Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#144


Setelah kepergian para pelayan itu Lin Yuhua duduk di tempat tidur menceritakan berita yang tadi dia dengar. Mereka mendengar dengan saksama untuk memikirkan jalan agar bisa menemukan Ruan Zu sebelum dia berhasil mencapai benua atas.


"Aku rasa dia masih berkeliaran di sekitar desa Rawajati, kita hanya perlu menelusuri kerajaan Berlian agar bisa menemukannya. Tapi kita tidak perlu membuka jati diri kita agar tidak menimbulkan masalah yang tidak diinginkan." Ye Lian bersuara, menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya.


Ling Zhi di sisi lain mengangguk setuju, "menurutku apa yang dikatakan Lian benar, jika mereka tahu kedatangan kita ke sana aku yakin Ruan Zu pasti akan melarikan diri lagi. Sekte Hitam sudah meresahkan, sebaiknya secepat mungkin kita habisi mereka sebelum korban semakin bertambah setiap harinya." Ling Zhi ikut menyampaikan isi pikirannya juga.


"Hem, aku memiliki cairan untuk mengubah bentuk wajah dan suara. Sayang sekali untuk mengubahnya kembali ke semula dibutuhkan waktu lama, kalau kalian ingin mencoba aku bisa memberikan kalian cairan itu." Liu Zixia menawarkan ramuan yang dibuatnya.


"Aku tidak perlu ramuan itu sebab aku memiliki mantra untuk mengubah bentuk sama seperti Lin Yunzia." Lin Yuhua menolak cairan yang ingin diberikan Liu Zixia padanya, bukan tidak ingin tapi karena dia memang tidak membutuhkan ramuan itu.


"Kami bisa meminumnya tapi kau sebaiknya jangan, kau bisa memakai cadar saja untuk menutup wajahmu." Long Ze setuju meminum cairan itu agar mereka tidak mengacaukan niat Liu Zixia untuk berhasil menangkap Ruan Zu dan membalaskan dendamnya.


Karena ketiga suami Liu Zixia setuju untuk meminum cairan itu maka Liu Zixia mengeluarkannya dari dalam ruangnya. Melihat tiga botol cairan itu menghilang dari depan matanya Ru Ansan menjadi semakin marah.


"Anak itu benar-benar melupakan diriku, awas saja jika dia masuk ke sini. Aku akan membuatnya memohon pengampunan dariku," sungut Ru Ansan dengan nada kesal.


Ru Ansan terbang menuju pohon tempatnya bermain kemarin lalu duduk di sana, sama seperti waktu itu Ru Ansan memetik daun membuangnya ke lantai. Daun-daun di lantai yang berserakan akan hilang dengan sendirinya sama seperti daun yang dipetik oleh Ru Ansan.


"Hei pohon! Kapan menurutmu waktu yang tepat untukku bermain di luar? Aku bosan di sini, setiap hari yang aku lihat hanya daunmu, obat-obatan serta binatang buas di gunung yang akan dijadikan santapan. Aku ingin bermain-main di luar, melihat pria cantik lalu mencari pasangan." Ru Ansan bertanya pada pohon tempatnya duduk.


Pohon yang dijadikan Ru Ansan tempat bersandar tidak menjawab sama sekali, sebagai tanggapan dia hanya bergoyang sedikit menunjukkan persetujuan dari pertanyaan yang diberikan Ru Ansan padanya. Di sisi lain, Liu Zixia telah selesai membagikan cairan itu.


"Jangan meminumnya sekarang! Minum saja nanti saat dijalan ketika kita hampir mendekati wilayah Kerajaan Berlian, aku ingin istirahat dulu." Liu Zixia berjalan menuju kamar mandi, setelah ke luar dari sana ia berbaring di tempat tidur dengan tubuh miring ke kanan.


Liu Zixia memejamkan mata dengan tangan memegang perutnya yang buncit, Lin Yuhua di sisi lain juga ikut berbaring di sebelah Liu Zixia. Karena mereka telah mendapatkan info yang diinginkan, mereka hanya akan menginap di sini hari ini.


Dengan posisi di belakang Liu Zixia, Lin Yuhua ikut memejamkan mata sedangkan Ling Zhi membaca buku miliknya yang ia keluarkan dari ruang milik Liu Zixia. Sembari membaca, Ling Zhi sesekali akan melirik ke arah tempat tidur memastikan Liu Zixia tidak kesulitan.


Pagi keesokan harinya, mereka meninggalkan penginapan. Liu Zixia naik ke kereta lalu menghilang dari dalam kereta merasa ada sesuatu yang menariknya untuk masuk. Suami Liu Zixia yang melihat langsung ikut menghilang meninggalkan Ling Zhi yang sedang mengemudi.


"Huh, akhirnya aku punya cara untuk menarikmu masuk!" Ru Ansan tertawa senang karena berhasil menarik Liu Zixia untuk datang menemuinya.


Melihat gadis remaja yang bersandar di dahan pohon paling besar itu Liu Zixia mengernyit bingung sebelum matanya berbinar. Liu Zixia memikirkan sesuatu lalu tiba-tiba saja Ru Ansan telah berada di depannya dengan mata melotot serta mulut melongo tidak percaya.


"Kau curang!" teriak Ru Ansan kesal karena ah jahil Liu Zixia.


"Kau duluan yang curang, aku hanya mengikuti dirimu saja," tolak Liu Zixia namun senyum di bibirnya menunjukkan kalau dia senang melakukan semua itu.


"Huh, aku melakukan itu karena kau telah melupakan diriku. Coba saja kalau sesekali kau datang ke sini pasti aku tidak akan memaksa dirimu untuk masuk," sungut Ru Ansan tidak terima.


"Maafkan aku! Aku bukan melupakan dirimu hanya saja aku sibuk dengan pembalasan dendam serta kehamilan yang sedang kujalani." Liu Zixia berbohong dengan cepat.


Senyum di bibir Liu Zixia sebagai bentuk permintaan maaf terlihat tidak tulus sama sekali membuat Ru Ansan memutar mata. Melihat tidak ada tanggapan dari Ru Ansan, Liu Zixia tersenyum canggung menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Pohon ini telah berkembang dengan baik, dulu dia tidak memiliki buah bukan?" tanya Liu Zixia mengalihkan pembicaraan.


Ru Ansan melihat pada pohon yang menjadi mainannya setiap hari itu. Pohon rindang besar itu memang pohon ajaib yang mengeluarkan kekuatan spiritual murni, buahnya dapat membuat seseorang yang tidak bisa menyerap energi spiritual menjadi bisa.


Selain itu, buah ini sangat dicari oleh orang-orang benua atas karena dapat menaikkan level seseorang ke tingkat rendah ke tingkat menengah. Buah ini sudah lama hilang dan hanya Liu Zixia yang memilikinya sekarang.


"Hem, semenjak kekuatanku meningkat serta mengalami perubahan semua ruang juga ikut berubah. Tanaman obat juga tumbuh semakin subur dengan rentang umur yang ditemukan semakin tua. Asal kau tahu saja sekarang ada ginseng yang berumur lebih dari seratus ribu tahun, kalau dijual harganya akan sangat mahal di pasaran." Ru Ansan memamerkan kemampuan baru miliknya.


Liu Zixia mengangguk, matanya berbinar dengan bahagia ketika mendengar usia dari ginseng yang disebutkan oleh Ru Ansan. "Benarkah? Kalau begitu kualitas obat yang dibuat dengan bahan-bahan itu juga akan meningkat. Aku sudah tidak sabar membuat pil berkualitas tinggi yang telah hilang," teriak Liu Zixia dengan tawa bahagia.


Liu Zixia bertepuk tangan sembari memikirkan ladang obat lalu menghilang dari depan Ru Ansan begitu saja. Saat Liu Zixia menghilang, ketiga suami Liu Zixia muncul di sana dengan nafas tersengal. Mereka terlihat lelah karena jarak dari rumah ke pohon besar ini berada dalam jarak yang cukup jauh.