye Lian sekilas lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah lain, dia berjalan mondar-mandir tidak tentu arah seperti setrika banyak pekerjaan. Ye Lian pantang menyerah, dia berjalan menuju sisi Liu Zixia meraih bahu Zixia untuk menghadap pada dirinya.
Apa?" tanya Zixia.
Ling Zhi dan yang lain berhasil menyusul Liu Zixia setelah Ye Lian, melihat istri mereka merajuk. Bukannya menghibur mereka malah mencari kursi untuk menjadi penonton, mereka ingn tahu apa yang dipikirkan Zixia tanpa bertanya karena Ye Lian sudah ada yang akan menjadi korban kemarahan Liu Zixia.
Yang lain menahan tawa, mereka yakin kemarahan Zixia bukan hanya karena anaknya saja tapi karena dia ditertawakan tadi. Ye Lian tidak kehabisan ide, dia dengan cepat berjalan pergi menuju ke arah luar dengan langkah-langkah besar.
Melihat dirinya tidak lagi dibujuk, Zixia makin cemberut. Dia melirik suaminya yang lain, selain He Yidu semuanya mengalihkan pandangan mengabaikan tatapan Zixia.
Zixia semakin merajuk, kakinya menghentak ke tanah beberapa kali sebelum dia pergi menuju arah lain. "Huh, suami macam apa mereka? Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menghibur diriku, mereka menganggap aku orang asing yang tidak butuh kehangatan. Lihat saja, setelah aku benar-benar sehat dan masa kurungan terlewati aku tidak akan memberi mereka jatah."
Zixia mencari pohon besar untuk duduk namun sebuah ide memasuki benaknya dalam sekejap Liu Zixia menghilang dari kediaman. Dia muncul di rumah Lu Ran Ran dan duduk di atas pohon besar rimbun yang ada di kediaman itu ingin menonton pertunjukan sebelum memberi mereka kejutan.
"Aku akan perlu tempat untuk menyalurkan kemarahan yang ada di hatiku kebetulan ada sasaran empuk, racun baru yang ada memang membutuhkan target percobaan." Liu Zixia duduk santai di pohon itu menunggu Lu Ran Ran datang agar tahu di mana halamannya.
Saat itulah, Zixia melihat He Yuan membawa seorang pria masuk dengan paksa dari pintu belakang menuju halamannya. Zixia tampak penasaran, dia dengan terampil mengikuti dari jauh hingga sampai di halaman He Yuan yang sepi.
He Yuan memaksa pria itu masuk ke kamarnya, mengikat kedua tangan pria itu ke ranjang, membuka pakaian atas pria itu lalu mengambil cambuk untuk memukulinya dengan keras.