Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#174


Ziyi termenung mendengar penuturan Lin Yunzia, memang benar sejak terjadi kerusuhan dengan para iblis terjadi Kekaisaran Yuhuan tidak terganggu sama sekali. Ziyi menatap wajah Yunzia, keraguan yang dimilikinya sirna begitu saja saat melihat kepercayaan diri yang ada pada Yunzia.


"Apakah benar-benar aman? Aku hanya ingin anak-anak kita hidup dengan baik, itu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Lalu bagaimana dengan saudaramu? Apa kita perlu menyuruhnya kembali kalau memang tempat ini adalah wilayah paling aman. Biar bagaimanapun istrinya tengah hamil bukan?" Ziyi terlihat khawatir, ia menggenggam tangan Yunzia erat.


"Tidak perlu mengkhawatirkan mereka, kakakku punya cara tersendiri untuk melindungi keluarganya. Lagipula, dia memiliki istri hebat serta rekan tim yang dapat diandalkan. Yang perlu kau pikirkan saat ini adalah anak yang ada di dalam kandunganmu." Yunzia membelai perut Ziyi.


Ziyi baru saja hamil hingga perutnya masih belum terlihat membesar. Menurut tabib kerajaan kandungan Ziyi baik-baik saja mereka hanya perlu menjaga pola makan serta istirahat Ziyi saja agar pertumbuhan bayi stabil.


"Anak kita berprilaku sangat baik, dia tidak membuatku seperti perempuan hamil lainnya. Tidak ada mual ataupun muntah, pusing bahkan kekurangan nafsu makan. Anakmu malah membuatku tampak gendut," bisik Ziyi sangat pelan namun masih bisa ditangkap telinga Lin Yunzia.


"Baguslah, jika tidak aku akan memukul pantatnya ketika dia lahir nanti." Ziyi membelai perut Ziyi lebih lembut lagi, cinta yang luar biasa terpancar jelas di wajah Yunzia membuat Ziyi merona.


Ruan Zu telah sampai di perbatasan antara dunia manusia dan dunia iblis bersama Bai Ling dan rombongannya. Du Zi yang dimanjakan juga menjadi semakin menjadi bersikap kasar terhadap pelayan maupun penjaga yang mengikuti Ruan Zu.


Dia bertingkah semakin sombong bahkan dengan seenak hati mengejek Ruan Zu setiap hari, siang ini mereka mulai membuat tenda di tepi perbatasan. Beberapa pelayan tampak memberikan perawatan pada Du Zi yang saat ini sedang menikmati makanannya.


"Kapan kau akan memakan janin itu?" Bai Ling berbisik di telinga Ruan Zu bahkan dengan sengaja dia meniup napas ke telinga Ruan Zu membuat Ruan Zu bergerak gelisah.


"Nanti malam, janin itu sudah sesuai dengan apa yang tertulis di buku." Ruan Zu balas berbisik.


Tangannya dengan nakal masuk ke baju Bai Ling sengaja menggoda Bai Ling di depan Du Zi yang selalu merasa cemburu.


"Apa bagusnya Ruan Zu itu? Keluarganya telah di eksekusi, ku dengar bibinya yang bermarga Bai hidup merana di keluarga Lin. Anak-anak perempuan itu juga mengalami nasib yang mengerikan, keluarga Lin juga tidak sekaya dulu lagi semenjak mereka memiliki masalah dengan keluarga Kekaisaran Yuhuan." Du Zi berbisik pada pelayan yang berada di sebelahnya.


Ruan Zu yang mendengar itu hanya menatap tajam Du Zi lalu menyeringai kejam, lidahnya bergerak memutar bibirnya seolah dia sedang memakan sesuatu yang lezat. Hal itu membuat Du Zi mencibir jijik, Du Zi mengambil buah yang ada di atas meja memakannya dengan lahap mengabaikan pandangan tajam yang diberikan Ruan Zu padanya.


"Tuan berpesan pada hamba agar Anda berdandan dengan cantik nanti malam, Nona! Ada perayaan yang akan dilakukan Tuan untuk Anda, bisa jadi Tuan Bai Ling akan mengumumkan tanggal pernikahan kalian." Pelayan itu berbisik sembari terus memijat kaki Du Zi.


(Maafkan daku baru update, badan kurang enak, flu mata mengantuk.😷😷😷🤒🤒🤒)