Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#214


Adakah yang rindu aku, maafkan diriku yang tidak muncul-muncul lagi ke permukaan, hehehe bukan nggak kangen kalian tapi kondisi aku emang lagi mengalami masalah. Tapi aku baik-baik ajak kok, masih tetap bernapas sampai sekarang dan masih akan tetap bertahan.


###


Zixia dengan lahap menyantap makanan itu, dengan tangan tersembunyi di belakang punggungnya Zixia meneruskan makannya. Zixia bahkan tidak peduli dengan pria yang mengerang kesakitan itu, baginya yang terpenting sekarang adalah mengisi perut agar dia memiliki kekuatan untuk bertahan dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Beri aku sedikit minuman!" pinta pria itu lemah, dia berusaha untuk duduk meski masih merasakan pusing yang begitu mendera kepalanya.


"Minum? Boleh saja tapi setelah itu kau harus mengatakan di mana tempat ini dan siapa kau? Kenapa kau dikejar-kejar oleh orang itu dan apa yang telah kau lakukan?" Yuhua melempar botol minuman yang entah dia dapatkan darimana itu.


Pria itu langsung mengambil botol minuman yang terbuat dari tulang itu, entah bagaimana cara Yuhua menyusunnya tapi saat dilempar air yang ada di dalam botol tidak tumpah sedikitpun ke luar. Pria itu dengan cepat menyesap minuman yang ada hingga menyisakan setengah, dia mengeringkan mulutnya dengan lengan pakaiannya yang bersih lalu melempar botol itu lagi pada Yuhua.


"Terima kasih sudah membantu diriku! Aku pelayan salah satu pangeran kerajaan, mereka adalah orang-orang yang menginginkan nyawa pangeran itu karena akan mendapatkan imbalan yang begitu besar dari ratu yang saat ini berkuasa. Saat ini pangeran bersembunyi di tempat yang aman dan aku harus meminta bantuan orang lain secepatnya sebab pangeran sedang mengalami luka yang cukup fatal." Pria itu menjelaskan.


"Kau bisa ilmu pengobatan? Kau tahu obat-obatan, tolong bantu aku! Negeri kami kekurangan ahli pengobatan, ahli pil dan ahli peracik ramuan. Mereka semua mati mendadak beberapa puluh tahun yang lalu, sekarang kami bahkan tidak bisa membedakan mana obat asli dan mana obat yang palsu." Pria itu bersujud di kaki Yuhua.


Kegembiraan tertulis jelas di wajahnya, pucat yang tadi terlihat jelas sudah menghilang digantikan dengan rona merah samar yang diliputi kegembiraan. Pria itu tampak menghembuskan napas lega, dia bersyukur perjuangannya untuk mencari bantuan tidak sia-sia sama sekali.


Yuhua tampak heran, dia mencoba memikirkan benua yang sesuai dengan karakteristik yang disebutkan pria di depannya lalu terkejut. Ada satu benua yang dia ketahui dari si kupu-kupu ungu, di mana para ahli pengobatan mati tiba-tiba, jejak yang tersisa juga tidak ditemukan seolah mereka menghilang tanpa jejak.


"Apakah ini benua Qi? Kenapa kami sampai terlempar ke benua ini? Apa yang terjadi sebenarnya? Portal apa dan siapa yang telah membukanya hingga kami bisa terlempar ke sin" Yuhua tampak heran.


Hanya satu benua yang bisa melakukan ini tapi benua itulah sudah lama diam dan tidak peduli dengan benua lain, apakah ada masalah di benua itu hingga sekarang mereka mulai ikut campur. Yuhua tampak terkejut sekaligus heran, pasti ada masalah yang terjadi hingga mereka bisa terlempar ke benua ini.


Yuhua menatap Zixia yang sibuk makan, dia juga melirik pria itu yang sibuk menatap piring yang dipegang Zixia, meski iba akan pria itu tapi Yuhua juga tidak berani merebut makanan Zixia.