Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#112


Liu Yan merasa senang ketika merasakan antusiasme pria di depannya dalam mencari kesenangan. Liu Yan memberikan kesenangan pada pria di atasnya agar semakin ketagihan, gelapnya ruangan membuat Liu Yan tidak bisa melihat dengan jelas wajah pasangannya.


Bagi Liu Yan yang terpenting saat ini adalah melayani pria di atasnya sebaik mungkin agar keinginannya semakin cepat terpenuhi. Ke-duanya bergerak semakin liar saat hampir mencapai puncak kesenangan, Liu Yan merasa gembira dengan pengetahuan yang diberikan oleh ibunya, Bai Yan.


Jika bukan karena pelajaran itu dia tidak akan bisa memuaskan pasangannya saat ini. Tujuan Liu Yan yang ingin menggantikan Liu Zixia membuatnya buta, Liu Yan terus berpacu mencari kesenangan tanpa tahu kalau nasibnya telah diputuskan oleh seseorang.


"Sayang, aku sudah mengirim anak tidak tahu untung itu pada keluargamu. Dia dijadikan selir Paman ke-tigamu, apakah kau puas dengan tindakan yang aku lakukan?" tanya Liu Zhang dengan lembut pada Du Zi.


Liu Zhang merasa berhutang budi pada Du Zi karena di saat keluarganya terpuruk, Du Zi rela mengeluarkan uang untuk membantu. Apalagi Du Zi sudah membuktikan kalau Liu Yan bukan anaknya, Du Zi juga membantu Liu Zhang memikirkan rencana yang bagus untuk menurunkan Bai Yan.


"Bagus, Paman ketiga akan menjaga dia dengan sangat baik. Bagaimana dengan Nyonya Liu? Aku takut dia akan marah dan mencariku jika tahu semuanya adalah ide yang aku berikan padamu," ujar Du Zi dengan tubuh bersandar lemah pada Liu Zhang.


Du Zi bertindak manja, usia Du Zi yang terbilang masih muda memang saat ini sedang dalam masa segarnya. Du Zi juga memiliki wajah cantik dengan daya pikat tersendiri hingga bisa dengan mudah menaklukkan hati Liu Zhang.


"Nyonya Liu apa? Kau tenang saja! Sebentar lagi gelar sebagai Nyonya Liu akan jatuh padamu," bujuk Liu Zhang lembut.


Liu Zhang mengusap punggung Du Zi pelan, seolah takut jika dia menggunakan terlalu banyak kekuatan maka tulang lunak Du Zi akan patah. Liu Zhang tidak memperhatikan raut wajah serta senyum yang tercipta di bibir Du Zi sepintas lalu itu.


"Bagaimana dengan selirmu yang lain, Tuan? Anak-anakmu juga, apakah mereka akan mau menerima diriku?" tanya Du Zi hati-hati.


Air mata kesedihan yang menggenangi pelupuk mata Du Zi membuatnya terlihat menyedihkan hingga seseorang akan mengiba. Hancur luluh sudah perasaan Liu Zhang saat melihat itu, ia mendekap erat tubuh Du Zi dalam pelukannya berusaha menenangkan.


Rasa jijik melintas di mata Du Zi sesaat sebelum menghilang dan digantikan dengan air mata kesedihan. Du Zi enggan disentuh oleh pria tua seperti Liu Zhang, tapi demi balas dendam ia harus rela melakukan semua ini.


"Kapan aku bisa keluar dari kamar pengap ini? Aku tidak nyaman di sini, tidak ada cahaya matahari yang masuk. Aku juga biasanya memiliki pelayan di sampingku yang membantu aku mandi serta membersihkan kamar." Du Zi terlihat sedih.


Ia menatap sekeliling kamar seolah memindai, kamar kecil itu memang tidak layak untuk ditinggali terlalu lama. Tidak ada perabotan di dalam sana kecuali tempat tidur kecil hanya untuk satu orang. Bahkan meja kecil untuk meletakkan makanan saja tidak ada sama sekali di sana.


Liu Zhang tersenyum kecil, ia membelai lembut rambut panjang milik Du Zi. "Besok kau bisa pindah ke kediaman yang kau inginkan, tapi aku belum bisa menjadikanmu Nyonya Liu besok sebab aku harus mengurus Bai Yan terlebih dahulu agar posisi milikmu aman. Kau mau kan bersabar sebentar lagi?" bujuk Liu Zhang dengan penuh kasih sayang.


Du Zi mengangguk, ke-duanya kembali bercerita sebelum pada akhirnya masuk ke sesi olahraga kembali. Di malam hari, Bai Yan merasakan kedinginan di ruang kayu bakar. Sejak tadi dia terus digilir oleh beberapa pria suruhan Liu Zhang.


Bai Yan bersandar dengan lemah pada tumpukan kayu bakar dengan kaki masih terbuka lebar. Bagian intinya masih berdenyut, cairan putih kental masih ke luar membasahi pahanya yang memiliki jejak merah dan ungu.


Saat Bai Yan merasa penderitaannya telah berakhir, dua pemuda kembali masuk ke dalam ruang kayu bakar. Ke-duanya menggosok tangan dengan penuh semangat saat melihat posisi Bai Yan yang menantang.


"Aku sudah lelah, kalian bisa datang esok pagi untuk bersenang-senang. Lagipula aku belum makan apapun, jika Tuan Tua tau kalian akan dimarahi. Meski dia menyerahkan diriku pada kalian aku masih nyonya di sini, jabatan milikku belum dicopot sama sekali." Bai Yan mencoba bersuara meski terdengar lemah.


"Kau tenang saja, kami membawakan makanan untukmu. Tapi setelah makan kau harus memuaskan kami sebagai balasan atas kebaikan yang kami berikan padamu." Pemuda itu berjalan mendekat sedangkan yang satu lagi ke luar untuk mengambil makanan.