Dendam Sang Permaisuri

Dendam Sang Permaisuri
#156


"Ya sudah, buka saja cadarmu itu! Kau berisik sekali, untuk Yuhua tidak ada. Kalau kau seperti ini di depannya sudah pasti kau akan diterbangkan ke luar." Long Ze yang tidak tahan akan kebisingan yang disebabkan oleh Ru Ansan akhirnya angkat suara.


"Nah, kalau seperti itu kan bagus. Lagipula aku beserta istrimu hanya duduk di kereta saja, kalau istrimu wajar menyembunyikan wajah serta identitas miliknya yang spesial. Kalau aku, aku hanya orang asing yang tidak pernah muncul jadi mereka tidak akan pernah tahu siapa aku." Ru Ansan tersenyum senang, dengan cekatan tangannya membuka penutup wajah yang baru saja dia pasang.


Ru Ansan begitu gembira ketika mendapatkan kebebasannya, ia membuka jendela kereta untuk melihat pemandangan luar. Pria yang berada di belakang kereta Liu Zixia mengeluarkan token miliknya, ia menyerahkan token itu pada penjaga yang selalu mengikuti dirinya.


"Aku dengar ada jalur masuk khusus bagi mereka yang memiliki identitas spesial, kau perlihatkan token ini pada penjaga gerbang. Katakan kereta yang ada di depan juga kereta milik kita!" Dengan sombong pria itu bersandar ke kereta.


Rambut panjangnya yang berwana putih terlihat memikat, bajunya yang terbuka di bagian atas tampak menggoda membuat dirinya seperti rubah kuno yang telah lama hilang dengan pesonanya sendiri.


"Baik, Tuan Muda!" jawab penjaganya dengan tegas.


Ia turun dari kereta membawa token dengan gambar bunga Peony itu dengan hati-hati seperti ia membawa seorang bayi. Token ini tidak pernah dikeluarkan oleh tuannya bahkan di saat genting sekalipun. Kali ini karena mengejar seorang wanita tuannya dengan rela tanpa keengganan sama sekali mengeluarkan token ini.


Dia berjalan ke depan, mengangkat token itu membuat prajurit yang berjaga terkejut bukan main. "Silakan lewat sini!" ucap si prajurit dengan senyum.


"Ya," jawab pria itu datar.


Long Ze yang malas mengantri mengangguk menerima tawaran itu, ia menunggu kereta di belakang untuk berjalan terlebih dahulu baru mengikuti. Kereta lain yang mengantri sejak tadi tampak iri, andai saja mereka memiliki identitas khusus juga.


Setelah sampai di dalam desa Rawajati, Long Ze dengan tulus turun dari kemudi untuk mengucapkan terima kasih, senyum di wajahnya membuat para gadis di sana memerah. "Terima kasih sudah membantu kami masuk ke dalam desa ini. Kami tidak mengira kalau pengawasan di sini telah diperketat."


"Sama-sama, kami sebenarnya akan pergi ke benua atas setelah ini namun memilih beristirahat sebentar di desa ini. Jika kalian bertujuan sama dengan kami kalian bisa ikut," balas pria di dalam kereta.


"Kami akan melihat terlebih dahulu, kalau yang kami cari tidak kami temukan di sini kemungkinan besar kami memang akan pergi ke benua atas." Long Ze mengangguk, ia berbalik hendak pergi.


"Kami tinggal di penginapan terdekat dari pintu masuk, ke benua atas harus memiliki token khusus. Tidak semua orang bisa pergi ke sana," tukas pria itu lagi. "Jalan! Cari penginapan terdekat," perintahnya kemudian pada pengemudi kereta.


Long Ze tidak lagi berbalik, ia terus melangkah menuju kereta miliknya. Duduk di kursi kemudi memegang tali kekang kuda lalu menghentak dengan kuat agar kuda berjalan.


"Siapa mereka?" tanya Ling Zhi tampak heran, susah untuk menilai seseorang apalagi kereta yang digunakan pihak lain sama seperti kereta mereka tanpa merek ataupun lambang.


"Entahlah, tapi melihat ketakutan di wajah prajurit tadi jelas kalau mereka bukan orang biasa." Long Ze menjawab apa adanya.