
Mata cerah Liu Zixia memancarkan kebahagiaan yang sejak lama tidak ia rasakan. Kesenangan dalam melihat ketakutan musuh adalah hal yang menyenangkan.
Liu Zixia mundur kembali beberapa langkah, seperti tadi dia bersandar di samping jendela menikmati ketakutan yang diperlihatkan Liu Zhang padanya. "Hehehehe, bagaimana jika kau jatuh miskin? Apakah istrimu yang baik, anak-anakmu yang cantik dan kau banggakan akan bertahan di sisimu. Ah ... membayangkannya saja sudah terasa begitu menyenangkan apalagi ketika semua itu menjadi kenyataan."
Bersikukuh dengan sikap kurang ajar miliknya, Liu Zixia terus melempar kalimat demi kalimat yang mampu menggoyahkan pikiran Liu Zhang. Siapa yang tidak tahu kalau istrinya Bai Yan sangat suka berbelanja barang-barang mahal, Bai Yan sering mengirim uang kekediaman orangtuanya demi menyenangkan anggota keluarganya.
Anak-anak Liu Zhang menjadi sombong dan bangga karena mereka memiliki harta dan beberapa toko yang menghasilkan uang setiap hari. Jika semua toko dan uang itu lenyap tak bersisa maka hal pertama yang akan dilakukan Bai Yan adalah mengajukan perpisahan.
Wajah tampan Liu Zhang menjadi cemberut, raut tidak suka semakin terlihat jelas di sana. Kekejaman juga kebencian dipertontonkan Liu Zhang pada Liu Zixia membuat Liu Zixia tertawa menyeramkan
"Kenapa kau tidak mati saja anak pembawa petaka, kau hanya barang tidak berguna sama seperti Ibumu. Kelahiranmu adalah kesialan bagi anggota keluarga kami, jika aku tahu kau akan seperti ini lebih baik aku membunuhmu saja waktu itu." Liu Zhang terlihat begitu ganas dengan gaya menyerang kapan saja.
"Apa tadi kau bilang? Pembawa sial, hehehehe aku katakan padamu Liu Zhang, aku adalah gadis yang dipuja semua orang. Kekuatan yang kumiliki jauh di atas ketiga anakmu. Kakakku Liu Zhong dia adalah anak paling berbakat di Lembah Cahaya, dia adalah orang yang diberikan tanggung jawab besar oleh Mu Huang untuk meneruskan perguruan." Liu Zixia mengatakan apa yang sebenarnya ingin dia katakan sejak tadi.
Kata demi kata yang disampaikan Liu Zixia membuat Liu Zhang terpaku, Liu Zhang memikirkan uang yang telah ia berikan pada Bai Za agar bisa membawa salah satu putrinya ke Lembah Cahaya. Melihat raut wajah Liu Zhang, kesenangan semakin merayap di dalam hati Liu Zixia.
Sekejap mata Liu Zixia menghilang dari ruang belajar Liu Zhang meninggalkan Liu Zhang yang masih terpaku tidak berdaya. Liu Zhang buru-buru berjalan ke luar rumah saat menyadari keberadaan Liu Zixia sudah tidak terdeteksi lagi.
Liu Zhang mencari Bai Yan ke halaman putri mereka, di halaman itu Bai Yan tengah menangis sedih melihat keadaan putrinya yang menyedihkan. Kesombongan di wajah Liu Yan masih terlihat meski wajahnya telah rusak, Liu Yan merasa yakin kalau kerusakan di wajahnya akibat kecemburuan kecantikan wanita di Lembah Cahaya.
"Bu, apakah kau sudah mengirim orang ke Lembah Cahaya? Bagaimana kabarnya? Apakah mereka akan memberikan kita jawaban yang menggembirakan?" Liu Yan bertanya dengan raut tidak sabar.
Wajah jeleknya terlihat menyeramkan saat ia menampilkan senyum manis melihat kedatangan Liu Zhang ke halamannya. "Selamat datang, Ayah!" sapa Liu Yan ramah bersikap lembut dan penuh kasih seperti yang selalu diajarkan oleh Bai Yan padanya.