Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#130


Awalnya gadis yang menjadi istrinya ini tidak peduli padanya, sedikit pun dia tidak terpengaruh oleh ketampanan miliknya yang bisa menggoda siapa saja. Melihat wajahnya tidak bisa memasuki mata gadis di depannya rasa penasaran mengusik hati Lin Yunzia.


Lin Yunzia mengikuti langkah kaki gadis itu seolah ingin tahu ke mana dia pergi, sepanjang jalan Lin Yunzia terus memikirkan apakah pesona miliknya sudah luntur sampai si gadis berhenti di sebuah restoran sederhana. Gadis itu melangkah ke dalam, memberikan senyum sopan pada penjual yang menemuinya sebelum duduk manis di kursi paling sudut.


Seolah ada yang mengetuk pintu hatinya, Lin Yunzia juga ikut masuk ke restoran sederhana itu. Dia duduk tidak jauh dari si wanita tepatnya ia duduk di bagian depan si wanita menghadap langsung ke wajahnya.


Gadis itu tetap tidak peduli, dia dengan sabar membuka buku yang dibawanya tanpa ada niat memerhatikan Lin Yunzia sama sekali. Lin Yunzia sampai menyentuh wajahnya beberapa kali akibat rasa penasaran yang terus menghantui dirinya.


Ketika makanan diletakkan di atas mejanya , si gadis mengucapkan terima kasih. Ia meletakkan buku yang tadi di bacanya ke samping mengambil makanan itu. Ia makan dengan lahap tanpa peduli pada citranya sama sekali, seolah dia telah biasa menjadi tontonan bagi semua orang.


Saat pelayan meletakkan makanan di atas meja Lin Yunzia, ia menatap pelayan itu sambil melayangkan pertanyaan aneh. "Permisi! Bisakah kau melihat apakah ada yang salah dengan wajahku? Apa aku tidak terlihat tampan lagi?" tanya Lin Yunzia penasaran.


Pelayan itu terkekeh ketika mendengar pertanyaan Lin Yunzia sembari menggelengkan kepala. "Kau terlalu tampan, Tuan! Tidak ada yang salah dengan wajahmu, mungkin itu hanya perasaanmu saja."


Pelayan itu menjawab dengan sopan sebelum berlalu pergi menjauh meninggalkan Lin Yunzia yang termenung sembari menyentuh wajahnya, sebenarnya ada yang membedakan antara dirinya dengan Lin Yuhua dan itu ada di tahi lalat serta tanda di kening mereka. Semenjak berganti tempat dengan Lin Yuhua dia terpaksa menyamakan bentuk wajah mereka agar semua orang tertipu.


Akan tetapi sekarang dia ingin menggunakan wajahnya sendiri untuk memikat hati wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan, Lin Yunzia berjalan ke kamar mandi yang ada di restoran itu sebelum dengan cepat kembali ke bentuk wajah aslinya.


Di kening Lin Yunzia ada semacam bentuk kristal tetapi berwarna biru laut berbeda dengan Lin Yuhua yang memiliki warna merah darah. Ada tahi lalat di bawah matanya sedangkan Lin Yuhua tidak memiliki itu semua, warna rambut keduanya juga berbeda, Lin Yunzia berwarna biru sesuai dengan kristal di keningnya sedangkan Lin Yuhua bewarna merah darah.


Aura yang dikeluarkan oleh Lin Yunzia juga jauh berbeda dengan aura yang dimiliki Lin Yuhua, kecantikan yang mereka perlihatkan hampir sama tapi tetap saja ada beda yang dapat dilihat jika diperhatikan dengan saksama. Lin Yunzia duduk kembali di meja tempat ia memesan makanan, ia makan dengan mata tetap melihat gadis cantik di depannya yang sedikit pun tidak merasakan tatapan yang ia berikan.


Saat gadis cantik itu mengangkat kepala pandangan matanya bertemu dengan tatapan Lin Yunzia, ke-duanya tertegun lama saling pandang memandang. Dunia seolah berhenti di antara ke-duanya, tenggelam di dalam keindahan mata masing-masing.


Tiba-tiba gadis cantik itu tersadar sebelum rona merah manja terbentuk di pipinya, ia menunduk dengan senyum canggung terbentuk. Gadis itu tidak berani mengangkat kepalanya lagi, ia takut pandangan mata mereka akan kembali bertemu lagi.


"Bolehkah aku tahu siapa namamu, Nona?" tanya Lin Yunzia lembut sembari mengulurkan tangan.


Gadis itu mengangkat kepalanya dengan canggung, ia melihat tangan terulur di depannya. Ia dengan ragu-ragu mengangkat tangannya, Lin Yunzia yang melihat itu langsung melangkah maju mengambil tangan itu takut gadis di depannya berubah pikiran.


"Zhang Ziyi," ucap gadis itu dengan senyum canggung.


"Namaku Lin Yunzia salam kenal, apakah saya boleh duduk di dekatmu?" tanya Lin Yunzia dengan tawa lembut.


Lin Yunzia tanpa menunggu jawaban Zhang Ziyi langsung duduk di kursi tepat di sebelah kiri. Lin Yunzia memperhatikan apa yang dilakukan Zhang Ziyi hingga membuat Zhang Ziyi malu.


"Apa ada yang salah dengan penampilanku? Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Zhang Ziyi pada akhirnya meski rona merah cerah timbul di wajah cantiknya.


"Tidak ada, aku melihat dirimu terlalu cantik. Seolah dunia hanya berputar di sekitar dirimu," ungkap Lin Yunzia jujur.


Satu tangan Lin Yunzia bertumpu di dagunya dengan kepala miring melihat tindakan Zhang Ziyi.