Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#87


Angin kencang dengan hawa dingin terasa di depan mulut gua, Bai Ling mencoba menekan kemarahan yang sebentar lagi akan meledak ke luar dari dalam hatinya.


"Katakan lagi!" perintah Bai Ling dengan nada tidak suka.


"Identitas Nona Ruan telah diketahui oleh semua orang, semua kejahatan dan perbuatan buruknya telah menyebar dengan cepat pada kerajaan lain."


"Mati kau!" Bai Ling mengeluarkan kekuatan kuat yang melesat dari dalam tubuhnya dan langsung mengenai dada pria itu.


Ia terlempar jauh, darah segar ke luar dari bibirnya sebelum ia kejang-kejang. Bai Ling mendekat, sebuah pedang dari kekuatan miliknya ke luar di tangan Bai Ling.


Pedang itu langsung memotong leher pria yang melapor menyebabkan ia berhenti berkedut dan mati tanpa tahu apa kesalahannya. Bai Ling menggerakkan tangannya lagi, kali ini yang muncul adalah sebuah api berwarna biru dan hitam di atasnya.


Ketika api itu menyentuh tubuh pria yang tergeletak di tanah seketika ia langsung melahap tanpa sisa. Tubuh itu menghilang, api berwarna aneh itu juga ikut padam setelah tidak ada lagi yang bisa ia bakar.


Bai Ling masuk kembali ke dalam gua, saat ini Ruan Zu sudah menghisap gadis ketiga. Dua tubuh gadis yang kehidupannya telah diserap kering mayatnya keriput, wajahnya terlihat seperti nenek berumur 100 tahun.


Bai Ling membiarkan Ruan Zu menyelesaikan target ketiganya, Ruan Zu terlihat puas begitu ia selesai mengeringkan kehidupan gadis ketiga. Seperti dua mayat sebelumnya, kondisi gadis ini juga tidak kalah menyeramkan.


"Kita harus pergi!" ujar Bai Ling.


Kali ini Bai Ling menarik tangan Ruan Zu untuk segera berdiri dari posisi duduknya yang santai dan tenang.


Ruan Zu menepis debu yang tidak ada di pakaiannya saat ia berhasil berdiri dengan sempurna.


"Kita tidak bisa kembali ke sana, ada seseorang yang membongkar identitas dirimu. Kau berada dalam bahaya saat ini, Sekte Hitam juga sudah menjadi incaran mereka sekarang." Bai Ling menarik tangan Ruan Zu untuk segera meninggalkan gua.


Di saat Ruan Zu sedang lari ketakutan karena di kejar oleh banyak orang. Liu Zixia saat ini telah selesai memeriksa semua kamar yang ia persiapkan.


Liu Zixia saat ini tengah duduk di meja makan menikmati daging binatang yang bisa menambah energinya. Liu Zixia makan ditemani oleh ke-empat suaminya, masing-masing duduk di kursi yang sudah ditentukan oleh Liu Zixia.


Lin Yuhua adalah yang paling malang, Liu Zixia mengerjai dirinya dengan alasan kehamilan hingga memaksa Lin Yuhua duduk menjauh dari posisinya makan. Wajah Lin Yuhua menghitam karena marah, ia kesal melihat ketiga orang itu melayani Liu Zixia dengan sangat baik.


"Makanlah yang banyak! Kau harus menjaga bayi di dalam kandunganmu agar tetap sehat." Ye Lian meletakan berbagai menu makanan ke mangkuk milik Liu Zixia.


Long Ze dan Ling Zhi sesekali akan ikut mengisi mangkuk Liu Zixia dan terkadang akan di balas oleh Liu Zixia dengan cara yang sama.


"Malang sekali," ejek Ru Ansan dengan tawa kecil saat melihat kesedihan Lin Yuhua.


Ru Ansan saat ini tengah duduk di sebelah Lin Yuhua makan, Ru Ansan terus memperhatikan wajah masam Lin Yuhua yang diabaikan oleh Liu Zixia.