
Yuhua berbalik untuk mencari Yunzia namun matanya tidak dapat menemukan keberadaan sang kembaran, merasa kecewa Yuhua melirik pada Kasim Han yang sedang menahan tawa melihat kelakuan Yunzia yang tidak pernah berubah. Kasim Han mengalihkan pandangan matanya ke arah lain tidak ingin mendapatkan masalah juga.
"Hehehehe, tampaknya Yang Mulia masih takut seperti dulu Jenderal Agung!" Kasim Han hanya bisa mengatakan itu saat tatapan Lin Yuhua masih tidak berubah dari tubuhnya.
"Jangan memanggilku seperti itu, sebut namaku saja mulai sekarang! Aku dan istriku akan pergi meninggalkan Kekaisaran Yuhuan ini nanti sore, aku berharap kau masih sanggup bekerja seperti dulu Han Tua." Yuhua menghembuskan napas setelah tidak tahu harus melakukan apalagi.
Lin Yuhua membantu Zixia untuk berdiri, mereka berjalan meninggalkan aula pertemuan dengan langkah santai. Raja Awan sampai di kediaman tempatnya istirahat, dia membaringkan putrinya di ranjang lalu memanggil Tabib yang dibawa dari kerajaannya.
"Putri menderita luka dalam yang sangat serius Yang Mulia, kita tidak bisa melakukan perjalanan jauh untuk sementara. Saya takut terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya, beberapa tulang rusuk Putri patah serta tulang tangannya yang lain juga. Kita hanya bisa memberikan perawatan di sini jika tidak ingin Putri menjadi cacat permanen." Tabib itu telah selesai memeriksa wanita pingsan itu.
Raja Awan mendesah, beruntung ini hanya patah tulang saja bahkan jika Yuhua mau putrinya bisa mati dalam sekejap. Raja Awan menatap putrinya yang begitu ia manjakan, seandainya dia tidak menuruti keinginan putrinya untuk ikut datang ke sini maka dia tidak akan mengalami masalah dengan kekaisaran Yuhuan.
"Kau obati dia! Aku akan mengirimkan permintaan maaf pada Kaisar Yuhuan, semoga dia dapat memberikan pertimbangan atas semua hubungan kerjasama antara kita selama ini." Raja Awan berjalan ke luar kamar putrinya, rasa bersalah serta ketidakberdayaan tertulis jelas di wajah tuanya.
Kebahagiaan yang tadi selalu terlihat di wajahnya telah menghilang digantikan sepenuhnya oleh kesedihan dan duka yang mendalam. Kecewa, putus asa serta penderitaan semuanya dirasakan oleh Raja Awan hanya dalam hitungan jam saja.
Liu Zixia bahkan berbicara dengan Long Ze untuk mengalihkan pembicaraan, melihat ke-duanya telah selesai mengganti pakaian barulah Liu Zixia merasa puas. Reaksi yang ditunjukkan oleh Zixia membuat Yuhua geli sekaligus gemas hingga mencubit pipi chubby Liu Zixia.
"Apa kita pergi sekarang atau menunggu sore tiba?" Long Ze bertanya saat melihat Zixia masih duduk santai di kursi yang ada di halaman.
Liu Zixia mengangkat kepalanya sedikit sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain, satu tangan Liu Zixia berada di sandaran kursi sedangkan ke-dua kakinya diluruskan. Liu Zixia tampak malas apalagi perut Liu Zixia yang mulai menonjol terlihat lucu.
"Sebentar lagi kita pergi, Zixia mengatakan kalau dirinya sedang tidak ingin terkena cahaya matahari." Yuhua yang membawa minuman menjawab dengan cepat.
Minuman itu diletakkan di depan Liu Zixia namun melihat Zixia tidak bergerak Yuhua terpaksa langsung menyodorkan minuman itu ke mulut Zixia. Zixia dengan cepat membuka mulut menerima pemberian Yuhua.
"Hem baguslah, aku juga merasa panas hari ini terlalu menyengat. Aku akan menyiapkan sesuatu untuk digunakan dalam perjalanan agar kita tidak perlu berhenti setiap waktu." Long Ze melangkah menuju ke arah berlawanan dari dapur.
Tempat itu adalah tempat di mana banyak tanaman herbal di tanam sekaligus di sana ada gudang kecil tempat penyimpanan barang mereka.