Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#122


Liu Zixia mencoba menahan amarahnya sebisa mungkin agar tidak meledak, "letakkan makanan itu di atas meja! Kalian bisa pergi setelahnya," perintah Liu Zixia setenang mungkin.


Liu Zixia menunggu semua makanan selesai dihidangkan, ia dengan tenang duduk di tempatnya tadi tanpa mengabaikan kehadiran orang-orang di dalam ruangan yang terus melihat ke arah dirinya dengan tatapan meminta jawaban. Pelayan yang sudah menyelesaikan pekerjaan masing-masing sudah pergi lebih dulu meninggalkan kamar pribadi tanpa banyak bicara.


Akan tetapi Liu Zixia tahu bahwa mereka pasti akan berbicara di luar mengatakan ini dan itu tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Liu Zixia yang sejak tadi duduk tenang langsung berdiri setelah pintu ditutup oleh pelayan yang pergi paling akhir, dia menatap penuh kebencian pada dua pria yang melontarkan kebohongan tadi.


"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau membuat kebohongan yang begitu menjijikan? Dan kau, kenapa kau malah membantu dia?" Liu Zixia menodongkan pertanyaan tanpa henti seolah meluapkan kemarahannya.


Kedua pria itu tertawa kecil sebelum pada akhirnya pria yang bertindak menyedihkan itu memperbaiki pakaiannya, jejak sobek masih dapat dilihat saat semuanya telah terpakai dengan benar. Pria itu langsung berdiri, ia berjalan menuju ke arah Liu Zixia membuat Liu Zixia mundur tanpa sadar.


"Hukum di setiap kekaisaran berbeda, seperti Yuhuan yang membiarkan pria mengambil istri lebih dari satu Angkrea yang membiarkan wanita memiliki pria lebih satu kerajaan kami juga punya hukum sendiri. Pria sama dihormatinya seperti wanita, mereka bebas memilih untuk bisa menikahi satu suami maupun suami bebas memiliki lebih dari satu istri tapi setiap hak kami dilindungi tanpa ada ketidakadilan." Pria tampan yang bajunya terbuka tadi duduk di kursi yang kosong.


Ia menatap Liu Zixia dengan berbagai macam ekspresi sebelum senyum cemoohan terbit di bibirnya. Niat jahat serta tersembunyi pria itu dapat dilihat dengan jelas oleh Liu Zixia yang berhasil membuatnya semakin marah.


"Jangan bilang kalau kau berasal dari kerajaan Yang? Kau ...," tunjuk Liu Zixia kehabisan kata-kata.


Dimanfaatkan ternyata rasanya benar-benar tidak enak sama sekali, pria itu tertawa semakin keras saat Liu Zixia berhasil menebak darimana dia berasal.


"Kau tahu, rakyat biasa saja di kerajaan kami harga dirinya begitu dijaga. Bahkan gelandangan saja mendapatkan keadilannya apalagi diriku yang seorang pangeran ini. Jika kabar aku dilecehkan oleh Permaisuri Yuhuan tersiar kira-kira hal apa yang akan terjadi." Pria itu tersenyum lebar memperlihatkan kelicikannya yang sejak tadi tidak ia tutupi sama sekali.


Ia duduk di tempat tidur yang ada di kamar pribadi itu dengan sombong seraya memperlihatkan seruling putih yang sejak tadi tergantung di pinggangnya. Liu Zixia benar-benar murka kali ini, tuduhan yang disampaikan pemuda ini meski Liu Zixia sanggah tidak akan bisa diperbaiki.


Bocah lelaki di depannya sungguh pintar mencari lokasi yang tepat untuk menjebak. Liu Zixia geram, andai saja dia tidak meninggalkan suaminya maka kejadian bodoh seperti ini tidak akan terjadi.


"Aku tidak melakukan apapun padanya, kau mau bicara apa itu tidak akan mempengaruhi diriku," tutur Liu Zixia dengan nada tenang.


Ia mulai mengambil hidangan yang tersedia di atas meja tidak lagi mempedulikan dua orang yang duduk di sekitarnya itu. Baru saja memasukkan beberapa makanan ke dalam mulutnya pintu kembali dibuka dari luar dengan dorongan keras.


Dari balik pintu muncul wajah Lin Yuhua diikuti wajah lainnya yang sangat dikenali oleh Liu Zixia. Melihat wajah suaminya tanpa sadar air mata Liu Zixia jatuh, Liu Zixia menatap Lin Yuhua dengan penuh keluhan membuat kemarahan Lin Yuhua menghilang dalam sekejap mata.


"Tenanglah! Ada aku di sini maka semua akan selesai," bujuk Lin Yuhua lembut. Ketiga suami Liu Zixia yang lain juga mendekat untuk membujuk istri mereka yang tengah bersedih.


"Aku tidak melecehkan dirinya, aku juga tidak mau menambah suami lagi." Liu Zixia menyampaikan keluh kesahnya dengan nada mengiba.


Hal itu sukses membuat Lin Yuhua menatap tajam pada dua orang yang ada di dalam ruangan. Tadi di jalan Lin Yuhua dan yang lainnya sudah mendengar gosip yang beredar, itu sebabnya mereka terburu-buru ke sini untuk melihat Liu Zixia.