
"Aku tidak apa-apa, aku hanya cemas terjadi sesuatu yang berbahaya padamu." Ye Lian menggenggam tangan Yu Zixia dengan erat.
"Dia tidak akan melakukan apapun padaku, kau tak perlu cemas. Lain kali jika dia datang lagi kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku, dia hanya ingin menanyakan sesuatu padaku. Itu saja kok!" Yu Zixia berusaha meyakinkan Ye Lian.
"Benarkah? Mungkin aku yang terlalu cemas." Ye Lian tersenyum kecil sembari menahan rasa sakit pada lukanya.
Yu Zixia memberikan ramuan pada Ye Lian untuk kembali menyehatkan tubuhnya yang terluka. Setelah itu Yu Zixia kembali menuju ke arah kamarnya.
"Hei Ru Ansan," panggil Yu Zixia dengan suara pelan.
"Kekuatan pria itu terlalu menakutkan, bahkan aku tidak bisa untuk berdiri karena aura kemarahannya tadi." Ru Ansan berceloteh kesal.
"Ku kira kau sudah mati," cemooh Yu Zixia pada Ru Ansan yang sibuk terbang ke sana ke mari.
"Aku tidak mampu membandingkan diriku dengannya, kekuatannya jauh berada di atas diriku. Bahkan dengan racun miliki kita saja dia tak mempan." Ru Ansan berkata dengan nada sedihnya.
Yu Zixia memutar matanya malas, dia duduk bersila dan memasuki ruang dimensi di dalam gelang giok.
Di sudut ruangan Ru Ansan sedang sibuk membuat lingkaran kecil dengan mulutnya.
"Kau tak memiliki pekerjaan lain kah?" tanya Yu Zixia asal.
Yu Zixia bahkan memerhatikan dengan seksama apa yang sedang dilakukan oleh Ru Ansan.
"Tidak tau ingin melakukan apa, aku sedang malas sekarang. Kau ingin memeriksa tanaman beracun itu?" Ru Ansan terbang ke arah sebuah pohon yang mengeluarkan cairan berwarna hitam di pohonnya.
"Tidak," geleng Yu Zixia dengan cepat, ia duduk di kursi batu yang tersedia di ruang itu.
"Lalu kau ingin melakukan apa?" tanya Ru Ansan lebih penasaran lagi.
"Pria itu tidak akan pernah melepaskan dirimu tampaknya." Ru Ansan mendekat sembari berdiri di bahu Yu Zixia.
"Tidak masalah, asalkan aku bisa membalaskan dendamku pada wanita itu aku rela mati sesudahnya."
Yu Zixia berhenti menggiling, matanya menerawang jauh. Rasa sakit akibat kematian orang-orang yang dicintainya masih melekat indah dan kuat di hatinya.
Ucapan dan fitnah yang dilontarkan oleh wanita itu adalah penyebab kehancuran keluarganya.
"Aku tidak akan melupakan rasa sakit yang sudah mereka ciptakan, aku akan membunuh mereka yang sudah menyebabkan keluargamu hancur dan binasa." Yu Zixia berjanji teguh dengan keyakinan yang penuh.
Tangannya terkepal menahan kemarahan yang terasa menggebu-gebu di hatinya. Dendam, tangisan dan juga darah yang mengalir dari semua anggota keluarganya harus dibayar mahal kembali.
"Apa yang kau rasakan saat melihat semuanya dihukum di depan matamu?" tanya Ru Ansan penasaran.
"Tidak ada perasaan apapun selain kebencian," balas Yu Zixia cepat. "Aku benci kenapa harus hidup di istana, aku benci kenapa harus menjadi orang baik dan aku benci kenapa tak bisa menentang itu semua."
"Jika wanita itu ada di depanmu sekarang apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Ru Ansan lagi.
"Aku ingin dia melihat apa yang sudah di perbuatanya pada keluargamu, sama seperti keluargaku yang binasa keluarganya juga harus binasa."
"Kau yakin bisa membalas dendam? Berapa tahun yang dibutuhkan agar kau bisa mengalahkan Lin Yuhua menurutmu?"
"Tak peduli seberapa tahun yang dihabiskan, aku akan tetap membalas dendamku pada mereka bahkan jika aku harus mewariskan dendam itu pada anak-anakku nantinya." Perkataan dan janji Yu Zixia membuat bulu Ru Ansan berdiri.
Ru Ansan tau bahwa rasa sakit yang diakibatkan oleh orang-orang itu tidak akan mudah dilupakan oleh Yu Zixia, apalagi dengan pembantaian terhadap seluruh keluarganya.