Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#35


Ye Lian merasa senang dengan Yu Zixia yang tidak lagi menjaga jarak dengannya.


Mereka terus melangkah menyusuri jalanan menuju ke arah bukit yang terletak agak jauh dari pemukiman penduduk.


Di atas bukit terlihat sebuah padepokan kecil yang asri. Di sekitar padepokan itu ada tanaman setinggi gerbang tempat itu.


Mereka melewati jalan setapak menuju ke atas bukit yang ditepisnya ditanami bunga berwarna-warni yang terkesan mencolok dengan daerah sekitar.


"Aku merasa pemilik tempat aneh!" gumam Yu Zixia berbisik ke telinga Ye Lian.


"Setiap orang punya selera yang berbeda-beda Sayang!" Ye Lian tersenyum kecil. Sifat Yu Zixia benar-benar belum berubah.


Mereka sampai di depan tempat itu, Ye Lian mengetuk pintu sebanyak tiga kali dengan sabar dan menunggu pintu terbuka dari luar.


"Siapa yang kau cari?" tanya suara orang dari dalam tanpa menampakkan wajahnya sedikitpun.


"Si ahli pedang dan beladiri yang kabarnya tinggal di sini. Aku mendapatkan alamatnya tempat dia tinggal dari seseorang dan orang itu juga menitipkan surat untuknya." Ye Lian mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.


Yu Zixia memerhatikan sekeliling, tempat ini terasa nyaman dengan suasana asri yang membuat orang betah untuk tinggal.


Ada beberapa pohon batang persik yang sedang berbuah.


"Masuklah!" perintah suara itu.


Ye Lian mendorong pintu perlahan sembari memegang tangan Yu Zixia erat.


Ketika pintu dibuka aroma dupa yang menyebar langsung masuk ke dalam hidung Ye Lian dan Yu Zixia membuat perasaan tenang dan rileks.


"Terasa menyegarkan aroma obat-obatan dicampur dengan wewangian ini," bisik Yu Zixia lembut tanpa sadar.


"Tentu saja," jawab Yu Zixia cepat.


Bagaimana mungkin dia tidak tahu, Ru Ansan saja yang berada di dalam ruangan sudah heboh ingin keluar dan menikmati tempat ini.


"Ini adalah tanaman obat penghilang stress dengan wewangian penenang jiwa jika dicampurkan bisa memberikan ketenangan dan juga menghilangkan masalah yang kita rasakan." Pria itu tersenyum dengan wajah lembutnya.


"Ah, aku kira kau adalah pria yang berumur sangat tua." Yu Zixia mengangguk ringan saat melihat pria berbaju biru awan di depannya.


Wajah lembut dan ketenangan sikap yang diperlihatkan oleh pria ini tidak sesuai dengan nama si ahli pedang dan ahli beladiri yang selama ini disandangnya.


"Memangnya hanya pria tua saja yang bisa disebut ahli?" tanya pria itu sembari mendekati tempat Yu Zixia dan Ye Lian berdiri.


Insting melindungi Ye Lian langsung aktif namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sesuai dengan kata-kata pria di depannya adalah orang yang mampu mengajari Yu Zixia dengan cepat.


"Tidak," geleng Yu Zixia sembari melihat ke sekeliling tidak menghiraukan pesona pria di depannya.


Melihat hal itu Ye Lian merasa tenang dan damai.


"Tinggallah semalam di sini! Aku ingin melihat kemampuan kalian seperti apa hingga bisa sampai dianjurkan oleh pria itu ke sini."


Melihat Yu Zixia mengabaikan dirinya pria itu melangkah pergi, sekejap mata dia sudah tidak lagi terlihat di depan mereka berdua.


"Di mana kita akan tinggal?" tanya Yu Zixia malas. "Pria itu tidak masuk akal sedikitpun, dia menyuruh kita menginap tapi dia tidak memberi tahu dimana kita akan tidur."


"Di manapun tidur asalkan bersamamu sudah cukup bagiku!" goda Ye Lian dengan senyuman lembutnya.


Hal itu sukses membuat Yu Zixia merona malu