Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#209


Ruan Zu merasa terhina, gerakannya mulai melambat seiring bertambahnya luka yang ada di tubuhnya, dia merasa tidak kuat atas penghinaan yang diberikan oleh Liu Zixia padanya. Ruan Zu menggertakkan gigi saat rasa benci itu semakin meningkat di dalam hatinya, dia berusaha bangkit melakukan serangan pembalasan namun semua itu terasa begitu sia-sia.


Pertengkaran itu terus berlanjut, hingga akhirnya satu tangan Ruan Zu terpenggal, darah hitam busuk langsung menyebar di udara membuat beberapa orang langsung muntah. Ruan Zu berteriak kesakitan, impiannya untuk mengalahkan Zixia ternyata hanya angan semata tanpa bisa dia raih sama sekali.


Ruan Zu bergegas ke depan menggunakan tangannya yang lain namun semua itu tetap sia-sia sebab perjuangannya langsung dihentikan oleh Zixia. Zixia tersenyum mengejek, dia menatap Ruan Zu dengan pandangan meremehkan yang dulu pernah diberikan Ruan Zu padanya.


"Aku dulu menganggap mu seperti teman, aku mendukungmu, membantu kau menyerang balik semua saudara tirimu tapi apa yang kau lakukan? Saat kau memiliki kekuatan kau malah menghancurkan diriku, kau membunuh mereka yang peduli padaku dan kau bahkan membunuh diriku." Zixia mengeluarkan semua yang dia rasakan dulu, sakit hati, kecewa serta luka yang diberikan Ruan Zu padanya terlalu menikam hati hingga dia tidak sanggup menahan semua gejolak di dalam dadanya.


"Sekarang kau harus melihat seperti apa rasanya diremehkan, kau harus tahu seperti apa rasanya tidak memiliki kesempatan untuk membalas Ruan Zu." Zixia mendorong pedangnya ke depan bilah putih terang yang dihasilkan bayangan pedang langsung menyerang menuju Ruan Zu yang telah lemah.


Bai Ling berteriak keras saat melihat itu, dia bergegas maju untuk menghentikan semua itu namun tubuhnya langsung mendapatkan hantaman keras dari Yuhua. Bai Ling terlempar jauh dengan luka lebar yang terasa begitu menyakitkan, Bai Ling berteriak histeris saat melihat tubuh Ruan Zu terbelah dua oleh pedang Zixia.


Api biru muncul di tangan Zixia, api itu langsung diarahkan menuju Ruan Zu membakar jasadnya agar tidak bisa bereinkarnasi lagi. Melihat itu Bai Ling semakin merasa putus asa, Bai Ling berusaha mendekat ke arah Ruan Zu namun dirinya langsung ditendang menjauh oleh He Yidu.


"Jangan mengganggu mereka! Sebagai laki-laki lawanmu juga laki-laki, kau harus menunggu dengan sabar giliranmu mati karena kalian adalah pasangan serasi yang telah ditakdirkan Sang Pencipta." He Yidu tertawa dengan manis namun kebencian di dalam matanya mengirimkan rasa dingin hingga ke tulang Bai Ling.


Ruan Zu mulai terbakar, jiwanya berteriak karena dibakar oleh Zixia menggunakan api biru. Zixia menonton semua itu dipinggir berharap kebenciannya selama bertahun-tahun dapat hilang seiring menjauhnya jiwa Ruan Zu.


Bai Ling juga telah dilukai oleh He Yidu dan Lin Yuhua, dia hanya bisa menatap tidak berdaya pada abu bekas tubuh Ruan Zu yang dibakar. Air matanya yang jatuh benar-benar tulus dari hati, dia begitu memanjakan Ruan Zu menuruti keinginan Ruan Zu meski dia tahu itu adalah kesalahan.


"Sekarang giliranmu!" Lin Yuhua mengarahkan pedangnya pada Bai Ling, pedang tajam itu mengarah langsung ke jantung Bai Ling tapi Bai Ling sama sekali tidak memiliki niat untuk melarikan diri.