
"Pelayan seperti dirimu berani berlagak sombong di depanku, mana Liu Zixia? Aku akan memberinya pelajaran, berani sekali dia melakukan hal seperti ini padaku." Liu Yan berteriak marah.
Tangannya terkepal penuh kemarahan saat melihat orang-orang di depannya, kebencian Liu Yan terhadap Liu Zixia semakin meningkat saat melihat kepura-puraan orang-orang didekatnya. Liu Zixia yang duduk di atas pohon mencoba menahan tawa sekuat mungkin.
'Betapa bodohnya, hahahaha ... dia benar-benar tidak bisa membaca situasi. Jauh berbeda dari ibu dan kakaknya yang murahan serta banyak taktik,' ejek Liu Zixia di dalam hati.
"Siapa yang kau katakan pelayan? Nyonya! Izinkan kami menghukum selir rendahan ini, dia sungguh tidak tahu kebaikan dan tempatnya." Pelayan di sisi Nyonya Du melangkah maju.
Badannya terlihat kuat, tegap serta memiliki banyak tenaga. Nyonya Du di sisi lain menatap Liu Yan penuh kemarahan, baru kali ini dia diteriaki sebagai pelayan dan itu berasal dari seorang selir tanpa status sama sekali.
"Pukul dia! Pukul sampai dia tidak bisa dikenali sama sekali oleh anggota keluarganya, setelah selesai kalian jual dia ke rumah bunga bukan ke rumah budak. Pastikan dia disentuh oleh puluhan laki-laki setiap hari," perintah Nyonya Du.
Kemudian dia berbalik pergi dengan langkah cepat.
"Kalian berani? Aku ini meski hanya selir tapi tetap saja aku merupakan Selir Kaisar, jabatan milikku lebih tinggi dari kalian. Kalian bisa dihukum mati seluruh keluarga jika menyentuh anggota kerajaan," ancam Liu Yan.
Selangkah demi selangkah Liu Yan mencoba mundur ke belakang saat melihat pelayan itu tidak mundur sama sekali malah tertawa senang saat melihat ketakutan Liu Yan.
"Tunggu pelayan Yang, bukankah dia akan dijual ke rumah bunga? Bagaimana kalau kami mencicipi dirinya terlebih dahulu? Kami akan memberikan kau perak sebagai upah tutup mulut, bukankah pelayannya mengatakan kalau dia masih perawan saat disentuh Tuan. Itu artinya dia masih sempit," ujar beberapa pelayan pria dengan air liur menetes.
Pelayan Yang tampak berpikir lama, melihat wajah buruk rupa Liu Yan serta keganasan yang dia miliki sebuah keputusan yang menguntungkan muncul di benaknya. Dia melihat kiri dan kanan untuk memastikan sebelum menutup pintu halaman yang tadinya terbuka lebar.
"Mana peraknya?" tanya pelayan Yang sembari mengulurkan tangan.
Ke-empat pemuda itu merogoh baju mereka mengeluarkan perak yang didapatkan dari gaji mereka. Pelayan Yang menerima semua itu sebelum berlalu pergi dia menatap tajam ke arah Liu Yan sembari menyunggingkan senyuman menakutkan.
Sigap, cepat dan tanpa perlawanan mereka berhasil menarik Liu Yan ke kamar satu-satunya yang ada di halaman itu. Liu Yan berteriak dan meronta meminta dilepaskan, air matanya yang jatuh membuat ia tampak menyedihkan sekaligus menyeramkan.
Jika bukan karena dia perempuan mungkin pelayan laki-laki ini tidak akan mau menyentuhnya untuk mencari kesenangan. Dua tangan Liu Yan diikat ke tempat tidur membuat Liu Yan seperti domba yang siap disembelih kapan saja.
Liu Yan terus berteriak apalagi saat satu demi satu pakaian yang ia kenakan dirobek dengan paksa. Tubuh putih Liu Yan dengan banyak bekas merah serta ungu terpapar jelas di wajah para pria yang terlihat seperti serigala kelaparan.
Tanpa sadar mereka langsung menyerbu ke depan untuk menjadi yang pertama setelah tuan mereka tentunya. Liu Yan merintih saat tangan-tangan nakal itu menyentuh dirinya di sana sini memberikan Liu Yan kesenangan.
Saat Liu Zixia masih betah untuk melihat kesenangan yang terjadi tiba-tiba kedua telinganya ditutupi oleh seseorang. Rasa hangat menjalar di leher Liu Zixia saat nafas penuh hasrat disemprotkan.
"Nakal, bukankah aku sudah melarangmu untuk mendengar suara kenakalan seperti ini? Anak kita bisa ikut kotor pendengarannya," ujar Lin Yuhua kesal.
Dengan satu gerakan, Liu Zixia sudah berada di dalam gendongan Lin Yuhua. Mereka terbang jauh dari sana meninggalkan tempat itu dengan cepat tanpa melihat lagi ke belakang. Nasib Liu Yan sudah ditentukan, dia pasti tidak akan bertahan lama.
Gadis dengan ego tinggi seperti Liu Yan pasti akan memilih mati daripada dijual ke tempat bordil. Liu Zixia memeluk leher Lin Yuhua erat, mereka kembali ke penginapan dengan cepat tanpa halangan sama sekali.
"Di mana Kakak?" tanya Liu Zixia heran saat ia tidak menemukan keberadaan Liu Zhong di penginapan.
"Dia mencari Bai Za yang telah melarikan diri, Bai Za harus diberi pelajaran. Hanya dia yang selamat dari hukuman penjara, musuh tidak bisa dibiarkan hidup satupun karena itu akan membahayakan kita semua." Lin Yuhua berbicara santai.
Liu Zixia yang mendengar semua itu mengangguk senang, "ayo kembali ke istana! Biar bagaimanapun Bai Yan tidak akan bertahan lama. Dia sudah berada di tangan yang tepat saat ini, setelah semua selesai orang-orang suruhanku sendiri yang akan menghancurkan keluarga Liu. Dengan pewaris keluarga yang sudah rusak maka harapan keluarga Liu sudah tidak akan ada lagi."
Liu Zixia bersandar dalam pelukan Lin Yuhua sembari memejamkan mata dengan nyaman. Lin Yuhua mengangguk, dia mencoba mencari Ling Zhi untuk menyelesaikan pembayaran penginapan agar bisa pergi dari sana secepat mungkin.